Sidang Pengesahan Raqan 2020 tak Capai Kourum

Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan Sejumlah Anggota DPRA Setali Tiga Uang

Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan Sejumlah Anggota DPRA Setali Tiga Uang
Foto: M. Yusrizal/MODUSACEH.CO

Banda Aceh | Dewan Perwakilan Rakyat Aceh sepertinya sedang ketar-ketir mengesahkan delapan Rancangan Qanun (Raqan), yang sebelumnya telah diparipurnakan, Senin, 28 Desember 2020.

Terkesan tak ada keseriusan. Lihat saja sidang paripurna hari ini, Rabu (30 Desember 2020). Agenda penyampaian pendapat akhir Gubernur Aceh Nova Iriansyah terhadap delapan Raqan Program Legislasi Aceh Prioritas tahun 2020, ternyata tidak mencapai forum.

Penyebabnya jelas, sejumlah anggota DPRA tidak hadir mengikuti rapat. Bahkan amatan media ini,  Dahlan Jamaluddin (Ketua DPRA) dan Safaruddin (Wakil III DPRA) yang biasanya selalu hadir memimpin sidang, namun kali ini "absen".

Fuadri, anggota Komisi I DPRA dari Fraksi PAN menilai. Ketidakhadiran sejumlah anggota DPRA dalam rapat akhir ini, karena tidak adanya itikad baik dan keseriusan yang diperlihatkan Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Sebab, sebelumnya (28/12/2020) Nova Iriansyah juga berhalangan hadir, lantaran memilih membuka acara Konferensi Wilayah (Konferwil) XIII, Gerakan Pemuda Ansor Aceh di Asrama Haji Banda Aceh.

"Hari ini yang hadir mewakili pemerintahan Aceh adalah Asisten III bukan Pak Gubernur. Ya, mungkin kawan-kawan DPRA merasa ini tidak serius, makanya banyak yang tidak hadir," ungkap Fuadri dalam interupsi rapat.

Kepada panitia rapat, media ini mencoba minta diperlihatkan absensi kehadiran anggota dewan, sebab publik Aceh perlu tahu wakil mereka yang telah dipilih apakah hadir dalam rapat untuk kepentingan rakyat Aceh atau tidak.

Namun, dengan dalih perlu persetujuan pimpinan dan sederetan alasan lain, media ini gagal mengantongi nama-nama tersebut. Namun, informasi yang berhasil dihimpun, hanya 41 dari 81 anggota dewan yang hadir dalam ruang sidang pagi menjelang siang tadi.

Sebelumnya, rapat hari ini dibuka pada pukul 10.21 WIB, lantaran tidak mencukupi kuorum. Hendra Budian (wakil ketua II) yang bertindak selaku pimpinan sidang didampingi Dalimi (Wakil Ketua I DPRA) melakukan skor selama 1x10 menit.

Begitupun, pukul 10.26 skor dicabut dan lagi-lagi kuorum belum juga tercapai. Padahal Hendra Budian telah mengintruksikan kepada ketua fraksi untuk menghubungi para anggotanya.

Walau tidak mencukupi kuorum sidang mendengar pendapat akhir Gubernur Aceh yang diwakilkan Asisten Admnistrasi Umum Setda Aceh, Drs Bukhari, MM, tetap berlanjut.

"Demikian, delapan Rancangan Qanun Aceh dapat kami setujui menjadi Qanun Aceh dengan beberapa penyempurnaan serta proses yang harus kita tindak lanjuti sesuai peraturan perundang-undangan," baca Bukhari pada laporan pendapat akhir Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Karena tidak mencukupi kuorum, DPRA tidak bisa menyempurnakan dan memutuskan delapan Raqan di dalam sidang paripurna. Amatan media ini, rapat dialihkan ke Badan Musyawarah (Bamus) DPRA untuk menentukan keputusan lanjutan.

Syukur, rapat dalam Banmus berdurasi lebih kurang satu jam telah membawa hasil untuk disetujuinya delapan Raqan Aceh. Selanjutnya, pukul 12.20 WIB hasil dari Bamus dibawa kembali dalam ruang paripurna.

Apakah Rancangan Qanun ini sepakat untuk ditetapkan sebagai keputusan dewan? Tanya Budian kepada forum, lalu diikuti teriakan kata "sepakat" seluruh anggota yang hadir. Hendra Budian pun mengetok palu.

Selanjutnya, digelar penutupan masa sidang paripurna DPRA dengan agenda penetapan Qanun Aceh Program Legislasi Aceh Perioritas tahun 2020.

Walau terlihat pelik dan mengejar waktu pengesahan akhir tahun, delapan Qanun Aceh telah berhasil ditetapkan DPR Aceh. Semoga realisasi ke depannya tidak setengah hati, seperti persidangan pembahasan yang terkesan main-main ini.***

Komentar

Loading...