Tiga Ribu Bibit Pinang di Rumah Kabid Perkebunan Aceh Barat, Ada Apa?

Tiga Ribu Bibit Pinang di Rumah Kabid Perkebunan Aceh Barat, Ada Apa?

Meulaboh | Keberadaan bibit pinang betara di rumah Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Perkebunan dan Perternakan Aceh Barat, Zakaria telah menimbulkan sejumlah tanda tanya bagi sejumlah pihak.

Apalagi anggota DPRK setempat mulai menyorot kondisi tersebut. Lalu, dikaitkan dengan program pengadaan bibit pinang betara pada satuan kerja lembaga itu yang dimenangkan rekanan PT. Mustika Citra Utama tahun 2018 lalu.

Anggarannya mencapai Rp 2,8 miliar namun gagal, karena bibit yang disiapkan rekanan tidak bersertifikasi atau sesuai persyaratan. Hanya 29 persen saja dapat diterima dari total pengadaan.

Nah, setelah dilakukan pengecekan, ada tiga ribu bibit pinang betara yang ditempatkan di halaman samping rumah milik Kabid yang sudah dipagari dan tersusun rapi.

Sebelum menuju ke sana, media ini telah mengkonfirmasi kepada Zakaria. Setiba di kediamannya, terlihat pekerja sedang merapikan bibit itu dan tampak ketakutan serta gemetar ketika hendak dokumentasi atau foto.

“Bek deh kamo lam foto Bang, kamo han tem (jangan nampak kami dalam foto bang, kami tidak mau),” kata seorang pekerja yang tidak diketahui namanya.

Bahkan, mereka (pekerja) yang telah memasukkan bibit ke dalam kantong plastik berwarna biru seperti hendak dibawa, juga mengaku tidak tahu bibit itu milik dan untuk siapa.

Dia mengaku hanya diperintahkan untuk mengurus bibit pinang betara ini, namun tidak diketahui hendak diapakan dan dibawa kemana.

Beberapa awak media yang menerima informasi itu, menyambangi kantor dinas terkait. Setiba di sana, disambut Kepala Dinas, Said Mahjali. Saat ditanya dia pun mengaku tidak tahu memahu soal itu.

Alasannya, takut salah memberi keterangan, akhirnya ia memangil  Zakaria untuk memberi klarifikasi.

Kepada wartawan, Zakaria mengaku bibit pinang betara tersebut merupakan program pengadaan bibit tahun 2019 dengan nilai kontrak Rp 2,6 miliar dan dimenangkan rekanan CV. Mega Raya Persada.

Saat ini keberadaan bibit di tanah lapang miliknya, hanya sebagai tempat singgahan saja untuk dijadikan contoh (sampel) sebelum dilakukan serah terima 257 ribu batang. Hanya tiga ribu saja yang dibawa rekanan dari berbagai usia.

“Sebelumnya pihak rekanan ingin meletakan sekitar tiga ribu bibit itu di kantor. Namun tidak ada lokasi yang memungkinkan. Sebetulnya mereka hanya ingin menunjukkan kepada kami untuk mengantisipasi pinangnya seperti apa, karena pengadaan pinang selalu dianggap gagal, maka dibawalah sampel,” ujar Zakaria.

Ia menjelaskan, pihaknya hanya meminta sekitar seratus batang saja untuk dijadikan contoh. Entah apa sebabnya, rekanan membawa satu truk dengan jumlah ribuan bibit.

Namun, mereka dapat memakluminya karena tidak mungkin dibawa kembali oleh rekanan, sebab butuh biaya tambahan.

Pihak pemilik bibit tidak mau menyewa lahan karena beralasan tanggung, kecuali dibawa bibit semuanya. Maka dari itu, lanjut Zakaria, dicarikan solusi sehingga menggunakan lahannya untuk dijadikan tempat peletakkan sementara bibit pinang betara.

“Bibit di sana itu tidak ada hubungan dengan kita (dinas), karena kita belum terima. Tidak ada permainan apa pun di sini. Itu barang dia (rekanan) hanya dititip ditempat kita. Tidak perlu membayar sewa hanya titip saja. Bahkan kemarin ada yang datang ambil 10 batang, karena ada rekom pemilik ya silahkan, kita sesuai kontrak saja,” ujarnya.

Menurutnya, sampel tersebut sudah dilakukan pengecekan dan dianggap sesuai spek yang dibutuhkan dinas. Nantinya jika sudah valid maka akan dibawa semuanya ke Aceh Barat untuk segera disalurkan.

“Nanti sudah urusan mereka bukan lagi kami. Namun saat ini belum ada serah terima, tapi setelah saya sudah cek dan sesuai spek yang kami butuhkan,” tutur Kabid.

Kadis Perkebunan, Said Mahjali mengatakan. Batas waktu kontrak pengadaan bibit pinang betara itu sampai Desember 2019. Saat ini pihaknya terus memastikan bibit yang disalurkan nanti sesuai dan tidak terjadi masalah di kemudian hari.

“Dalam waktu kurang tiga bulan inilah kita lihat kapan diserahkan kepada kami agar segera disalurkan kepada masyarakat, pastinya bulan Desember 2019, sudah tersalurkan semua,” katanya.

Berdasakan hasil penelusuran di web Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Aceh Barat, rincian program tersebut yakni, Paket Pengadaan Bibit Pinang kode 20707582 dengan pagu anggaran sebesar Rp 2.676.784.000 bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Tendernya diikuti sembilan lembaga Commanditaire Vennootschap (CV), lalu dimenangkan CV. Mega Raya Persada dengan nilai penawaran Rp 2.635.640.350,00 Penawaran Terkoreksi, Rp 2.635.640.350, dan Hasil Negosiasi Rp 2.631.564.617,50.***

Komentar

Loading...