Proyek Asal Jadi dan Terancam Ambruk

Warga Diimbau Waspadai Bangunan Monumen Islam Samudera Pasai

Warga Diimbau Waspadai Bangunan Monumen Islam Samudera Pasai
Monumen Islam Samudera Pasai. (Foto: IStockphoto)

Aceh Utara | Diduga, karena dibangun asal jadi dan tidak sesuai spesifikasi dalam rancangan anggaran biaya (RAB), sehingga terancam ambruk. Maka warga diimbau berhati-hati dan tetap waspada bila mendekati bangunan Monumen Islam Samudera Pasai di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. 

Himbauan ini disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Utara, Dr Diah Ayu Hartati, Jumat (6/8/2021). Dia juga mengaku, akan mengungkap kasus dugaan korupsi pada proyek pembangunan monumen Samudera Pasai yang menelan biaya Rp 20 miliar serta melibatkan sejumlah perusahaan ini.

Makanya, Diah mengimbau agar warga berhati-hati dan tetap waspada bila berkunjung ke lokasi objek wisata monumen tadi, karena dikhawatirkan bisa ambruk seketika. 

Proyek Monumen Samudera Pasai di Kecamatan Samudera Pasai Kabupaten Aceh Utara senilai Rp 20 miliar oleh sejumlah perusahaan dibangun asal jadi, Jumat (6/8), terancam ambruk. Tampak salah satu pondasi dilapisi asbes dengan besi gepeng.

“Kita imbau warga agar waspada terhadap bangunan Monumen Samudera Pasai. Karena dibangun asal jadi, karena bila hari Minggu, banyak warga yang berkunjung ke situ. Dan, ketika naik ke lantai dua bisa ambruk seketika itu,” tegasnya. 

Diah mengaku sangat perihatin dengan kondisi proyek semegah ini. Namun pondasinya sangat lemah dan hal ini sangat membahayakan apabila terjadi gempa, bahkan gempa kecil sekali pun.

“Saat di lapangan, kami melihat sudah retak, bangunannya bergeser. Begitu juga dengan pekerjaan tanah telah terjadi pergeseran. Pekerjaan tanah yang harusnya 12.800 meter kubik hanya 3000 meter kubik dan ini sangat mengkhawatirkan untuk keselamatan. Kemudian ada adendum tentang perubahan desain,” terangnya.

Kajari juga menyampaikan, sejumlah poin penyimpangan dalam kasus tersebut.

Menurutnya, kasus tadi telah memenuhi unsur dugaan korupsi dengan sengaja yang memperkaya diri sendiri dan orang lain.

“Kami terus berkoordinasi dengan BPKP terkait auditing kerugian negara. Tetapi dari ahli konstruksi, kami perlukan penjumlahan volume-volume pekerjaan. Untuk sementara kerugian negara Rp20 miliar,” ujar Diah.

Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Utara, Dr Diah Ayu Hartati.

Terkait kasus itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan ⁰Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh dan kini menjadi perhatian serius, sehingga Kajati meminta untuk sementara waktu ditutup akses pengunjung ke monumen Islam Samudera Pasai.

“Kita sedang berkoodinasi dengan Pemda untuk sementara waktu menutup akses pengunjung ke Monumen Islam Samudera Pasai, karena sangat membahayakan bagi pengunjung dengan kondisi yang terjadi saat ini,” jelas Dr Diah Ayu Hartati.

Dalam mengusut kasus korupsi itu, kejaksaan telah menetapkan lima tersangka masing-masing, F selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Ir N selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Ir P selaku pengawas dan dua rekanan masing-masing berinisial R dan T.

Terhitung tahun 2012 hingga 2017, total anggaran proyek tersebut mencapai Rp 49.162.787.000 dengan pengerjaan yang dilakukan bertahap oleh beberapa perusahaan.

Dirincikan, diawal pelaksanaan tahun 2012, proyek tersebut dikerjakan PT PNM dengan angggaran Rp9,5 miliar. Berlanjut tahun 2013, Rp8,4 miliar yang dikerjakan PT LY.

Tahun 2014 dikerjakan PT TH dengan anggaran Rp4,7 miliar, tahun 2015, Rp11 miliar dikerjakan PT PNM, tahun 2016 dikerjakan PT TH, Rp9,3 miliar dan tahun 2017, Rp 5,9 miliar dikerjakan PT TAP.***

Komentar

Loading...