MODUSACEH.CO, X-File (Habis)

Waled Huisani: Saya Siap Bertanggungjawab, Rakyat Aceh Besar Harus Bangkit Melawan Kezaliman!

Waled Huisani: Saya Siap Bertanggungjawab, Rakyat Aceh Besar Harus Bangkit Melawan Kezaliman!
Foto: Dok. MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik
Sumber
Reporter Banda Aceh

Karena itu juga Waled bicara keras di DPRK Aceh Besar?

Ya, saya sampaikan di gedung parlemen. Tolong kawal dan bawa serta “cambuk” pemerintah bila tidak jelas arah dan program pembangunan serta penegakkan syariat Islam di Aceh Besar. Termasuk praktek korupsi. Biar semua lebih jelas. Periksa semua pengunaan anggaran. Aceh Besar ini bukan milik nenek moyang dia. Tulis itu, saya yang bilang. (Suara Waled meninggi).

Itu juga saya sampaikan dalam berbagai ceramah seperti di Lhoknga. Saya bukan pengecut, dan itu kewajiban saya sampaikan bila pemerintahan berjalan tidak benar.

Nah, selama ini Waled sudah bertemu dengan Mawardi?

Tidak, sampai saat ini saya belum pernah ketemu. Dan saya tidak akan datang kepada dia. Dan sejak awal saya tidak minta jabatan Wakil Bupati. Dia datang ke Abon dan meminta saya. Untuk apa saya datang kepada pembohong! Saya serahkan kepada Allah SWT. Allah yang lebih tahu. Allah yang lebih mengetahui kerja hamba. Ingat, saya naik sebagai Wakil Bupati bukan untuk cari duit, tapi menjadikan Aceh Besar lebih baik.

Usai melaksanakan ibadah haji, adakah yang berubah dari seorang Mawardi Ali?

Tidak berubah, karena itu saya sudah siap dengan segala resiko. Saya bertanggungjawab. Mawardi itu pembohong dan munafik!

Kenapa Waled sebut pembohong dan munafik?

Memang dasar pembohong. Jika ada manusia yang lain di mulut dan perbuatan, apa itu namanya dalam Islam? Kalau ada kata orang saya kurang koordinasi. Buktinya saya sering koordinasi. Proyek PORA 2018 misalnya, saya tidak pernah merasakan apa pun. Tapi dalam rapat,  saya diminta wajib mensukseskan PORA karena di Aceh Besar. Namun siapa dan bagaimana, saya tidak paham.

Situasi masyarakat Aceh Besar saat ini bagaimana?

Sudah banyak yang resah. Maaf kemana-mana saya ceramah, rakyat mengeluh. Yang paling sedih anak santri saya dan ulama sera abu-abu. Mereka berdo’a hingga jam 3 pagi dan membaca yasin untuk kemenangan pasangan putih ketika itu. Ternyata hari ini, santri saya berlinang air mata karena gurunya dikhianati seperti ini. Mereka sangat marah. Karena itu, saya mohon maaf kepada ulama dan abu-abu serta santari, belum sanggup memenuhi hak kalian, saya hari ini sedang dizalimi. 

Ada ulama yang datang?

Banyak, dulu rumah saya paling sedikit tamu. Sekarang ulama-ulama datang. Saya harus tekan perasaan dulu, jangan dianggap nanti saya pengkhianat. Saya membuat anarkis. Tapi ketahuilah, rakyat Aceh Besar dan para ulama hari ini sudah panas dan tak tahan dengan kondisi yang ada. Mereka bilang; Waled, selamatkan Aceh Besar dan lawan kezaliman dari pembohong-pembohong. Karena itu saya ingatkan, jangan salahkan saya, karena saya hanya orang nomor dua.

Menurut Waled, apakah Mawardi Ali  terlalu percaya diri?

Ya, begitulah orang yang sudah lama berpolitik dan sombong. Secara lahiriah tidak ada lagi Wakil Bupati Aceh Besar. Memang itu telah dikondisikan dari awal. Itulah sifat munafik! Lain di mulut, beda di hati.

Tapi sayang masyarakat Aceh Besar Waled?

Saat ini memang kondisi masyarakat Aceh Besar paling sedih. Saya wajib ungkapkan perasaan ini. Karenanya, harus saya lawan kezaliman ini lewat dakwah saya, supaya masyarakat tahu persis apa yang sebenarnya terjadi.

Berarti Mawardi jalan sendiri?

Ya, dia jalan sendiri. Begitu angkuhnya dia luar biasa. Maka saya mohon doa dari ulama dan santri, semoga Allah SWT memberi saya kekuatan untuk berjihad, melawan kezhaliman ini.

Tidak ada ajak musyawarah dari Mawardi Ali?

Tidak, padahal itu perintah Illahi. Nabi yang Habibullah (kekasih Allah) saja bermusyawarah dengan sahabat Abu Bakar. Begitu Rasul wafat, Abu Bakar juga bermusyawarah denga Umar bin Khatab dan sahabat lainnya. Begitulah seterusnya.

Kalau Mawardi Ali?

Tidak dilakukan. Dia benar-benar munafik. Karena sesuatu  yang lahir dari musyawarah pasti benar dan belum tentu benar sesuatu yang kita putuskan tanpa musyawarah. Ingat, kita ingin Aceh Besar menjadi negeri yang; baldatun tayyibatun warabbun gafur! Negeri yang baik dan mendapat pengampunan dari Allah. Tapi dia tidak paham soal ini (Suara Waled merendah).

Apa karakter dari Mawardi Ali yang Waled pahami?

(Suaranya kembali tinggi). Angkuh dan tidak perlu musyawarah, apalagi dengan rakyat. Dan itu juga terjadi pada diri saya. Sekdakab Aceh Besar juga saya lihat sudah mulai bermain. Tapi, tunggu akan dihancurkan Allah. Hebat sekali Fir’un dan Namrud, tapi satu detik masuk lalat dalam hidung, hancur mereka.

Pesan Waled kepada rakyat Aceh Besar?

(Waled diam sejenak). Mari bangkit bersama-sama, melawan kezaliman. Rakyat wajib lawan dan jangan berpangku tangan. Setelah dipilih, kami wajib dijaga dan awasi. Saya dan Mawardi diangkat dan dipilih rakyat Aceh Besar sebagai Bupati dan Wakil Bupati, bukan karena dipilih keluarga. Rakyat Aceh Besar ingin perubahaan. Ternyata, Mawardi angkuh luar biasa.

Tapi kenapa santri dan rakyat diam?

Saya minta mereka tenang dan jangan anarkis. Saat itu kita hadapi Pilres 2019. Jangan nanti menganggu suasana yang ada. Ingat, pendukung saya bukan diam, tapi mereka sudah sakit hati.

Kabarnya, santri menunggu komando dari Waled?

Bukan  hanya santri, tapi juga preman di Aceh Besar yang saya bina. Dulu tamu di rumah saya lima orang. Saat ini, 15 hingga 20 orang dan tak pernah putus. Mereka datang dan melihat Waled sedang musibah. Mereka takziah (menghibur) Waled. Ha.ha..ha (Waled tertawa). Saya ingin selamat Aceh Besar. Peugah lage but, pubut lage na (perkataan sesuai perbuatan dan berbuat sesuai ucapan).

Kondisi dan waktu Waled saat ini?

Terima kasih, kalau dulu saya mengajar sehari semalam satu waktu. Sekarang dengan tidak ada tugas apapun, saya bisa mengajar dua kali sehari. Sudah meringankan kerja saya, terima kasih kepada Mawardi Ali.

Kabarnya, Waled lebih sering di Kota Jantho?

Ya, Minggu dan Senin saya di Dayah,  selebihnya Selasa, Rabu,Kamis dan Jum’at saya di Kota Jantho. Hanya saya di sana, Bupati dan Sekda tidak ada. Padahal, mereka ada rumah dinas. Terima kasih, sudah meringankan kerja saya. Kalau dulu banyak kerja sebagai Wakil Bupati. Sekarang kembali ke dayah. Tapi, Mawardi Ali benar-benar menikmati jabatan. Masya Allah!.

Tanpa terasa, jarum jam sudah bergerak ke pukul 17.15 WIB. Saya mohon pamit lebih dulu kepada Waled Husaini yang masih disibukkan dengan menerima tamu dari berbagai elemen di D. Energy Cafe. Nah, apakah semua pengakuan Waled tadi akan menjadi “energy” perubahaan baru di Aceh Besar? Biar waktu menjawabnya.***

Komentar

Loading...