Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Abaikan Dampak Limbah

Warga Tetap Budidaya Ikan di Waduk Keude Aceh

Warga Tetap Budidaya Ikan di Waduk Keude Aceh
Abaikan dampak buruk limbah berbahaya, ratusan warga tetap membudidaya keramba ikan di Waduk Keude Aceh (Foto: Din Pasee)

Lhokseumawe I Meski hasil Analisis Dampak lingkungan (AMDAL), Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Kota Lhokseumawe menyatakan waduk Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe mengandung limbah berbahaya. Namun warga di sana tak peduli dan tetap membudidaya ikan dalam waduk setempat.

Kondisi miris itu tak lepas dari ratusan warga di Kecamatan Banda Sakti yang hingga saat ini masih menggantungkan pendapatan hidupnya di waduk tersebut dengan usaha membudidaya keramba berbagai jenis ikan.

Akibatnya, ada ratusan keramba ikan yang tampak menjamur dalam sebagian besar air waduk raksasa serta petani keramba ikan memetik hasil panen ikan atau udang.

Abdullah, salah seorang warga Desa Pusong mengaku. Keberadaan waduk raksasa telah menjadi tempat cari makan bagi sebagian besar masyarakat lingkungan sekitarnya seperti Gampong Keude Aceh, Pusong dan Mon Geudong.

Umumnya warga melakukan budidaya keramba ikan dan sebagian lainnya mencari udang atau tiram maupun tempat memancing bagi orang yang menyalurkan hobi.

Abdullah mengaku, pada dasarnya warga sendiri sudah menyadari dan mengetahui soal bahaya dampak lingkungan hidup dari limbah yang dikandung air waduk.

Sayang, karena kebutuhan hidup sehari-hari sehingga menjadikan waduk sebagai tempat mengais rezeki. Itu sebabnya, warga mengabaikan resiko yang ada. Mereka tetap bertahan dan melanjutkan usaha budidaya keramba ikan atau mencari tiram dan udang dalam waduk raksasa itu.

“Kami tahu dan pernah mendengar soal bahaya limbah yang ada dalam waduk. Tapi mau gimana lagi, budidaya keramba ikan sudah kita kelola hampir tujuh tahun lebih. Rasanya tidak mungkin dipisahkan antara keramba ikan dengan waduk. Karena waduk menjadi tempat kami mencari rezeki,” ujarnya.

Kadis BLHK Lhokseumawe Dedi Irfansyah melalui Kabid Afdal Lindayani mengatakan. Sesuai hasil analisis menunjukkan bahwa waduk rakaasa mengandung banyak limbah berbahaya. Termasuk limbah logam jenis merkuri dan limbah kimia, B3 dometik dan lainnya. Ini berarti, keberadaan limbah bisa menimbulkan dampak buruk lingkungan hidup di sekitarnya.

Agar warga tidak terkena dampak lingkungan limbah, maka sangat dilarang mengexplorasi air dalam waduk raksasa.

Menurut Lindayani, limbah logam jenis merkuri merupakan paling berbahaya dan dampak buruknya akan timbul dalam waktu jangka panjang atau efeknya tidak langsung dirasakan.

Karena limbah merkuri merupakan jenis logam yang tidak bisa dicerna dan akan menetap dimana pun berada. Misal, budidaya ikan dalam waduk, tentunya ikan telah mengkonsumsi limbah merkuri dan bila sudah panen dikonsumsi masyarakat hingga limbah merkuri berpindah dalam tubuh manusia.

Nah, bila dikonsumsi secara berkelanjutan maka limbah merkuri akan mengendap sepanjang masa dan bila sudah menumpuk tentu akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan manusia.

“Dampak buruk limbah merkuri tidak terasa langsung tapi dampak buruknya akan merusak kesehatan dalam jangka waktu yang panjang. Sehingga warga harus menyadari dampak buruk limbah yang ada dalam waduk tersebut,” paparnya.

Komentar

Loading...