Catatan Pilkada Aceh 2017 (bagian empat)

Zaini Abdullah-Nasaruddin Kalah Telak, Tapi Timses ‘Menang’

Zaini Abdullah-Nasaruddin Kalah Telak, Tapi Timses ‘Menang’
The Globe Journal

Banda Aceh |  Nasib apes ini persis sama, seperti dialami Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan pada Pilkada Aceh 2012 silam. Dia kalah telak dari pasangan calon Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (ZIKIR). Roda kemudian berputar, pada Pilkada 2017, Irwandi justeru ‘memukul’ telak perolehan suara Zaini Abdullah atau akrab disapa Abu Doto.

Menariknya, tinta hasil perhitungan suara ‘belum kering’. Eeh, sejumlah tim sukses serta pemenangan Abu Doto justeru buru-buru balik arah, mendukung Irwandi Yusuf. Tak jelas, apakah langkah ‘cari selamat’ itu ada izin (restu) dari Abu Doto atau tidak. Yang pasti sosok Abu Doto sendiri bukan tanpa catatan terhadap Irwandi Yusuf.

Sebelumnya, Jumat, 10 Februari 2017 atau H-5 di Hotel Lading, Banda Aceh. Abu Doto sempat menuding bahwa calon Gubernur Aceh Nomor Urut 6 Irwandi Yusuf sebagi narapidana. Kata Abu Doto, ketika merumuskan naskah perjanjian damai antara  pemerintah RI dengan GAM di Helsinki, Finlandia. Irwandi meminta dirinya menjadi tim perumus. Namun karena status Irwandi sebagai narapidana, maka ia tidak diizinkan masuk pada acara itu. “Jadi waktu penandatanganan perjanjian itu, Irwandi cuma tidur-tiduran di hotel, tidak benar Irwandi masuk tim, sebab di situ ada Hamid Awaluddin dari Pemerintah RI, bisa ditangkap dia,” ungkap Abu Doto yang terkesan menepis peran Irwandi dalam proses perdamaian.

Dia juga menyebutkan, dulunya Irwandi cuma bisa pakai Vespa butut tapi sekarang sudah pakai pesawat sendiri. “Naik pesawat kemana-mana itu sudah menjadi kebanggaan buat dia, biarlah dia bangga naik-naik pesawat saja,” canda Abu Doto dihadapan seratusan saksi yang hadir. Begitupun, kontestasi demokrasi lima tahun bertajuk; Pilkada Aceh 2017 berakhir sudah. Walau belum ada keputusan akhir dari KIP Aceh. Namun, perolehan hasil sementara berdasarkan KPU Pusat. Pasangan Zaini Abdullah-Nasaruddin hanya meraih suara 7,11 persen, jauh dibawah paslon Tarmizi Karim-T Machsalmina Ali (15,81 persen).

Hasil ini memang sudah diprediksi sejak awal oleh banyak kalangan. Bahkan, ada yang memberi saran agar Abu Doto tak usah maju dan menjadi orang tua bagi sejumlah paslon. Namun, entah karena keinginannya sendiri atau keluarga dan para pembisiknya, Abu Doto nekad mencari peruntungan kedua pada ajang Pilkada 2017. Hasilnya? Jeblok dan terjun bebas.

Perolehan suara ini memang terkesan miris, sebab Abu Doto adalah calon petahana yang tidak saja menguasai jaringan birokrasi, tapi juga logistik (dana) yang relatif memadai. Namun, fakta dan data justeru berkata lain. Abu Doto boleh kalah dari kursi Aceh-1. Tapi, tim sukses dan tim pemenangan justeru tetap 'menang' alias berhasil mengiring, mendorong dan memuja-muja Abu Doto, agar mereka bisa menarik 'syafaat' dari calon petahana tertua diantara lima paslon lainnya.***

Komentar

Loading...