Tak Mampu Tangani Kelumpuhan, RSUDZA Pulangkan Pasien

Tak Mampu Tangani Kelumpuhan, RSUDZA Pulangkan Pasien
Penulis
Rubrik

Banda Aceh l Masih ingat Nur Fadhilah (30), warga asal Gampong Bagok Panah Lhee, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur, yang menjalani proses perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainal Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, 10 Desember 2019 lalu.

Dia harus dirawat, akibat kedua kakinya mengalami kelumpuhan sejak tahun 2011. Itu terjadi setelah melahirkan anak keduanya.

Kondisi Nur Fadhillah sempat viral diberitakan media massa. Sebab, meski menderita lumpuh, ibu dua anak itu tetap bekerja dengan mengandalkan kedua tangan untuk pembuat kerupuk melinjo.

Sebagai tulang punggung keluarga karena suami telah meninggal dunia. Fadhilah harus memenuhi kebutuhan hidup dan membiaya anak-anaknya untuk tetap bersekolah.

Diduga, pertama kali menderita lumpuh setelah melahirkan anak kedua dan saat itu sempat dirujuk ke RS Adam Malik Medan untuk menjalani rontgen.

Direktur RSUDZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine dalam konferensi pers. Selasa, 31 Desember 2019 mengaku, tak mampu menangani pasien tersebut. Itu disebabkan, lima organ tubuh Nur Fadhillah sudah tak berfungsi lagi. Termasuk jaringan saraf pusat.

Itu diketahui setelah melakukan pemeriksaan selama 12 hari (10-31Desember 2019) oleh tim ahli saraf di rumah sakit. Hasilnya, ditemukan tumor jinak di sum sum tulang belakang. 

"Secara ilmu kesehatan belum ada teknologi baik di Eropa, Asia, dan Singapura yang dapat menyembuhkan kelumpuhan tersebut. Saat ini belum ada pengembangan ilmu medis tadi," jelasnya.

Secara medis, jika jaringan saraf otak tak berfungsi total, maka secara teori masih belum bisa diperbaiki. Berbeda dengan tangan yang puntung, dapat disambung kembali.

"Jaringan saraf pusat tidak bisa berfungsi lagi. Namun tidak mengancam hidupnya. Tapi fungsi syaraf sudah berakhir," ungkap Asharuddin.

Selain itu, jika dilakukan tindakan medis operasi, justeru dikhawatirkan akan menambah masalah dan mengganggu organ lainnya. Sehingga RSUDZA Banda Aceh mengambil keputusan bahwa pasien dapat dibantu dengan kursi roda elektrik dan sebagainya.

"Jika diambil tindakan medis, maka tidak ada perubahan yang terjadi. Jika tumor itu diambil, ditakutkan akan berefek kepada penyakit lain. Misalnya infeksi dan sebagainya," sebut dokter Itu.

Sayangnya, menyangkut dengan kursi roda elektrik, pihak rumah sakit mengaku tak ditanggung BPJS. Selain itu kursi roda elektrik sangat terbatas produksinya.

"Tidak di tanggung BPJS. Tapi bisa ditanggung Dinas Kesehatan Aceh. Rumah sakit hanya bisa memberikan kursi roda biasa," jelasnya.***

Komentar

Loading...