Dibalik Imbauan Mawardi Ali

Waled Husaini: Saya Tidak Tahu Karena tak Diajak!

Waled Husaini: Saya Tidak Tahu Karena tak Diajak!
Foto: klikkabar.com
Rubrik

Banda Aceh I Pengakuan mengejutkan kembali datang dari Wakil Bupati Aceh Besar Tgk Husaini A.Wahab atau akrab disapa Waled Husaini, terkait imbauan Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, menghentikan aktivitas penerbangan selama hari pertama perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.

“Saya tak bisa memberi pendapat, karena saya tidak tahu dan diajak. Bagaimana saya memberi pendapat, kalau tidak diberitahu dan diajak. Bisa salah dan berdosa saya,” kata Waled Husaini. Pernyataan itu disampaikan Waled Husaini, menjawab konfirmasi media ini, Minggu (28/7/2019) siang.

Sebelumnya, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali melalui suratnya kepada Pimpinan PT. Angkasa Pura II, pengelola Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), meminta perusahaan (BUMN) ini untuk menghentikan aktivitas penerbangan selama hari pertama perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.

Tujuannya, menghormati pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Imbauan ini diterbitkan Bupati Mawardi Ali dalam surat yang dikirim kepada manajemen Angkasa Pura II, Nomor: 451/2019, tanggal 24 Juli 2019.

Isinya, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mengimbau seluruh maskapai yang melakukan lepas landas (take off) dan mendarat (landing) di Bandara Sultan Iskandar Muda, menghentikan seluruh aktivitas pada saat hari pertama Idul Fitri dan Idul Adha, mulai pukul 00.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB.

“Hanya untuk 12 jam, berlaku pukul 00.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB, pada hari H (Hari Raya Idul Adha),” kata Mawardi dalam konferensi pers di rumahnya, Jumat petang (26/7/2019).

Diakui Waled Husaini, walau pun imbauan itu atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh  Besar, tapi dirinya tidak dilibatkan. “Saya tahu dari orang ketika ada yang bertanya kepada saya. Saya jawab tidak tahu, karena saya tidak terlibat,” tegas Waled berulang-ulang.

Waled pun tak mampu menjawab dan memastikan apakah imbauan tersebut ada dibahas dalam rapat Forkopimda serta MPU dan ulama dayah maupun pesantren di Aceh Besar. “Bisa saja ada dan saya tidak tahu. Tapi soal itu saya tidak tahu. Dengan saya tidak ada pembicaraan soal itu,” ujarnya.

Waled Husaini berpendapat. Imbauan itu baik dan bagus dalam bingkai pemberlakuan syariat Islam. Tapi, shalat Idul Fitri dan Idul Adha hukumnya sunat. Alangkah eloknya sebut Waled, jika ada imbauan agar maskapai penerbangan menunda keberangkatan setelah shalat Jumat.

Sebab, itu hukumnya wajib. “Saya kira itu lebih baik. Harusnya mari kita duduk dan minta pendapat dulu dengan MPU ada juga ulama HUDA. Harusnya seperti itu,” saran Waled.

“Kalau mau lebih jeli, hari Jumat itu sering pesawat terbang pukul 12.30 WIB. Harusnya itu lebih afdal jika kita himbau untuk terbang setelah shalat Jumat,” tambah Waled.

Katanya, penjelasan ini sekaligus sebagai jawaban dari sejumlah pertanyaan yang disampaikan ulama dayah dan pesantren kepada dirinya. Termasuk mahasiswa, pemuda serta santri.

“Kalau Anda tanya pada saya, saya tidak tahu, karena saya tidak terlibat. Banyak ulama dayah dan HUDA bertanya, saya jawab tidak tahu, karena memang saya tidak diajak untuk membicarakan bersama,” papar Waled.

Menurut Waled, harusnya sebelum imbauan itu dikeluarkan, diajak duduk bersama. “Kita duduk bersama. Ada Muspida, MPU dan ulama. Tapi ya sudahlah, nanti kalau saya bicara dibilang saya memanaskan suasana,” kata Waled sambil tertawa di ujung telpon seluler.

Dijelaskan Waled. Dirinya tidak bermaksud untuk memanaskan suasana. “Saya tidak memanaskan suasana, tapi negeri ini (Aceh Besar) memang harus dijalankan bersama-sama, tidak bisa sendiri. Kita berharap, Aceh Besar dan rakyatnya selalu dalam ridha dan lindungan Allah SWT,” ucap Waled.

Memimpin satu negeri kata Waled, bukan hanya diminta pertanggungjawaban di dunia, tapi juga akhirat. “Kita semua berharap, Aceh Besar selalu dalam ridha Allah SWT. Tak lebih dari itu”. Terkait adanya perselisihan dan pergesekannya dengan Bupati Mawardi Ali. Kata Waled.

“Masalah saya dan Bupati ada perselisihan tentu benar adanya dan saya tetap berpegang pada prinsip,  yang benar itu tetap benar dan yang salah pasti akan hancur pada satu saat. Sebab, Allah SWT berpesan dalam Al-Qur’an; bermusyawarah lah dalam banyak hal atau kebijakan”.

“Saya berdoa selalu negeri Aceh Besar dan rakyatnya lebih baik dan taat. Kesejahteraan rakyat meningkat. Itu menurut saya, tapi saya tidak tahu dengan orang lain”.

Nah, benarkah Bupati Mawardi Ali berjalan sendiri dengan imbauannya itu? “Yang saya tahu, baik dari MPU Aceh maupun MPU Aceh Besar kepada saya mereka mengatakan tidak ada rapat atau diajak duduk bersama. Kalau ada  tentu akan tertulis pada dasar surat imbauan tadi. Termasuk pertimbangan dari Forkopimda. Itu berarti tidak ada. Tapi saya tidak tahu, mungkin saja ada dan saya tidak diajak,” tegas Waled kembali.

Itu sebabnya, Waled Husaini mengaku tak mempersoalkan proses lahirnya imbauan tadi. “Pemikiran saya sederhana saja, jangankan kita jalankan pemerintahan, dengan istri pun kita harus bertanya dan bermusyawarah. Misal, masak apa kita hari ini, asam keueng atau gule pilek? Ikan sambal atau ikan asin? Jika tidak, tentu berbeda selera,” ujar Waled, kembali tertawa.

Nabi Besar Muhammad SAW, rasul yang dijamin Allah SWT dan ahli surga, juga bermusyawarah dengan para sahabat. Begitu juga sahabat setelah rasul wafat. Jadi, apa pun keputusan dan kebijakan, harusnya dimusyawarahkan. Dengan melibatkan banyak orang dan pihak, tentu banyak saran dan pendapat yang kita dapatkan. Tidak bisa kita jalankan pemerintahan seorang diri. Sebab, pemikiran kita terbatas,” kata Waled.

“Begitu juga dengan saya. Tolong Anda kritik jika Anda nilai saya mulai melenceng dan salah arah. Katakan, Waled, jangan kencang sekali, di depan ada jurang. Alhamdulillah. Saya senang kalau ada yang kritik. Sebab, saya tidak cukup ilmu,” ucapnya merendah.

Diakui Waled Husaini. “Saya ndak boleh marah dan anti kritik. Sebab untuk kebaikan diri saya dan rakyat. Kritik itu juga sebagai tanda orang per orang atau masyarakat masih sayang kepada kita. Bahaya sekali jika orang tak mau lagi mengkritik dan membiarkan kita jalan sendiri.

Jika tidak hati-hati, sadar dan mawas diri pasti tidak baik. Jika rakyat Aceh Besar tak mau lagi mengkritik kita, maka mereka sudah tak sayang lagi dan benci pada kita”.

“Saya berharap sekali ada kritik dari kawan-kawan, baik wartawan, ulama maupun intelektual. Kritik dan ingatkan saya agar tidak melenceng dan jatuh ke jurang. Beri saya masukan. Satu hal yang selalu saya ingat, jabatan ini adalah amanah Allah SWT dan rakyat,” ujar Waled Husaini, mengakhiri pembicaraan.***

Komentar

Loading...