Catatan Prestasi Aceh di PON XX-2021 Provinsi Papua

Tangan Dingin Mualem-Abu Razak dan Derajat Prestasi Olahraga Aceh

Tangan Dingin Mualem-Abu Razak dan Derajat Prestasi Olahraga Aceh

Perhelatan akbar, Pekan Olahraga Nasional (PON) XX-2021 Papua telah sepekan berlalu. Berbagai prestasi telah diukir sejumlah provinsi di Bumi Cendrawasih. Salah satunya Aceh. Inilah bukti kerja keras dan tangan dingin Mualem-Abu Razak. Berikut laporan Muhammad Saleh, wartawan MODUSACEH.CO, untuk Liputan Khusus.

MODUSACEH.CO I Suka cita itu masih terasa hingga saat ini. Padahal, PON XX, tanggal 2-15 Oktober 2021 di Provinsi Papua telah sepekan berakhir.

Wajar, bila muncul kepuasan psikologis dari atlet, pelatih serta pegiat olahraga Aceh. Itu tak lepas dari torehan prestasi yang telah diukir para “pejuang” Bumi Serambi Mekah di Bumi Papua.

Rakyat Aceh pun tampak maklum dan puas. Apalagi, tim sepak bola Aceh berhasil lolos ke final, setelah bertarung “mati-matian” dari babak penyisihan hingga titik akhir. 

Inilah penantian panjang setelah 28 tahun prestasi sepak bola Aceh di ajang PON “mati suri”.

Ya, walau belum memenuhi target yang dipatok Ketua Umum KONI H. Muzakir Manaf (Mualeh) untuk membawa pulang 15 medali emas. Namun, hasil yang dituai boleh disebut; sudah memuaskan bila dibandingkan dengan hasil PON XIX-2016 di Provinsi Jawa Barat.

Ketika itu, Aceh hanya meraih 8 medali emas. Sementara di Papua, Aceh membawa pulang 11 medali emas. Terjadi penambahan tiga medali emas.

Keberhasilan tersebut memang tidak datang dari langit dan tiba-tiba. Apalagi membalik telapak tangan. Sebaliknya, melalui pembinaan yang keras, terus menerus dan berkesinambungan. Termasuk alokasi dana yang tidak sedikit. 

Maklum, untuk meraih prestasi puncak memang tidak murah. Selain waktu pemusatan latihan (Pelatda) yang panjang. Juga strategi pembinaan yang mumpuni. Termasuk mengoptimalkan potensi sumber daya atlet dan pelatih berdarah Aceh alias bukan atlet dari luar Aceh.

Untuk menuju PON Papua, KONI Aceh memiliki waktu dua tahun melaksanakan Pelatda. Baik terpusat maupun berjalan. Itu sebabnya, tak kurang Rp142,2 miliar dana dihabiskan. Asumsinya, jika tahun 2018, Rp30 miliar. 2019 (Rp30 miliar), 2020 (Rp30 miliar) dan 2021 (Rp52,2 miliar).

Begitupun, jumlah tersebut belum sebanding atau masih minus jika disandarkan dengan target prestasi yang ditetapkan. Sekali lagi, prestasi itu memang mahal alias tidak murah.

Hanya itu? Tunggu dulu. Dalam dunia olahraga memang dikenal dengan istilah; otot, otak dan nasib. Otot berarti bagaimana membentuk kekuatan pisik atlet sebelum, sedang dan paska bertanding. Termasuk nutrisi dan vitamin.

Sementara otak; dibutuhkan strategi pembinaan dan pelatihan dari Pengurus KONI Aceh, Pengprov Cabor serta pelatih. Sedangkan nasib adalah ikhtiar dari seluruh elemen yang terlibat. Terutama pola kepemimpinan dan manajemen organisasi. 

Inilah bukti tangan dingin Mualem bersama Abu Razak serta Pengurus KONI Aceh dan Pengrov Cabor lainnya.

Bagi Mualem, inilah kepemimpinan paruh akhir yang dia jalani. Sebab, sudah dua periode memimpin KONI Aceh. Dan, sesuai aturan (AD/ART) KONI. Seseorang tak dibenarkan menjabat selama tiga periode.

Bagi Abu Razak, ini catatan penting untuk menerima estafet kepemimpinan KONI Aceh berikutnya (lima tahun mendatang). Pengalaman dan catatan sukses prestasi ini, bisa menjadi amunisi untuk mengulang serta mengukir prestasi  lebih maksimal lagi pada PON XXI-2024 di Aceh dan Sumatera Utara. Semoga! (bersambung).***

Komentar

Loading...