MODUSACEH.CO, X-File (Bagian II)

Waled Husaini: Kenapa Saya Dibohongi dan Dizalimi?

Waled Husaini: Kenapa Saya Dibohongi dan Dizalimi?
Foto: Dok. MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik
Sumber
Reporter Banda Aceh

Kabarnya Waled juga mendapat jatah proyek?

Demi Allah dan haram jika ada. Misal ada 200 paket, saya diberi 50 paket saja, sudah syukur Alhamdulillah. Saya bisa bantu tim yang patut. Tapi tidak ada dan saya harus beri apa kepada mereka (tim), yang telah memenangkan kami.

Bukan berarti saya mau ambil fee. Nggak ada urusan dengan fee-fee dan memang tidak boleh. Tapi, ada orang yang harus kita bantu ya dibantu. Nyatanya, sampai hari ini belum satu orang pun yang bisa saya bantu. Sedih saya. (Waled sesaat tertunduk. Muncul  kesan penyesalan mendalam dari raut wajahnya).

Proyek di Lampanah?

(Wajah Waled kembali tegak, seketika dia kaget). Tidak ada, kalau ada orang bilang pernah dimana dan siapa orangnya? Coba tunjukkan. Memang saya pernah diisukan ada proyek yang diberikan kepada Waled.

Sebenarnya seperti apa?

Ceritanya begini, saya datang ke Lampanah. Nah, di sana satu gampong namanya, Lenggak dan saya melihat langsung ke lapangan ada bendungan yang sudah patah. Kalau tahun ini tidak buat, maka masyarakat akan gagal panen.

Saya bilang pada Kadis PU, Yusmadi. Tolong buat segera. Dan, setelah di hitung-hitung anggarannya Rp 2,7 miliar. Mungkin, karena saya perintahkan, maka mereka anggap itu proyek saya.

Atau sebutlah itu kerjaan saya. Apakah sudah 2 tahun jadi Wakil Bupati pantas mendapatkan Rp 2,7 miliar? Apalagi saya tidak terima. Dan, siapa pekerja proyek tadi, sampai hari ini saya tidak tahu orangnya.

Proyek lain mungkin?

Memang saya dengar ada yang kasih kode WB (Wakil Bupati) pada proyek tertentu. Artinya; Wakil Bupati. Demi Allah, saya tidak tahu juga! (Wajah Waled kembali serius).

Waled kecewa?

Tentu, terutama pendukung saya dari kalangan dayah, pesantren dan santri. Misal, Bupati merekrut para santri untuk ikut ngajar ba’da zuhur. Kebijakan ini pun tidak diajak saya. Padahal itu sangat fatal. Kalau nanti yang ngajar membawa ajaran sesat, siapa yang tanggung jawab? Saya akan dimaki-maki ulama Aceh Besar. Mereka bilang; Waled ada disitu kenapa bisa begitu? Padahal saya nggak ikut. Jadi, ada kesan memang sengaja ingin membunuh karakter saya di depan ulama dan dayah.

Jadi semua komitmen dan kesepakatan dari awal tidak ada?

Tidak ada sama sekali (ucap Waled tegas). Hari ini kalau ada kegiatan saya tidak pernah diminta lagi untuk ikut dan membicarakannya bersama. Sebagai ganti diperintahkan staf ahli dan asisten-asisten. Maka, ada dinas yang telpon saya, meminta untuk membuka acara Dekranas. Saya bilang; coba tanya sama boss kamu dulu, jangan nanti kamu dimarahin, siapa suruh Waled.

Kenapa Waled lakukan itu?

Saya menyelamatkan orang lain. Dan saya sudah panggil kepala dinas terkait. Saya bilang; kalau kalian tidak berani masuk lagi ke ruangan saya nggak usah masuk. Tapi ketahuilah bahwa kalian bukan musuh saya, kita tetap kawan.

Lalu, apa yang membuat Waled marah?

(Waled menarik nafas). Saya bukan marah masalah proyek, tapi kenapa saya di bohongi dan dia zhalimi begini. Sebenarnya, kalau mau menzhalimi saya boleh, tapi ngomong dulu. Karena itu, saat saya dakwah dan ceramah agama di mana pun, selalu saya sampaikan secara blak-blakkan bahwa Mawardi itu pembohong, zhalim dan munafik! (Tiba-tiba terdengar suara azan shalat ashar. Waled minta izin sejenak. Usai melaksanakan kewajiban lima waktu. Waled kembali bercerita).

Tapi, kondisi ini akan semakin mempertajam konflik?

Itu memang fakta dan saya bertanggungjawab dengan ucapan saya. Mau berantam boleh, mau perang juga boleh. Jangan gara-gara saya marwah ulama-ulama di Aceh dan Aceh Besar khususnya jadi hilang (Waled kembali serius. Sambil menarik sebatang rokok, Waled memperbaiki posisi duduknya).

Saya duduk di kursi Wakil Bupati Aceh Besar mewakili ulama. Mereka yang mendukung dan berdoa agar marwah ulama lain juga terangkat. Tapi kalau begini dia perlakukan saya, saya sudah siap berjihad.***

Komentar

Loading...