Museum Kota Lhokseumawe Diresmikan

Suadi Yahya: Gali Sejarah Yang Hilang

Suadi Yahya: Gali Sejarah Yang Hilang
Walikota Lhokseumawe, Suadi Yahya (Foto: Zal P)

Lhokseumawe | Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya menilai, di kota ini masih banyak situs sejarah yang terpendam dan terabaikan. Karena itu, Museum Kota harus melakukan penggalian sejarah yang hilang tersebut.

Permintaan ini disampaikan Suadi Yahya, Selasa (22/10) di Lhokseumawe.

Sebelumnya atau Jumat (18/10/2019), Suadi Yahya meresmikan dan membuka Museum Kota Lhokseumawe, di Jalan. T. Hamzah Bendahara, Desa Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, kota setempat.

Itu sebabnya, dia meminta jajaran Museum yang berada dibawah kendali Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, tidak hanya sebatas  memajang benda bersejarah. Tapi juga perlu melakukan penggalian situs sejarah yang hilang.

Tujuannya, agar masyarakat mengetahui tentang sejarah kerajaan Aceh dan asal usul lahirnya nama Kota Lhokseumawe.

Misal, sejarah Panglima Prang Meudarah, Ibrahim Tapa, ulama kharismatik Tgk. Dilhok, yang merupakan cikal bakal kelahiran nama Kota Lhokseumawe dan sejarah lainnya yang masih terpendam.

"Saya minta dilakukan penggalian situs sejarah yang hilang dan masih terpendam dalam tanah. Karena kita tahu kebiasaan orang jaman dulu menyembunyikan barang penting dengan cara menguburkannya dalam tanah," ujarnya.

Walikota juga berharap masyarakat Aceh dapat membawa keluarganya untuk mengunjungi rumah adat Aceh, yang kini menjadi museum, guna dapat melihat dan mengenal sejarah silam.

Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe Nasruddin mengaku. Pihaknya akan melakukan penggalian dan menelusuri situs sejarah hilang, yang masih terpendam diberbagai tempat bersejarah.

Kegiatan itu akan dilaksanakan dengan menjalin kerjasama dengan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat, terutama dalam pengadaan alat pendeteksi benda bersejarah.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pemugaran situs sejarah yang selama ini tidak terurus dengan baik.

Salah satunya makam Putroe Phang di Desa Paloh, Kecamatan Muara Satu. Bila sudah dipugar, maka tentunya akan menarik minat masyarakat berziarah dan berwisata bersama keluarga.

Untuk mengalokasikan anggaran pemugarannya serta pengadaan replika situs sejarah, tentu sangat bergantung pada APBN.

Karena hampir sebagian besar situs sejarah yang ada di Lhokseumawe belum diregistrasi sehingga perlu di daftarkan dulu pada pemerintah pusat.

Untuk itu, dia juga mengimbau seluruh masyarakat ikut membantu, menemukan benda bersejarah untuk  Museum Kota Lhokseumawe.

Terutama bagi masyarakat yang memiliki benda bersejarah agar dapat menyerahkannya kepada Museum Kota Lhokseumawe. "Pemerintah akan melakukan ganti rugi dengan nilai yang layak,"  katanya.***

Komentar

Loading...