Hasil Rapid Test Berbeda dengan SWAB

Usai Pemakaman, Ternyata Abdullah Manyak Negatif Covid-19

Usai Pemakaman, Ternyata Abdullah Manyak Negatif Covid-19
Pemakaman Abdullah Manyak (Foto: Ist)

Aceh Utara | Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sikap pasrah kepada Allah SWT itu, terucap dari mulut keluarga Abdullah Manyak (53), seorang warga Desa Kuala Kereutoe, Kecamatan  Lapang, Kabupaten  Aceh Utara, Provinsi Aceh.

Bayangkan, bukan kematian yang disesali. Sebab, setiap yang bernyawa pasti akan menghadapi dan mengalami kematian. Tapi, keputusan dan analisa medis yang nyaris "ganda”, membuat keluarga almarhum Abdullah Manyak kecewa.

Bahkan, mereka sempat mau membawa pulang almarhum secara paksa. Namun, terhalang oleh aparat penegak hukum dengan alasan penerapan protokol penangganan Covid-19.

Sebelumnya hasil rapid test di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Mutia di Buket Rata, Kota Lhokseumawe korban dinyatakan positif. Namun, hasil SWAB dinyatakan negatif.

Ceritanya begini, Rabu, 27 Mei 2020 sekira pukul 12.00 WIB, Abdullah Manyak datang ke RSU Cut Mutia. Lalu, dia dirawat di Ruang Raudhah dengan diagnosis awal mengalami penyakit hepatitis.

Selanjutnya atau Jum'at, 29 Mei 2020. Kondisi Abdullah semakin memburuk. Namun, sebelum dirujuk ke RSUD dr. Zainoel Abidin Kota Banda Aceh. Nah, Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku, pasien diharuskan menjalani Rapid Test terlebih dahulu.

Hasilnya, Abdullah Manyak dinyatakan Reaktif Covid-19 atau positif. Karena itu, wajib menjalani isolasi, sesuai protokol penanganan Pasien Covid-19.

Begitupun, keluarga sempat menolak dan memaksa untuk membawa pulang Abdullah ke rumah. Namun, pihak RSU Cut Mutia melakukan koordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 Aceh Utara.

Berikutnya, bersama Dandim 0103 Aceh Utara, Kapolsek Blang Mangat, Camat Lapang Aceh Utara serta pihak rumah sakit, memberikan pemahaman pada pihak keluarga agar mau mengikuti SOP yang berlaku.

Setelah  dilakukan mediasi, pihak keluarga akhirnya bersedia mengikuti SOP protokol penanganan, sambil menunggu hasil Swab dari Balitbangkes Provinsi Aceh.

20200531-makam2

Foto: Ist

Nah, Sabtu, 30 Mei 2020 sekira pukul 02.00 WIB, pihak keluarga pasien akhirnya menerima masukan dari pihak rumah sakit umum. Namun Minggu, 31 Mei 2020, sekira pukul 07.30 WIB. Tim dokter RSU Cut Mutia menyatakan Abdullah Manyak telah meninggal dunia.

Mirisnya, saat proses pemakaman di Desa Kuala Kreutoe, nyaris tidak ada pelayat yang datang dan hadir. Kabarnya, warga yang berani mendekat, karena proses pemakaman dilakukan sesuai SOP dan prosedur penanganan Covid-19 seperti, membungkus jenazah dengan plastik anti menular. 

Sejumlah wartawan juga tidak ada satu pun yang berani meliput langsung ke lokasi pemakaman, karena tidak memiliki alat pelindung badan. 

Selain itu, pasca pemakaman,  semua warga sempat resah dan gelisah khususnya bagi warga dan keluarga yang sempat kontak langsung dengan almarhum.  Mereka takut tertular virus mematikan ini.

Direktur RSU Cut Mutia dr. Nuraida membenarkan satu pasien positif yang sedang diisolasi meninggal dunia dan telah diserahkan kepada Tim Gugus Tugas Penanganan Covid Kabupaten  Aceh Utara.  Katanya, saat ini telah dimakamkan sesuai prosedural penanganan Covid-19, agar virusnya tidak menular. 

Kata Nuraida, pasien dinyatakan positif sesuai hasil rapid test, karena itu perlu diisolasi sambil menunggu hasil swab.  Namun, sebelum  hasil swab turun pada pukul 17.00 WIB, pasien telah meninggal dunia.

Kepala Bagian Humas RSU Cut Mutia, Jalaluddin menjelaskan, pasien positif yang meninggal dalam penanganan rumah sakit tadi, diisolasi pada ruang khusus.  Namun diakui Jamaluddin, hasil swab pasien Abdullah Manyak ternyata dinyatakan negatif Covid-19 dan hasil ini sudah dikabarkan kepada tim Gugus Tugas Penanganan Covid Aceh Utara. 

Menurut Jalaluddin,  kejadian ini bukan karena kekeliruan,  tapi mungkin saat rapid test sebelumnya, pasien memang dalam kondisi lemah dan kesehatannnya memburuk hingga menunjukkan hasil positif. 

Memang, keluarga Abdullah Mansyak sempat protes dan menolak penerapan protokol penanganan pasien Covid-19 dan memaksa Abdullah dibawa pulang.  Keluarga mengaku bahwa, Abdullah sudah menderita sakit sejak tiga tahun lalu. Salah satu penyebab, karena pernah tertimpa pohon pinang sehingga membuatnya sulit bernafas. 

Bahkan, malam harinya,  keluarga Abdullah bersama seratusan warga desa, mendatangi RSU Cut Mutia. Mereka meminta Abdulllah untuk dibawa pulang secara paksa.  Namun niat itu tidak terlaksana karena TNI/Polri datang menghadang  dan memberi penjelasan serta pemahaman kepada keluarga dan seratusan warga yang ikut berdemo tadi.*** 

Komentar

Loading...