Temuan TPFG, Ada Pamen Polri Peras Gembong Narkoba

Temuan TPFG, Ada Pamen Polri Peras Gembong Narkoba
metrotvnews.com
Penulis
Rubrik
JAKARTA | Sebulan sudah Tim Pencari Fakta Gabungan (TPFG) mencari fakta nyanyian aliran dana Freddy Budiman. Selama 30 hari, tim justru menemukan aliran dana ke pejabat polri yang berasal bukan dari Freddy, melainkan dari terpidana mati Chandra Halim alias Akiong.

Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar yang juga tergabung dalam TPFG memaparkan kesimpulan hasil kerja tim. "Pertama, bahwa benar Haris Azhar telah melakukan pertemuan dengan saudara Freddy Budiman," ucap Boy di PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (15/9/2016).

Lebih lanjut, kedua, dalam pemeriksaan video testimoni pun laporan PPATK dan keterangan sejumlah narasumber, tim tidak menemukan adanya bukti aliran dana dari Freddy ke pejabat polri sebanyak Rp 90 miliar.

"Ketiga, bahwa tidak menemukan informasi signifikan dari pledoi Freddy, kecuali pembelaan normatif yang berisi permohonan pembebasan segala tuntutan," jelasnya.

Terakhir, jelas dia, tim justru menemukan adanya aliran dana ke oknum pejabat menengah (pamen) Polri, yang melakukan pemerasan terhadap terpidana narkoba.

"Bahwa tim menemukan adanya penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh oknum Pamen dengan melakukan pemerasan ke Akiong," tukasnya.

Chandra Halim alias Akiong adalah narapidana Lembaga Pemasyarakatan Cipinang jaringan Freddy Budiman. Pengadilan Negeri Jakarta Barat telah memvonis Akiong hukuman mati setelah terbukti bersalah dalam kasus kepemilikan 1,4 juta pil ekstasi.

Akiong ditangkap pada 8 Mei 2012, saat BNN berhasil membongkar penyelundupan 1,4 juta pil ekstasi. Dalam kasus ini, Akiong tak bermain sendiri. Ada enam orang lainnya yang terlibat, termasuk oknum TNI, yakni Serma Supriyadi.

Kepala Humas BNN Kombes Slamet Pribadi mengatakan, kekuatan gembong narkoba Freddy Budiman dalam menjalankan bisnis narkoba di Indonesia dinilai masih tergolong rendah. BNN menyebut masih ada puluhan jaringan yang lebih kuat dari Freddy, salah satunya adalah Akiong.

Slamet mengatakan, selama ini Akiong penyandang dana Freddy. "Kepandaian dia (Freddy Budiman), pandai action saja," ucap Slamet, Kamis 16 Juni.


Hal senada diungkapkan mantan Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Benny Mamoto. Menurut dia, kelas Freddy masih di bawah Akiong. Kata dia, orang yang memiliki jaringan langsung ke Tiongkok bukanlah Freddy, tapi Akiong.

"Di atas Freddy ada nama Akiong yang punya koneksi. Selama ini dia langsung ke Tiongkok. Dia asal dari Pontianak," kata Benny.


Polemik 'nyanyian' Freddy mencuat ketika Haris mempublikasikan perbincangannya dengan Freddy, pada 2014. Menurut Haris, keterlibatan aparat dalam bisnis narkoba cukup besar. Termasuk, pencopotan kamera pengawas.

Tak hanya itu, dalam perbincangan itu, Freddy mengaku memberi upeti Rp450 miliar kepada oknum anggota BNN dan Rp90 miliar kepada oknum anggota Polri. Pengamanan distribusi narkoba di Indonesia pun tak lepas dari campur tangan aparat.

Freddy juga menyebut dia sempat difasilitasi jenderal bintang dua ketika membawa narkoba dari Sumatera. Bahkan, sang jenderal duduk di samping Freddy yang mengemudikan mobil dari Medan ke Jakarta.

Dia akhirnya meregang nyawa dan dinyatakan tewas usai peluru penembak Brimob menerjang tubuhnya pada pelaksanaan eksekusi mati jilid III di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Freddy merupakan terpidana mati pertama yang dieksekusi pada Jumat 29 Juli 2016. Hal ini dilakukan setelah permohonan Peninjauan Kembali (PK) Freddy ditolak Mahkamah Agung.*

Metrotvnews.com

Komentar

Loading...