Dibalik Petisi Gerakan Masyarakat dan Mahasiswa Peduli Simeulue (GM2PS)

X-File Dugaan Peristiwa “Mesum” 2001

X-File Dugaan Peristiwa “Mesum” 2001
Peristiwa Pengerebekan Rumah Kos di Banda Aceh 2001 silam (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)

Sepekan, usai aksi demontrasi terhadap Erli Hasyim, terkait video mesranya dengan seorang perempuan yang diakui telah nikah siri.  Masyarakat di Sinabang, disuguhi catatan kronologis (setengah versi) BAP dan foto dugaan perbuatan “mesum” yang dilakukan Afridawati, Wakil Bupati Simeulue tahun 2001 silam di Banda Aceh. Upaya serangan balik?

“CATATAN hitam” ini termuat pada empat lembar kertas folio. Salinannya juga dikirim ke redaksi media ini, awal Juli 2019 lalu, dalam amplop tertutup tanpa nama pengirim. Dimulai dengan mengutip keterangan beberapa sumber. Lalu, berbagai cerita pun mengalir.

Syahdan, hari itu, Senin, 31 Desember 2001. Mencurigai ada aktivitas di satu rumah kos-kosan di pinggiran Kota Banda Aceh. Warga di kawasan tersebut menaruh curiga bahwa ada yang tidak beres dari penghuni rumah kontrakan tadi.

Lalu, beberapa warga melaporkan kecurigaan ini pada seorang aparat kepolisian berinisial Zul, yang tinggal di Asrama Polisi (Aspol) Kebun Kelapa, Jalan Pocut Baren, Kelurahan Gampong Laksana, Kota Banda Aceh. Tak jauh dari lokasi kejadian.

Saat itu, Zul masih bertugas sebagai Kepala Unit Reserse di Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Ulee Lhue, Banda Aceh. Laporan warga melalui telpon kepada Zul menyebutkan,  di satu rumah kos, yang ditempati seorang pria di kelurahan tersebut,  sedang dikunjungi dua orang tamu wanita.

Warga di sana menaruh curiga karena di rumah kosan itu, sedang terjadi perbuatan “mesum” atau khalwat. Kecurigaan tadi memuncak, karena pria yang menempati rumah kosan tadi, masih lajang (belum menikah). Bahkan, satu diantara dua wanita ini, sering mendatangi rumah pria lajang itu pada siang hari dan langsung masuk ke dalam rumah.

Warga yang melapor pada Zul tulis kronologis ini menyebut, pria lajang itu adalah T, seorang karyawan swasta di PT.TTF, Punge Blang Cut, Banda Aceh. Selain itu, T juga sebagai  guru salah satu cabang olah raga bela diri tenaga dalam di Banda Aceh.

Kepada Zul, warga juga mengaku pernah membuntuti wanita yang sering mengunjungi T. Ternyata, wanita tersebut kerap mengendarai mobil KIA sedan warna merah maron. Mobil itu selalu di parkir pada depan Toko Obat Mustajab, Peunayong Banda Aceh.

Dari depan toko, wanita tadi menumpang becak mesin, mengunjungi rumah T. Mendengar laporan warga tadi, Zul bertanya nomor polisi mobil yang dikenderai wanita itu. Disebutkan; BL 321 AF. Nah, saat itu, Zul terperanjat. Sebab, dia tahu dan mengenal pemilik mobil tersebut. Dia pun berjanji akan segera menindaklanjuti laporan warga ini.

Lalu, Zul menghubungi seorang pria bernama Riz, yang juga saudara dari wanita tadi. Zul meminta Riz untuk segera datang ke rumahnya. Tak lama kemudian, Riz tiba di rumah Zul.

Kepada Riz, Zul menceritakan laporan yang disampaikan warga. Saat itu, Riz juga terperanjat. Dia tak percaya mendengar laporan tadi. Bahkan, dia juga tahu siapa pemilik mobil BL 321 AF ini.

Begitupun, untuk menghindari fitnah sepihak dan ingin membuktikan kebenaran dari laporan tersebut,  Zul dan Riz, mendatangi rumah kos yang dicurigai, sambil membawa kamera foto analog merek Olympus.

Sekira pukul 16.20 WIB, Zul dan Riz tulis kronologis ini, sudah berada di depan pintu rumah kos T, melakukan pengerebekan. Zul berada di depan pintu sebagai pelaksana pengeberekan, sedang Riz memegang kamera untuk mengabadikan kejadian tersebut, sebagai bukti otentik telah terjadinya perbuatan “mesum”.

Saat pintu didobrak. Masya Allah! Zul dan Riz menemukan seorang wanita sedang (maaf) berhubungan badan dengan T, di lantai beralaskan kasur tipis warna biru. Diduga, wanita bersama T itu adalah Afridawati atau akrab disapa Wati. Statusnya saat itu, istri seorang pejabat di Kabupaten Simeulue.

Ketika itu, dia didampinggi seorang wanita lain yaitu teman, sekaligus ajudannya. Saat pengerebekan terjadi, sang ajudan sedang berbaring di atas tempat tidur yang disekat dengan sehelai kain seprai, sambil menonton televisi. Sekat itu dibuat agar adegan panas yang dilakukan insan berlainan jenis ini tidak terlihat oleh sang ajudan tadi.

Saat itu, Zul dan Riz langsung terperangah melihat adegan mesum ini. Dan seketika, Zul menarik kamera di tangan Riz dan memotret kejadian langka ini. Akibat pengerebekan tadi, T dan wanita yang diduga Afridawati ini, segera membenahi diri, menutup tubuhnya dengan kain seperai yang ada. Sementara, sang ajudan menangis saat dimintai keterangan oleh Zul, yang juga seorang anggota polisi.

Benarkah semua tuduhan itu? Sayang, Afridawati tak mengunakan hak jawab dan hak klarifikasi yang diberikan media ini. Maklum, tanggal 26 Juli 2019, media ini telah melakukan konfirmasi kepada Afridawati melalui nomor telpon seluler miliknya; 813-6868xxxx. Namun dia tak menjawabnya.

Tak berhenti di sini. Redaksi media ini juga berusaha untuk mengkonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp (WA). Hasilnya tetap saja tak berbalas, walau pesan yang dikirim, terlihat sudah dibaca oleh Afridawati.

Nah, agar tidak menimbulkan fitnah di tengah masyarakat, termasuk memenuhi petisi dalam tuntutan massa yang melakukan aksi demontrasi hari ini di DPRK setempat, sebaiknya Afridawati memberi penjelasan dan klarifikasi kepada masyarakat di sana dan media pers. Tak sulitkan? (selengkapnya baca Liputan Khusus pada edisi cetak pekan ini).***

Komentar

Loading...