Breaking News

Terkait Surat AHY tak Dijawab Presiden

Teuku Riefky Harsya: Masih Ada Teka-Teki di Presiden Jokowi

Teuku Riefky Harsya: Masih Ada Teka-Teki di Presiden Jokowi
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PD, Teuku Riefky Harsya (Foto: Ist)

Jakarta I Penjelasan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Republik Indonesia Pratikno bahwa, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak perlu menjawab surat dari Ketua Umum DPP Partai Demokrat (PD), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mendapat tanggapan dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PD, Teuku Riefky Harsya.

Melalui channel youtube yang dibagikan kepada media pers, Jumat malam. Politisi Partai Demokrat ini menjelaskan serta mempertegas kembali tentang sosok dibalik rencana kudeta terhadap kepemimpinan AHY sebagai Ketua Umum PD yang sah.

“Sehubungan dengan gerakan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat yang tengah menjadi perhatian publik saat ini, perlu kami tegaskan bahwa “Partai Demokrat tidak bermaksud melawan negara, karena kami juga bagian dari negara, dan kami akan tetap mencintai dan menghormati negara," kata politisi berdarah Aceh ini.

Begitupun, terkait penjelasan Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, yang mengatakan Presiden Joko Widodo tidak berkenan menjawab surat Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), karena dianggap masalah internal. Teuku Riefky menyatakan sejumlah pendapat dan pandangannya.

Pertama, tidak dijawabnya surat Ketum AHY, menurut dia sepenuhnya menjadi hak dan kewenangan Presiden Jokowi. Dalam surat tersebut, Ketum AHY memohon penjelasan Presiden Jokowi, terkait disebutnya nama Kepala Staf Presiden Moeldoko sebagai terlibat dalam GPK PD, serta sejumlah nama menteri dan pejabat setingkat menteri yang katanya setuju dan mendukung GPK PD tersebut.

“Untuk diketahui dan untuk tidak menjadikan salah pengertian, Partai Demokrat tidak pernah menuduh para pejabat pemerintahan terlibat dalam GPK PD tersebut. Ada pun yang menyebut nama-nama para pejabat pemerintahan itu berasal dari saudara Moeldoko dan para pelaku gerakan yang lain, sesuai dengan kesaksian para kader yang diajak bertemu mereka,” ungkap Teuku Riefky.

Masih kata dia. “Melalui surat kami 1 Februari 2021 yang lalu, Ketum AHY telah menyampaikan keyakinannya bahwa Presiden Jokowi, sejumlah menteri dan pejabat setingkat menteri yang disebut-sebut saudara Moeldoko atau pelaku GPK PD lainnya, tidak mengetahui adanya gerakan ini. Ketum AHY juga menyampaikan bahwa pejabat-pejabat itu sangat mungkin dicatut namanya dan bahkan sebuah pembusukan politik,” nilai dia.

Itu sebabnya, Partai Demokrat juga menyampaikan tetap menghormati Presiden Jokowi dan para menteri terkait, dan justru tidak ingin para pejabat terhormat itu mendapatkan fitnah apapun.

“Kami berterima kasih kepada Menko Polhukam dan Menkumham, yang berkenan memberikan klarifikasi bahwa tidak tahu menahu terkait GPK PD tersebut. Ini membuktikan keyakinan kami bahwa tidak benar jika para pejabat negara tersebut terlibat dalam gerakan ini”.

Sebaliknya, meskipun tiadanya penjelasan Presiden Jokowi, Sekjen DPP PD ini mengaku dan menilai masih ada teka-teki yang tersimpan dalam pikiran masyarakat, namun kami tetap menghormati keputusan dan pilihan Presiden Jokowi tersebut.

“Kami tetap berkeyakinan bahwa Presiden Jokowi maupun pejabat negara yang namanya disebut-sebut, benar-benar tidak mengetahui adanya GPK PD, apalagi terlibat. Namun, menyangkut alasan pemerintah bahwa GPK PD tersebut adalah hanya permasalahan internal Partai Demokrat semata, kami memiliki pandangan yang berbeda,” tegas dia.

Alasanya, ada sejumlah fakta yang menunjukkan adanya gerakan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD). Dan itu bukan hanya segelintir kader serta  eks kader PD, tetapi benar- benar melibatkan pihak eksternal, dalam hal ini paling tidak KSP Moeldoko.

“Fakta juga menunjukkan bahwa yang dilakukan saudara Moeldoko bukan hanya sekedar mendukung GPK PD tersebut, tetapi yang bersangkutanlah yang secara aktif dan akan mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat yang sah itu. Jadi sangat jelas, bahwa GPK PD bukanlah hanya gerakan internal partai, atau hanya permasalahan internal partai semata,” ulas Teuku Riefky.

Ada sebuah contoh dalam sejarah di negeri ini urai Teuku Riefky. Tanggal 22 Juni 1996 dilaksanakan Kongres Luar Biasa Partai Demokrasi Indonesia (KLB PDI) di Medan, yang berhasil menurunkan dan mengganti Megawati Soekarnoputri sebagai pimpinan PDI.

KLB tersebut juga bukan hanya permasalahan internal PDI atau konflik antara kubu Megawati dan Suryadi, tetapi ada campur tangan dan pelibatan pihak eksternal, dalam hal ini elemen pemerintah.

“Jika tindakan saudara Moeldoko dibiarkan dan dibenarkan, dengan kekuasaan yang dimilikinya sebagai pejabat negara, telah melakukan gerakan untuk mengambil alih kepemimpinan partai secara paksa (hostile taking over), tentu sangat menciderai rasa keadilan di negeri ini,” kritik dia.

“Bagi para pengemban amanah rakyat, seperti Moeldoko, yang menjadi pedoman seharusnya bukan hanya aspek hukum dan dimilikinya kekuasaan yang seolah bisa berbuat apa saja, tetapi harus juga mengindahkan aspek moral, etika dan keadilan. Kalau gerakan semacam GPK PD ini dibiarkan dan dibenarkan (justified), maka hal ini dapat menjadi contoh dan bisa saja mendorong pejabat negara manapun yang memiliki  ambisi politik dan ambisi kekuasaan yang sangat besar, menempuh jalan pintas, melakukan sesuatu yang menabrak etika politik, "the rule of law" dan "rules of the game," ulas Teuku Riefky.

Masih kata dia, kalau hal begitu menjadi kultur dan kebiasaan, betapa terancamnya kedaulatan partai partai politik di negeri ini, sekaligus betapa tidak aman dan rapuhnya kehidupan demokrasi kita.

“Dalam kasus GPK PD, tidak mungkin segelintir kader  dan eks kader Demokrat tersebut, berani dan sangat yakin gerakannya akan sukses jika tidak ada keterlibatan orang kuat dan dukungan dana yang besar untuk melakukan gerakan itu. Di samping mendengar langsung apa yang dijanjikan dan akan dilakukan oleh saudara Moeldoko jika kelak menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, menurut kesaksian sejumlah kader yang merasa dijebak, juga telah dibagikan dana awal sekitar 25 %; sedangkan sisanya akan diberikan jika KLB selesai dilaksanakan, dan Moeldoko telah menjadi pemimpin baru”.

Semua itu kata Teuku Riefky, membuktikan upaya pengambilalihan kepemimpinan PD oleh pihak luar itu nyata, dan serius, karena uang sudah mulai digelontorkan dan Moeldoko sudah aktif melakukan pertemuan-pertemuan serta telah berbicara secara langsung dengan sejumlah kader Demokrat, baik pusat maupun daerah, yang diajak bertemu dengannya.

“Gerakan dan tindakan seperti ini, yang saudara Moeldoko juga aktif dan “involved" secara langsung, bagaimana mungkin, hanya dianggap sebagai permasalahan internal Partai Demokrat semata,” kata Teuku Riefky dengan senyum.

Kelima kata dia, Partai Demokrat bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena telah diberikan tuntunan untuk segera bertindak, guna menyelamatkan kedaulatan dan kehormatan Partai.

Jika AHY tidak cepat mengambil tindakan dan segera tampil menjelaskan kepada publik, meskipun dengan tetap menghormati Presiden Jokowi sebagai kepala negara, maka nasib, kelangsungan hidup, dan masa depan Partai Demokrat, bisa menjadi lain.

“Banyak preseden di masa lampau, yang berkaitan dengan kehidupan dan dinamika partai-partai politik di Indonesia, termasuk sejarah tentang kemelut dan benturan di tubuh partai politik, yang kemudian bagaimanapun akhirnya, melibatkan tangan tangan pemerintah,” sebut Teuku Riefky.

Betapa sedihnya keluarga besar Partai Demokrat, jika upaya GPK PD ini benar-benar dilaksanakan, dan akhirnya menobatkan Moeldoko menjadi Ketum yang baru, merebut dari tangan Ketua Umum hasil kongres yang sah dan demokratis.

“Jika KLB ilegal tetap diselenggarakan, yang pasti tidak sesuai dengan Konstitusi Partai (AD dan  ART), tidak mendapatkan persetujuan Majelis Tinggi Partai, dihadiri oleh mereka yang bukan pemegang suara yang sah, namun kemudian hasilnya dianggap sah dan segera disahkan oleh Kemenkumham, atau diresmikan oleh negara, tamatlah riwayat Partai Demokrat yang asli, yang ingin hidup dan berjuang secara baik-baik di negeri ini, sesuai dengan konstitusi, hak politik, tatanan demokrasi dan sistem yang berlaku”.

Teuku Riefky memprediksi, nasib Partai Demokrat juga akan malang, jika kemudian terjadi dua  kepengurusan, dua ketua umum, yang kemudian dua-duanya dianggap tidak sah oleh negara. Jika skenario buruk itu terjadi, maka Partai Demokrat tak lagi bisa berpartisipasi dalam Pemilu 2024 dan Pilkada mendatang.

“Karenanya, demi nasib dan masa depan jutaan kader Demokrat, menghadapi Gerakan Pengambil Kepemimpinan Partai Demokrat ini kami ingin berjuang baik-baik, agar sekali lagi kedaulatan dan kelangsungan hidup Partai Demokrat tetap terjaga. Pada kesempatan yang baik ini, kami mengapresiasi para kader Partai Demokrat yang telah melakukan deteksi dini dan lapor cepat kepada Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat,” jelas Teuku Riefky.

Katanya lagi, hal ini membuktikan bahwa Partai Demokrat solid dan terlahir sebagai Partai Ideologis yang menjunjung tinggi integritas dan kehormatan. Inilah perwujudan atas apa yang disampaikan Ketum AHY sebagai kode etik keperwira-an dan jiwa seorang kesatria. “Sekali lagi, kami bangga dengan seluruh Kader Partai Demokrat dimanapun berada,” puji Teuku Riefky Harsya.***

Komentar

Loading...