Atas Jasa Perjuangan Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Teuku Hamid Azwar Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Teuku Hamid Azwar Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Teuku Hamid Azwar bersama Presiden RI Soekarno (Foto: Repro Buku: Aceh dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949 dan Peranan Teuku Hamid Azwar Sebagai Pejuang)
Rubrik

Banda Aceh | Setiap tahun atau tanggal  10 November, rakyat Indonesia mengenang jasa-jasa para pahlawan atas perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Itu sebabnya, sebagian tokoh dari pejuang di masa lalu, telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional meski masih banyak lainnya di daerah–daerah,  tidak pernah dikenal, serta pengorbanannya pun seolah terabaikan. 

Aceh dikenal sebagai tanahnya para pejuang, mereka sangat gigih dan militan dalam melawan, memperjuangkan dan mengusir para penjajah di bumi nusantara. Di antara sekian banyak perintis, pahlawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia dari Aceh itu, hanya 8 orang saja yang baru diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia, yakni Teuku Umar, Cut Nyak Dhein, Cut Nyak Mutia, Teungku Chik Di Tiro, Teuku Nyak Arief, Sultan Iskandar Muda, Teuku Muhammad Hasan dan Laksamana Malahayati.

Padahal, selain itu masih banyak tokoh–tokoh perjuangan kemerdekaan Indoenesia yang sangat berjasa dan gigih mempertahankan tanah air ini yang belum memperoleh gelar kehormatan, seperti Letkol TNI Teuku Hamid Azwar, Sri Ratu Safiatuddin, Pocut Baren, Malikul Saleh, Teuku Panglima Nyak Makam dan lainnya.

Pendapat itu disampaikan Kepala Dinas Sosial Aceh, Dr. Yusrizal, M.Si pada acara seminar tingkat provinsi, terkait usulan pahlawan nasional dari Aceh.

Nah karena pertimbangan itulah, Letkol TNI Teuku Hamid Azwar, Jumat (16/4/2021) diusulkan sebagai Pahlawan Nasional di Aula Gedung Dinas Sosial Aceh, Kota Banda Aceh.

"Menurut Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, Bupati Bireuen, Dr H Muzakkar A Gani dan Plt Kepala Dinas Sosial Aceh, Devi Riansyah A.Ks, telah menyetujui pengusulan Letkol Teuku Hamid Azwar sebagai calon Pahlawan Nasional," kata Kadinsos Aceh ini.

Hadir sebagai narasumber, M Adli Abdullah dan pakar sejarah, Hermansyah M.TH.M.Hum, akademisi UIN Ar-Raniry, Drs Joko Irianto Msi, Direktorat Kepahlawanan, Perintis, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial, Kementerian Sosial RI via virtual, dan hadir pula Ahli Waris Hj. Pocut Haslinda.

Ahli Waris Teuku Hamid Azwar, Hj Datok Pocut Haslinda (tengah). (Foto: Firdaus Hasan)

Pada kesempatan itu Joko Irianto menyebut, syarat khusus bagi calon pahlawan, yaitu pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, serta mewujud persatuan dan persatuan, tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan.

Selain itu, melakukan pengabdian dan perjuangan hampir sepanjang hidupnya. Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang menunjang pembangunan bangsa, pernah menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi masyarat luas, kemudian memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi atau perjuangan dalam jangkauan luas dan berdampak nasional.

Selain itu menurut Joko, calon pahlawan harus diusul atau direkomendasi dari pemerintah daerah dan surat pengantar Dinas Sosial provinsi.

Sementara itu menurut M Adli Abdullah, Teuku Hamid Azwar merupakan tokoh yang patut dan layak mendapat gelar pahlawan.

Ia merupakan keturunan kedelapan dari Ulee Balang Samalanga, Tun Sri Lanang atau Datok Sri Bendahara bangsawan Melayu asal Johor, Malaysia yang menjadi penasihat Kesultanan Aceh.

“Darah Tun Sri Lanang ini, mengalir lewat ayahnya, Teuku Chik Muhammad Ali Basyah yang menikah dengan keturunan Cut Nyak Po, keturunan dari Teuku Nek Meuraxa, Ulee Balang Meuraxa.

Namun, meski berasal dari keluarga bangsawan, dalam diri Teuku Hamid Azwar juga mengalir darah pejuang. Neneknya, Pocut Meuligoe (Mahligai) adalah Panglima Perang Samalanga. Dan, Teuku Hamid Azwar lahir pada tahun 1916.  

Kata Adli, pendidikan masa kecil Teuku Hamid Azwar dihabiskan di Kutaraja untuk belajar agama dan menempuh pendidikan formal.

Pendidikan dasarnya dihabiskan di sekolah Belanda, Volkschool Ule Lhe kemudian Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Peunayong yang dikhususkan untuk anak-anak golongan atas.

Tamat dari HIS, Teuku Hamid melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang sekarang dikenal dengan SMA Negeri 1 Banda Aceh.

Hamid dikeluarkan dari MULO akibat kedapatan membawa photo Soekarno ke sekolah. Selanjutnya dia sekolah di Taman Siswa, akibatnya dia memperoleh banyak bahan pelajaran dan ceramah tokoh nasional dan mengenal lebih dekat Soekarno.

Tahun 1939 dia diangkat sebagai Ketua Parinda (Partai Indonesia Raya) Aceh. Perpaduan antara jiwa saudagar, politikus, dan pejuang.

Di usia yang masih muda, ia sudah menjadi pebisnis handal, melakukan perdagangan hasil bumi, serta mengelola pabrik penggilingan padi di Samalanga," ungkap M. Adli.

Tetapi di saat bersamaan, ia juga seorang politikus dan terlibat dalam pendirian Partai Indonesia Raya (Parindra) di Aceh dan juga sekolah pergerakan. 

Pengumuman Proklamasi Kemerdekaan, bersama Syamaun Gaharu dan Perwira Giyu Gun lainnya, Teuku Hamid mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API). Dalam perkembangannya API berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), setelah itu menjadi Tentara Republik Indonesia, dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Teuku Hamid mendapatkan kedudukan cukup tinggi dan penting sebagai Kepala Staf Devisi V Aceh, dengan pangkat Mayor dan Letkol. Ia memimpin pelucutan senjata tentara Jepang serta mencegah Belanda kembali menduduki Aceh saat agresi kedua," kata Adli.

“Ketika diangkat Panglima Sumatera sebagai Kepala Staf SK 2A (Intendans), Teuku Hamid mulai mendirikan perusahaan dagang Central Trading Company (CTC) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan TNI,” ujarnya.

CTC tidak hanya memasok senjata, amunisi, dan obat-obatan kepada TNI, tetapi juga melakukan pembelian pesawat AVRON ANSON, RI-003 untuk memperkuat Angkatan Udara dan Kapal Laut berbobot 100 ton dengan nomor registrasi PPB 58 LB.

Selain itu dari pihak keluarganya ikut membantu mendanai pembelian pesawat RI-04. Itu dibuktikan dengan pemberian Bintang Mahaputra Pemerintah RI kepada Cut Nyak Manyak Keumala Putri tahun 1998, jasanya diakui pemerintah bersama suaminya Teuku Hamid Azwar.***

Komentar

Loading...