Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

17 Tahun Tabloid Berita MODUS ACEH

Terlalu Kecil Jika Berniat Cemarkan Nama Makmur Budiman

Terlalu Kecil Jika Berniat Cemarkan Nama Makmur Budiman
Muhammad Saleh (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)
Penulis
Sumber
Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

HARI ini, 16 April 2020, tanpa terasa Tabloid Berita MODUS ACEH genap berusia 17 tahun, sejak terbit perdana, 16 April 2003 silam di Banda Aceh.

Ibarat roda, inilah fase atau rentang waktu yang sarat makna. Ada kalanya berada di puncak, di tengah bahkan jatuh hingga ke tanah.

Selain itu, tak lepas dari pasang-surut dan haru biru, menerima dan mengalami berbagai ancaman serta teror, yang datang silih berganti.

Mulai dari pengranatan dan peledakkan kantor redaksi, mengirim orang “setengah waras” untuk merusak hingga berbagai laporan maupun pengaduan pada aparat penegak hukum. Namun, semua itu kami hadapi dengan jiwa besar dan penuh tanggungjawab.

Inilah resiko profesi  dan perusahaan media pers yang harus kami terima dan jalani. Ibarat dua sisi mata uang. Ada kalanya dipuja karena berita yang kami wartakan "dinilai" menyenangkan satu pihak. Tapi tak sedikit caci maki, tuduhan serta ujaran kebencian, karena informasi yang kami sajikan "dinilai" menyudutkan pihak berikutnya.  Ibarat kisah Lukmanul Hakim, keledai dan cacian yang disebut dalam al-Qur`an, surah Luqman (31) ayat 12-19. 

Dan kini, salah satunya, kami menerima “kado atau hadiah” ulang tahun (ultah) dari Makmur Budiman, seorang pengusaha di Aceh. Dia melaporkan pimpinan redaksi media ini, Muhammad Saleh ke Polda Aceh dengan tuduhan, dugaan melakukan pencemaran nama baik, terkait regulasi dan pencairan kredit dari PT. Bank Aceh Syariah kepada dia.

Begitu pula di jajaran redaksi, ada yang datang dan pergi. Namun, semua itu kami anggap wajar. Sebab, selain sebagai media pers lokal yang berorientasi bisnis, kami juga mengemban misi edukasi (pendidikan) bagi anak muda Aceh, yang ingin mendalami kemampuan ilmu jurnalistik.

Itu sebabnya, bagi kami waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Karena waktulah yang paling konsisten. Terus maju ke depan dan tak akan pernah bisa mundur.

Allah SWT juga telah mengingatkan kita tentang waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Q.S Al- Ashr 1-3).

Karenanya, menginjak usia 17 tahun, kami pun terus merenung, mengevaluasi dan instropeksi diri. Melakukan yang terbaik bagi pembaca (rakyat Aceh) dengan sajian informasi akurat, tajam dan terpercaya.

Sebagai media pers lokal, yang lahir dari rahim, tangan dan usaha putra Aceh. Kami tetap berdiri tegak, berpegang teguh pada komitmen; mengungkap data, fakta dan peristiwa apa adanya.

Tidak ada yang perlu kami sembunyikan dari apa yang kami ketahui. Sebab bagi kami, rakyat atau pembaca adalah; Raja!

Komitmen ini tentu tidak mudah. Kami selalu dan sering face to face atau berhadap-hadapan dengan “penguasa korup” dan “pengusaha hitam” maupun “politisi busuk”. Termasuk para pihak yang merasa terusik dengan  berbagai laporan dan liputan mendalam, yang kami sajikan.

Akibatnya, ada sejumlah pejabat dan pengusaha di Aceh yang terpaksa mendekam dan menginap di hotel prodeo, karena kasus yang mereka lakukan berhasil kami ungkap secara lugas, dalam dan tuntas.

Tapi sekali lagi, semua itu bukan tanpa resiko. Berbagai perbuatan kriminalisasi terus kami terima dan hadapi.

Mulai dari pengranatan kantor redaksi (2013 dan 2018) hingga teror pribadi kepada wartawan serta pemilik dan pimpinan redaksi media ini.

Namun, kami tetap haqqul  yakin, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuat, tidak pernah tidur.

Di tengah beban persaingan usaha dan bisnis di era multi media saat ini. Kami masih bisa bernafas dan terbit secara berkala, menemui pembaca dan relasi. Yang haq tetap haq  dan yang bathil pasti akan hancur!

Tantangan kami ke depan tentu akan sangat berat, apalagi tetap memposisikan diri sebagai media alternatif dan kritis di Aceh. Tidak “membebek”, tunduk dan patuh pada “penguasa korup” dan “pengusaha hitam”, apalagi berharap sesuatu yang semu.

Karena itulah, diusianya ke-17 tahun, Tabloid Berita MODUS ACEH, juga telah didampinggi “adiknya” yaitu, Portal  Berita MODUSACEH.CO, yang lahir, 16 Agustus 2016 lalu.

Dua media pers ini bernaung dibawah satu bendera; PT. AGSHA MEDIA MANDIRI  (berbadan hukum)  dan telah terverifikasi administrasi maupun faktual dari Dewan Pers.

Lantas, bagaimana dengan “hadiah ultah” berupa laporan dugaan pencemaran nama baik yang diadukan (pelapor) Makmur Budiman ke Polda Aceh, Rabu (15/4/2020) kemarin?

Bagi kami itu hal biasa dan bukan sesuatu yang luar biasa. Sebab, Makmur Budiman juga bukan figur yang luar biasa pula. Kedudukannya, sama seperti pengusaha Aceh lainnya.

Maklum, sejak terbit tahun pertama (2003) hingga saat ini, kami begitu akrab dan terbiasa, mewartakan informasi-informasi edukasi mengenai pemimpin yang bijak, politisi arif, serta pengusaha sukses, untuk menjadi contoh tauladan dan motivasi bagi rakyat Aceh, untuk bangkit setara, maju bersama.

Sebaliknya, kami pun tetap kritis dengan sosok “pemimpin korup”, “politik busuk” serta “pengusaha bulus”.

Karena itu, terlalu naif rasanya jika kehadiran Tabloid MODUS ACEH selama 17 tahun perjalanannya, hanya bertujuan mencermakan nama baik seorang Makmur Budiman, yang jasanya juga belum tercatat dalam tinta emas untuk negeri ini dan Aceh!

Sekali lagi, bagi kami sosok Makmur Budiman bukanlah figur luar biasa. Tapi, biasa-biasa saja, sama dengan pengusaha Aceh lainnya, yang berusaha dengan mengunakan jasa permodalan perbankan.

Misi besar dan utama kami adalah, mendukung pemimpin yang arif dan bijaksana, politisi yang peduli rakyat serta pengusaha kreatif dan produktif dengan modal usaha mandiri. Mempertahankan keutuhan negara serta merawat dan mengawal damai Aceh.

Selain itu, sebagai perusahaan pers (media), kami wajib menjalankan fungsi kontrol terhadap jalannya pemerintahan di Aceh. Apalagi, mengenai penyaluran kredit Rp68 miliar kepada Makmur Budiman dari PT. Bank Aceh Syariah (BAS), lembaga jasa keuangan yang setiap rupiahnya adalah milik rakyat Aceh.

Karena itu, rakyat Aceh berhak tahu tentang mekanisme dan regulasi mengenai penyaluran kredit tersebut. Apalagi, persoalan ini mulai dilirik penyidik di Polda Aceh. Jadi, bukan sesuatu yang kami cari-cari dan tanpa dasar.

Undang-Undang No: 40/1999 tentang Pers, terutama Pasal 6 dengan tegas mengamanatkan. Pers nasional melaksanakan peranannya sebagai berikut: a. memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui; b. menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan; c. mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar; d. melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum; e. memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Nah, di jalur dan jalan inilah kami berada, menganut kredo jurnalisme jalan tengah. Sekali lagi, terlalu besar integritas yang harus kami pertaruhkan, jika hanya berniat untuk mencemarkan nama seorang Makmur Budiman, sosok pengusaha Aceh yang biasa-biasa saja!

Terlalu kecil dan singkat rasanya jika waktu 17 tahun usia media ini, hanya bertujuan mencemarkan nama Makmur Budiman, yang belum setara serta sekelas pengusaha Abu Rizal Bakrie, Chairul Tanjung atau Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono, pemilik 51 persen dan 49 persen, saham pengendali Bank Central Asia (BCA). 

Nah, di hari Ulang Tahun Ke-17 ini, izinkanlah kami sampaikan terima kasih rakyat Aceh, terima kasih pembaca dan relasi setia. Mohon doakan kami tetap tegar “melawan kezaliman”, memperjuangan dan mengungkap kebenaran data, fakta dan peristiwa serta informasi yang ada. KAMI YAKIN USAHA SAMPAI! Aamiin.***

Komentar

Loading...