Dibalik Kisruh DPD I Partai Golkar Aceh

Teuku Kemal Fasya: Bukti Kepemimpinan Nurlif Lemah!

Teuku Kemal Fasya: Bukti Kepemimpinan Nurlif Lemah!
dok.MODUSACEH.CO

Banda Aceh | Kisruh yang kini terjadi di tubuh DPD I Partai Golkar Aceh, terkait pergantian ketua harian dan sekretaris serta beberapa lainnya, termasuk merebaknya isu pengunaan dana Rp 500 juta yang tidak transparan oleh Ketua DPD I Partai Golkar Aceh TM Nurlif. Dinilai pengamat politik budaya (antropolog) Universitas Negeri Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe Teuku Kemal Fasya sebagai bukti atau menunjukkan lemahnya kepemimpinan TM Nurlif. Apalagi sejak momen Pilkada Aceh 2017, calon gubernur dan bupati serta walikota yang diusung atau dukung Partai Golkar Aceh banyak yang kalah.

"Kisruh ini sebenarnya jauh dari kebiasaan Golkar. Meskipun muncul friksi, namun sebagai partai politik paling berpengalaman di era Orde Baru, Golkar mampu membangun konsolidasi dan kohesivitas sehingga bisa menyusun langkah-langkah strategis penguatan partai ke depan. Namun  faktanya yang terjadi justeru berbeda dan lebih menonjol saat ini," begitu pendapat  Kemal menjawab pertanyaan MODUSACEH.CO, Rabu malam (10/5/2017) melalui telpon seluler.

Menurut Teuku Kemal, bisa jadi persoalan yang semula dinilai enteng oleh TM Nurlif akan menjadi bola salju dan membesar. Sebab, TM Nurlif nampaknya tidak cukup mampu diperbaikinya sejak awal, sehingga pelbagai masalah muncul di permukaan. Begitupun sebut Kemal, begitu dia akrab disapa, permasalahan ini sebenarnya tidak hanya problems di Aceh, tapi limpasan dari prahara yang menimpa Ketua DPP Partai Golkar, Setya Novanto, sehingga proses pembinaan dan evaluasi organisasi di tingkat daerah juga keteteran.                    

"Buktinya, begitu masuk surat usulan pergantian dari DPD I Partai Golkar Aceh, DPP Golkar atau Ketua Umum Setnov dan Sekjen Idrus Marham langsung merespon cepat. Padahal, semua parpol setahu saya ada mekanisme. Misal, surat peringatan (SP) satu, dua dan tiga. Selain itu dibicarakan secara lebih mendalam sehingga tidak ada pihak yang dirugikan serta menimbulkan gejolak seperti saat ini," nilai Kemal.

Begitupun ujar Kemal, kelemahan kepemimpinan tetap saja berada di tangan T M Nurlif. "Meskipun dia putra asli Aceh tetapi dalam proses berorganisasi lebih banyak berada di pusat, sehingga tidak cukup jeli dalam membangun strategi konsolidasi ketika muncul krisis," kritik Teuku Kemal.***

 

Komentar

Loading...