Situasi Memanas, Ribuan Warga Myanmar Siap Kabur ke Thailand

Situasi Memanas, Ribuan Warga Myanmar Siap Kabur ke Thailand
Ribuan warga Myanmar bersiap kabur ke Thailand untuk menghindari situasi yang kian panas karena peningkatan saling serang antara militer dan milisi etnis Karen. (Karen Women's Organization via Reuters)
Penulis
Rubrik
Sumber
cnnindonesia.com

Jakarta | Ribuan warga Myanmar bersiap kabur ke Thailand untuk menghindari situasi yang kian panas karena peningkatan intensitas saling serang antara militer dan milisi etnis di Karen.

Lembaga pemantau Jaringan Dukungan Perdamaian Karen (KPSN) melaporkan bahwa ribuan warga itu saat ini sudah berkumpul di Salween, daerah yang berbatasan langsung dengan Thailand. Mereka akan menyeberang ke Thailand jika situasi kian parah.

"Dalam beberapa hari mendatang, lebih dari 8.000 warga Karen di bantaran sungai di Salween akan kabur ke Thailand. Kami harap tentara Thailand akan membantu mereka kabur dari peperangan ini," demikian pernyataan KPSN melalui Facebook.

Sementara itu, sejumlah warga Myanmar sudah mulai melintasi perbatasan dan kini berada di Thailand, salah satunya Chu Wah.

"Orang-orang bilang mereka [militer] akan datang dan menembaki kami, jadi kami kabur ke sini. Saya harus menyeberangi sungai," ujar Chu Wah merujuk pada Sungai Salween yang membatasi kedua negara.

Warga Thailand yang tinggal di perbatasan dengan Myanmar pun mulai menyelamatkan diri ke tempat lebih aman.

"Situasinya kian buruk dan kami tidak bisa kembali. Para aparat keamanan tidak akan membiarkan kami kembali," ujar Warong Tisakul, seorang warga Mae Sam Laep, desa yang berbatasan langsung dengan Myanmar.

Saling serang antara militer dan milisi etnis Karen (KNU) memang terus terjadi dalam beberapa hari belakangan.

KNU menduduki salah satu pos militer di Karen dan membakarnya pada Selasa. Keesokan harinya, militer Myanmar membalas dendam dengan melancarkan serangan udara di wilayah perbatasan dengan Thailand itu.

Pertarungan antara KNU dan militer Myanmar memang kerap terjadi. Namun,    kontak senjata kian sering setelah militer mengudeta pemerintahan sipil pada 1 Februari lalu.

Selain KNU, sejumlah milisi etnis lain di perbatasan-perbatasan Myanmar juga mulai melancarkan serangan untuk mendukung perjuangan demonstran antikudeta.***

Komentar

Loading...