Dana Abadi Pendidikan Aceh tak Jelas

Teuku Raja Keumangan: Penjelasan Bank Aceh Syariah Jadi Salah Satu Kunci

Teuku Raja Keumangan: Penjelasan Bank Aceh Syariah Jadi Salah Satu Kunci
Teuku Raja Keumangan. Foto: harianaceh.co.id
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Teuku Raja Keumangan dalam jumpa pers, di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Kamis kemarin mengakui, dana cadangan umum, dana abadi pendidikan dan dana cadangan pendidikan tidak jelas alias kabur.

Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) itu menjelaskan, saat rapat komisi VI DPRA dengan Dinas Pendidikan Aceh ia sempat mempertanyaan dana tersebut. Namun tidak bisa dijawab.

“Saya di Komisi VI saat pertama kami ada rapat kami pertanyakan itu namun tidak bisa jawab,” ungkap Teuku Raja Keumangan atau akrab disapa TRK ini.

Saat itu, sidang paripurna dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, TRK mengaku kembali mempertanyakan dana tersebut. Lagi-lagi tidak ada penjelasan.

Menurut TRK biasanya jika ada pertanyaan seperti itu dalam paripurna, semestinya Gubernur Aceh menjawab secara tertulis.

Itu sebabnya, TRK menyimpulkan bahwa dana cadangan umum, dana abadi dan dana cadangan pendidikan tidak jelas karena belum ada penjelasan.

TRK juga mengaku selain dari dinas terkait, sebenarnya informasi Bank Aceh Syariah menjadi kunci. Sebab, dana tersebut disimpan pada bank plat merah ini. Karena itu, tak ada alasan bagi bank untuk tidak bisa membuka karena regulasi.

“Ini masih misteri, maka kuncinya ada di Bank Aceh, tapi ada alasan secara regulasi,” ujar Teuku Raja Keumangan.

Karena itu menurut TRK, harus ada langkah lain. Misal melibatkan auditor negara untuk melakukan audit tertentu (investigasi) terkait dana tersebut. “Kalau melibatkan auditor negara mungkin bisa tahu,” tegas TRK.

Wakil Ketua Komisi III DPRA, Zaenal Abidin pada kesempat sama mengaku, Bank Aceh Syariah dalam pertemuan dengan Komisi III DPRA beberapa waktu lalu, tidak memberikan jawaban terhadap dana tersebut.

“Tidak memberikan jawaban karena kewenangan BPKA,” jelas politisi PKS itu.

Zaenal mengaku, ia juga tidak mengetahui berapa jumlah dana tersebut. Itu sebabnya, Komisi III DPRA akan melakukan pertemuan lanjutan dengan instansi terkait untuk mengetahui dana tadi.

Berdasarkan LHP BPK RI tahun anggaran 2018 disebutkan, nilai dana cadangan per 31 Desember 2017, Rp1.018.268.199.083.,20. Setelah ditambah jasa giro dan bunga deposito menjadi Rp74.590.137,68 sehingga dana cadangan per 31 Desember 2018 Rp 1.092.859.104.220,88.

Sedangkan deposito awal tahun 2006 silam dana tersebut Rp 1.844.000.000.000 dengan deposito berjangka dengan bunga atau bagi hasil 9 persen. Dan berdasarkan LHP BPK RI, fulus tersebut disimpan di Bank Aceh Syariah.

Ironisnya, dalam LHP BPK RI terhadap Pemerintah Aceh Tahun Anggaran 2019. Ternyata jumlah Dana Abadi Pendidikan Aceh per 31 Desember 2019 menjadi Rp 462.220.510.140,25,- dan bertambah dari saldo chesar Rp29.789.008.912,47,- yang berasal dari deposito dan jasa giro yang menambah langsung ke rekening yang ditempatkan pada Bank Aceh.***

Komentar

Loading...