Sidang Perdana Pelanggaran UU ITE

Terdakwa Mento Akui Keterangan Empat Saksi

Terdakwa Mento Akui Keterangan Empat Saksi
Azhari Usman/ MODUSACEH.CO

Banda Aceh | Sidang perdana kasus dugaan pencemaran nama baik (penistaan) dan perbuatan tidak menyenangkan, melalui media sosial (elektronik) dengan terdakwa Mawardi alias Mento, anggota Tim Utama Relawan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah pada Pilkada 2017 lalu, digelar di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Keudah, Kota Banda Aceh, Rabu (16/1/2019).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Banda Aceh, Maulijar, S.HI,. S.H menghadirkan empat saksi yaitu, Pimpinan Redaksi MODUS ACEH, H. Muhammad Saleh (saksi pelapor), Azhari Usman, Hendro S. Koto, dan Antoni Sanjaya (saksi) serta terdawa tunggal Mawardi alias Mento.

Dalam keterangannya, Hedro S. Koto mengakui bahwa akun facebook Hendro Saky adalah miliknya. Pada 30 Juni 2018 pukul 10.25 WIB, dia mengaku mengunggah status ikut prihatin, atas musibah yang dialami Muhammad Saleh karena kantor Redaksi MODUS ACEH di bom oleh orang tak dikenal.

“Kalau lebih jelasnya saya tidak ingat. Pokonya, status itu saya buat karena sesama wartawan (Hendro wartawan Harian Waspada) ikut prihatin atas musibah yang dialami Bang Saleh (Muhammad Saleh),” ungkap Hendro pada Majelis Hakim Tati Astuti, SH,. MH (ketua) Sadri, SH., MH dan Supriadi SH,.MH (anggota) serta Muarilsyah, SH,. MH (Panitra Pengganti).

20190116-28a3a820-54db-4220-95df-132a0f1fb4ba

Hendro menceritakan. Sebelum mengunggah status tersebut ke laman facebook miliknya, Hendro mendapat kabar melalui WhatsApp grob jurnalis bahwa Kantor Redaksi MODUS ACEH diteror bom oleh orang tak dikenal (OTK), Sabtu pagi, 30 Juni 2018, sekira pukul 4.00 WIB.

Untuk memastikan kejadian tersebut, Hendro mendatangi kantor redaksi MODUS ACEH di Jalan T. Iskandar No 15, Beurawe, Kecamatan. Kuta Alam, Banda Aceh, sekaligus melakukan tugasnya sebagai wartawan Harian Waspada untuk membuat berita tersebut. Saat itu, dia juga menemui Pimred Tabloid MODUS ACEH, Muhammad Saleh.

Setelah status tersebut diunggah, Hendro mengaku melihat, akun Facebook Mento atau Mawardi menanggapi dengan cuitan “buat bom sendiri, ngebom sendiri. Kayak dulu-dulu juga,” jelas Hendro meniru ucapan yang dikomentari Mento.

Lantas, Hendro memperingatkan Mento jangan mendahului hasil Inafis Brimob Polda Aceh, karena aparat keamanan masih melakukan penyelidikan. Katanya, semua pihak harus menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah.

“Setelah itu, Bang Saleh menghubungi saya melalui saluran telpon, dan mengaku akan melaporkan Mento pada polisi karena Bang Saleh mengaku tidak merakit bom seperti disampaikan Mento. Makanya, saya juga menghubungi Mento dan meminta Mento untuk minta maaf dan menyelesaikannya secara baik-baik. Tapi, jawaban Mento waktu itu, silahkan lapor saja,” ungkap Hendro.

Hendro mengaku kenal Mento sekitar tahun 2016 lalu. "Awalnya, kenal melalui media sosial facebook dan berlanjut saling sapa dan sering minum kopi bersama. Sementara, saya kenal Bang Saleh telah lama karena karena sebagai wartawan," jelasnya.

Selanjutnya, Azhari Usman mengaku terkejut dengan status yang di unggah Mento. Sebab, saat itu, aparat polisi masih melakukan penyelidikan. Namun, Mento sudah mengetahui siapa yang melakukan pengeboman tersebut. Bahkan, Mento berani mengatakan bahwa yang melakukan perakitan dan pengeboman adalam pemilik Tabloid MODUS ACEH, Muhammad Saleh.

“Sebelumnya, saya tidak kenal dengan Mento. Namun, setelah melihat status tersebut saya terkejut juga, karena waktu itu kami masih dalam keadaan trauma berat. Setahu saya, Pak Saleh (Muhammad Saleh) tidak bisa merakit bom dan tidak mungkin meledakkan bom di kantor sendiri,” ungkap Azhari Usman, wartawan Tabloid MODUS ACEH dalam sidang tersebut.

Antoni Sanjaya mengakui, hingga saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan terkait pengeboman Kantor Redaksi MODUS ACEH, Sabtu pagi, 30 Juni 2018, sekira pukul 4.00 WIB. Pihaknya, juga belum mengetahui, siapa yang meletakkan bom tersebut.

“Pak Saleh telah melaporkan kasus pengeboman itu. Namun, hingga saat ini kita masih melakukan penyelidikan dan belum mengetahui siapa orangnya,” ungkap Antoni yang penyidik Polresta Banda Aceh.

Sebelumnya, H. Muhammad Saleh dalam keterangannya mengaku mengetahui unggahan Hendro Saky kerena memang dirinya berteman di facebook dengan Hendro. Termasuk tanggapan yang disampaikan Mento pada unggahan Hendro Saky yang menyebutkan kata-kata; ”buat bom sendiri, ngebom sendiri. Kayak dulu-dulu”.

Terhadap tanggapan Mento, Muhammad Saleh mengaku sangat terkejut dan trauma, karena terus dihubungi oleh sejumlah kerabat dan saudara yang menanyakan apakah betul, merakit sendiri dan melakukan pengeboman sendiri.

“Saya dan keluarga sangat trauma saat itu yang mulia. Satu sisi, saya terus di periksa oleh penyidik terkait pengeboman ini termasuk memeriksa CCTV. Dan, disaat yang sama, banyak orang-orang yang menghubungi saya menanyakan seperti yang ditulis Mento. Makanya, bukan saya saja yang trauma. Tapi, keluarga akibat unggahan Mento,” ungkap Muhammad Saleh.

20190116-898b4f42-5d25-48c3-8c17-1e900b83f28d

Muhammad Saleh juga mengaku kenal dengan Mento. Kenalan itu berawal saat sama-sama gabung di Partai Nanggroe Aceh (PNA) Pilkada 2012 dan Pileg 2014 lalu. 

“Secara manusia, saya memaafkan. Namun, saya ingin membuktikan dalam kasus ini, apakah benar saya sebagai perakit bom  seperti di tulis Mento. Atas tindakan beliau (Mento) telah membuat trauma anak dan istri saya," ungkapnya.

Terkait keterangan empat saksi tersebut, Majelis Hakim bertanya pada Mento, apakah ada bantahan atau tidak. ”Tidak ada Bu Hakim,” jawab Mento. ”Berarti sesuai ya,” kejar  Hakim Ketua, Tati Astuti, SH,. MH.”Ya, sesuai,” kata Mento mengakui.   

Sekedar mengulang, Pimpinan Redaksi (Pimred) Tabloid MODUS ACEH, H. Muhammad Saleh, SE melaporkan pemilik akun facebook Mento atau bernama asli Mawardi pada Petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Banda Aceh, Senin (2/7/18) sore. Laporan itu terkait komentar Mento yang juga anggota Tim Utama Relawan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah pada Pilkada 2017 lalu. Kecuali itu, Mento juga staf Darwati A.Gani saat masih menjadi anggota DPR Aceh. Dan, laporan itu diterima Bripka Kausar Nasution.

Berawal dari akun facebook Hendro Saky, seorang wartawan di Banda Aceh yang diunggah, 30 Juni 2018. Dalam unggahannya, Hendro Saky mengucapkan turut berduka atas musibah yang dialami Bang Saleh (Pimred MODUS ACEH), karena Kantor Redaksi MODUS ACEH telah dilempar bom oleh orang tak dikenal (OTK), Sabtu pagi, sekira pukul 4.00 WIB, Sabtu.

Lantas, Mento berkomentar dengan kata-kata: “buat bom sendiri, negbom sendiri. Kayak dulu2 jua...Kwkwkwkwkw,” tulis Mento dalam komentarnya. Lalu, sempat dibalas Hendro dengan meminta agar Mento bersabar dan menunggu hasil kerja polisi (Inafis) dan tidak menghakimi dengan menjunjung azas praduga tak bersalah. Tapi bukannya berhenti, Mento masih saja membalas kalimat Hendro.

Itu sebabnya, melalui surat bukti lapor Nomor LPB/409/VII/YAN25/2018/SKPT dan berdasarkan laporan polisi nomor; LPB/409/VII/YAN25/2018/SKPT, tanggal 2 Juli 2018, Muhammad Saleh melaporkan Mento dengan perkara penistaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial facebook. "Ini sudah bisa dikenakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, tentang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE)," kata seorang petugas polisi di Poltabes Banda Aceh, usai mendengar laporan Muhammad Saleh.

Menurut dia, pernyataan Mento di facebook itu tidak perlu terjadi, karena sangat tidak mendasar dan menganggu serta menghakimi kerja polisi. Sebab, belum sampai satu kali 24 jam kejadian peletakkan bom di Kantor Redaksi Tabloid MODUS ACEH, dia sudah berkomentar seperti itu. "Harusnya dia berkaca pada peristiwa bom gereja Surabaya. Ada sejumlah warga yang terpaksa berurusan dengan polisi dari mengunggah sejumlah komentar di media sosial sehingga diproses hukum," ujarnya.***

 

 

Komentar

Loading...