Pimpinan dan Anggota DPRA Digoda Emblem Emas Rp 582 Juta Lebih

Teuku Kemal Fasya: Itu Menyakiti Para Jomblo!

Teuku Kemal Fasya: Itu Menyakiti Para Jomblo!
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Tampaknya, awal tahun ini, 81 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Periode 2019-2024, yang berkantor di Jalan Tengku Daud Beureueh, Banda Aceh, digoda dengan pengadaan emblem lambang Aceh yang terbuat dari emas.

Jumlahnya pun lumayan besar. Satuan Kerja Sekretariat DPR Aceh mengalokasikan anggaran senilai Rp 582 juta lebih dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2019.

Itu sebabnya, di laman lpse.acehprov.go.id hingga Rabu malam (6/11/2019) sedikitnya ada 53 peserta perusahaan, baik berbentuk CV maupun PT yang mengikuti lelang pengadaan emblem lambang Aceh untuk pimpinan dan anggota DPRA ini.

Makanya, pengadaan emblem untuk anggota DPR Aceh tadi mendapat kritikan dari akademisi Universitas Malikussaleh, Teuku Kemal Fasya. Antropologi itu menilai. Sebenarnya, ada harapan besar rakyat Aceh pada anggota DPR Aceh  Periode 2019-2020. Salah satunya, lebih menghemat pengunaan anggaran daerah.

“Pada periode ini kita punya harapan pada anggota DPRA banyak diwarnai dengan wajah baru dari anak muda. Mudah-mudahan pola DPRA kali ini lebih baik," harap Teuku Kemal Fasya, melalui sambungan telpon, Rabu (6/11/2019).

Teuku Kemal Fasya

Teuku Kemal memang tak langsung mengkritik tajam anggota DPRA, terkait pengadaan emblem lambang Aceh dari emas itu. Karena, program tersebut bukan datang dari mereka. Tapi, Sekretariat DPR Aceh.

“Perilaku seperti itu kadang datang dari atas, bukan dari anggota dewan itu sendiri. Kadang-kadang mereka dipeucroek dalam bahasa Aceh atau hal-hal yang menyakiti kepentingan publik,” sebut Kemal.

Begitupun, Kemal mengaku baik anggota maupun perangkat dewan (Sekretariat DPRA), harus direformasi agar pola-pola pengadaan emas tak ada lagi.

“Sebenarnya dewan itu ada dua, anggota dewan dan perangkat dewan. Dua-dua itu harus direformasi hingga pola-pola bagi emas, bisa menumbuhkan sikap tidak populer di mata masyarakat, itu harus dirubah,” katanya.

Itu sebabnya, Kemal minta DPR Aceh menolak pemberian emblem dari emas tersebut. Saran ini disampaikan agar DPRA tak mencidrai kepercayaan publik. “Kalau saran saya tolak saja, biar tahu siapa yang punya agenda mengadakan emas-emas seperti  ini. Kok emas? Dua mayam pula, itu menyakiti para jomblo di Aceh yang belum menikah karena tak mampu menyediakan emas,” kritik Kemal.

Bukan hanya itu, Kemal menyebut kondisi ekonomi Aceh sedang tak baik meskipun anggaran besar di Aceh. Bahkan kondisi ekonomi Aceh nomor 7 di Indonesia dan nomor satu di Sumatera.

“Kondisi ekonomi Aceh buruk sekali dengan anggaran begitu besar kita bisa terburuk nomor 7 di Indonesia dan nomor satu di Sumatera. Kita belum ada prestasi, jadi jangan mengadakan fasilitas yang melukai masyarakat miskin, membuat masyarakat kehilangan harapan,” kata Teuku Kemal Fasya.

Lanjut Kemal, jadi anggota DPR Aceh bukan karena emas dua mayam itu.

Sekretaris DPR Aceh Suhaimi melalui sambungan telpon, Kamis pagi (7/11/2019) membenarkan bahwa emblem lambang Aceh untuk wakil rakyat yang sedang dilelang itu bahannya terbuat dari emas. Beratnya 6,6 gram. "Dari emas 6,6 gram," kata Sekwan DPRA Suhaimi, Kamis (7/11) yang sedang kurang sehat.***

Komentar

Loading...