Pemecatan Imam Mesjid Viral di Simeulue

Supriadi: Saya Sudah Larang Agar Tidak Dipublikasi

Supriadi: Saya Sudah Larang Agar Tidak Dipublikasi

Simeulue | "Permasalahan pemecatan saya dari Imam Mesjid, sebenarnya telah saya larang agar tidak diekspos ke media, namun akhirnya tetap juga dinaikkan berita ini".

Demikian disampaikan Supriadi, mantan Imam Mesjid Tengku Khalilullah, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue.

Itu disampaikan Supriadi, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Simeulue, di Gedung Dewan setempat, Selasa, 12 November 2019.

RDP tadi dipimpin Poni Harjo, Wakil Ketua DPRK Simeulue. Saat itulah, Supriadi memaparkan masalah pemberhentian dirinya sebagai Imam Mesjid.

Menurutnya, permasalahan ini berawal dari sebuah postingannya pada satu Group WhatsApp (WA) LPTQ Simeulue.

Dalam group itu, ia menyentil terkait lambatnya pemberian bonus dari Pemerintah Kabupaten Simeulue pada kafilah Simeulue, yang berlomba pada MTQ ke 34 di Kabupaten Pidie beberapa waktu lalu.

Sebab, pada MTQ kali ini Simeulue banyak memberikan juara serta telah mengharumkan nama daerah di tingkat Provinsi Aceh.

Lalu, postingan Supriadi tadi mendapat tanggapan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Syariat Islam Kabupaten Simeulue.

Akibatnya, dia dipanggil Drs Hasbi, kepala dinas setempat dan mempertanyakan postingannya tadi. Entah bagaimana kemudian dia diberhentikan dari jabatannya sebagai imam mesjid.

"Tidak lama setelah saya posting info tadi, saya dipanggil Kadis Syariat Islam, untuk mempertanyakan itu, sekaligus langsung saya diberhentikan sebagai imam, yang menurut kadis itu atas perintah atasan," tutur Supriadi.

Dijelaskan Supriadi, setelah itu ia kembali memposting di group WA terkait pemberhentiannya. Nah, disinilah mulai timbul banyak tanggapan terkait hal ini hingga berujung polemik yang cukup panjang hingga ada masyarakat yang saling menyalahkan saat ini.

Bahkan dikatakan Supriadi, satu Minggu setelah pemberhentiannya tadi, ia banyak dihubungi oleh sejumlah media yang ada di Simeulue, guna mempertanyakan permasalahan yang dialaminya. Namun dalam hal ini, Supriadi belum memberikan penjelasan pada sejumlah wartawan tadi.

"Setelah pemberhentian itu saya banyak dihubungi oleh media, mereka mau mencari tahu terkait permasalahan yang saya alami, namun saya tidak memberikan tanggapan pada mereka," jelas Supriadi.

Selang beberapa hari atau 5 November 2019, ada wartawan yang menjumpainya ke rumah di Desa Suka Maju, Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue. Sang wartawan mempertanyakan, terkait pemecatan dirinya sebagi imam mesjid.

"Karena sudah datang ke rumah, tidak mungkin lagi mereka saya suruh pulang. Jadi, saya ceritakan kronologis pemberhentian itu pada teman-teman wartawan tadi. Namun saya katakan, tidak perlu di publikasi ke media. Biarkan saja Allah SWT membalasnya, karena jabatan itu hanya titipan," jelas Supriadi.

Dijelaskan Supriadi, tanggal 6 November 2019, mencuat berita ke publik melalui media pers dan menjadi viral di Simeulue. Dalam berita tersebut tertulis, Supriadi dipecat dari imam mesjid Tengku Khalilullah karena mempertanyakan kapan pencairan bonus untuk Kafilah MTQ.

"Ada berita yang mengatakan saya mempertanyakan kapan pencairan bonus MTQ hingga saya dipecat. Itu tidak benar, dalam postingan di Group WA, saya hanya menyentil, dan memasukkan foto pemberian bonus di Kabupaten Aceh Besar," terang Supriadi.

Sementara itu Raduin, Anggota DPRK Simeulue, mengatakan. Seharusnya Dinas Syariat Islam tidak langsung memberhentikan Supriadi dari jabatannya sebagai imam. Sebaliknya, diberikan peringatan serta pengarahan terkait dengan postingannya tadi.

Karena itu, anggota Komisi D ini memberi rekomendasi pada pihak terkait, untuk mengembalikan jabatan Supriadi sebagai Imam Mesjid, karena dianggap tenaga dan pikirannya masih diperlukan.

Acara RDP tadi, dihadiri sepuluh orang anggota DPRK Simeulue, Drs Astamudin, Sekretaris Dewan serta Hombing, S.Ag, Selaku Kepala Bidang Dakwah dan Peribadatann, Dinas Syariat Islam, Salfianto (Kepala UPTD Dinas Syariat Islam). Sementara Kepala Dinas Syariat Islam setempat sedang menjalankan ibadah umroh di Mekkah.

Hasilnya, perwakilan Dinas Syariat Islam Simeulue ini, tidak terlalu banyak memberikan komentar terkait permasalahan tadi. Sebab mereka enggan untuk menyampaikan terlalu jauh, terkait permasalahan yang sedang mereka hadapi, sebab kapasitas mereka hanya sebagai utusan. Tentu, yang lebih memahaminya langsung adalah kepala dinas.***

Komentar

Loading...