22 Oktober 2020-22 Desember 2020

Setelah 62 Hari ‘The Man Behind The Gun’ Menghadap Sang Khalik

Setelah 62 Hari ‘The Man Behind The Gun’ Menghadap Sang Khalik
Almarhum Bang Syaf bersama istri (Foto: Dok. Keluarga)
Rubrik

Selasa, 22 Desember 2020, 62 hari berlalu (22 Oktober 2020), H. Syafruddin Budiman menghadap sang khalik.  Kepergian ‘The Man Behind The Gun’ itu pun meninggalkan sejumlah kenangan bagi keluarga serta kolega. Dari Letjen TNI Doni Monardo hingga Muzakir Manaf.

MODUSACEH.CO I Seperti ratusan atau bahkan ribuan rekan dan sahabatnya. Saya salah satu yang belum mampu melupakan kepergian H. Syafruddin Budiman atau akrab disapa Bang Syaf.

Entah itu sebabnya, saya pun tak mampu meluapkan berbagai kenangan indah bersama Bang Syaf, saat pengusaha dan politisi humanis ini pergi untuk selamanya.

Dia menghadap sang khalik, Kamis, 22 Oktober 2020, sekira pukul 06.00 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

Walau sempat beberapa kali mencoba, tapi kepala terasa berat, dada pun bagai sesak ketika akan mulai menulisnya.

Tergiang berbagai canda dan pesan dari sosok yang sudah saya anggap abang ini.

“Jangan lupa undang saya kalau si Kakak menikah dan pesta, Insha Allah, kalau ada umur panjang, saya dan Mama Ewin (istrinya) datang,” ujarnya sekali waktu.

Saat itu, 28 Juni 2017, persis lebaran Idul Fitri ketiga. Seperti biasa, saya mudik lebaran ke Lhokseumawe dan berlanjut ke Kampung ayah dan ibu mertua saya di Labuhan (Kuta Binjai) serta Gampong Ceumpeudak (Ule Gajah), Kabupaten Aceh Timur.

Nah, saat kembali ke Banda Aceh, saya bersama istri dan ketiga anak, singgah di rumah Bang Syaf di Panton Labu, Aceh Utara. Di sanalah, pesan dan keinginan itu disampaikan.

Saat itu, Bang Syaf menatap wajah Alysa, putri saya satu-satunya. “Sudah ada jodoh Nak, kapan nikah? Insha Allah, kalau Abuwa sehat pasti datang,” katanya bercanda.

Begitupun, langkah, rezeki, pertemuan dan maut hanya milik Allah SWT. Bang Syaf tak dapat menyaksikan akad nikah dan pesta pernikahan putri saya, tanggal 19 Desember 2020 lalu, seperti yang dia inginkan.

Dia telah memenuhi panggilan Allah untuk selama-lamanya. Alfatihah. Semoga Allah memberinya husnul khatimah. Aamin.

***

Menyebut nama Bang Syaf, tentu tak ada yang tidak kenal dengan politisi dan pengusaha satu ini. Sebab, dialah salah satu aktor dibalik Damai Aceh, 15 Agustus 2005 silam.

Namun, sosoknya nyaris tidak terpublikasi media pers. Putra asli Kabupaten Bireuen dan bermukim di Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara ini, tak hanya dikenal bagi kalangan kombatan dan elit GAM, khususnya Wilayah Pase (Aceh Utara) tapi juga petinggi TNI.

Ini disebabkan, cara dia bergaul dan berkomunikasi serta pengetahuannya yang luas tentang konflik Aceh, membuat ayah lima anak ini menjadi tempat bertanya bagi para pihak yang bertikai saat itu.

20201222-bang-syaf3

Almarhum Bang Syaf bersama Pengurus DPP Partai Hanura (Foto: antaranews.com)

Antara saya dan Bang Syaf, memang bukan sebatas ikatan abang dan adik. Lebih dari itu, mantan anggota DPR Aceh ini pun, sekaligus menjadi guru, tempat saya bertanya dan berdiskusi banyak hal, terutama saat Aceh masih dilanda konflik.

Bahkan, soal Kodam Iskandar Muda yang berdiri pada 22 Desember 1956 dan kemudian dilikuidasi pada 1985 hingga dihidupkan kembali, 5 Februari 2002. Saya banyak berdiskusi panjang dengan Bang Syaf.

Mulai dari ba’da magrib hingga menjelang subuh. Itu terjadi di Banda Aceh, Panton Labu hingga Jakarta dan semua itu terjadi sejak lama.

Puncaknya tahun 1998, 2000 hingga 2001, saat itu saya masih menjadi anggota Tim Penasehat Presiden RI BJ. Habibie, Urusan Penyelesaian Konflik Aceh yang dipimpin almarhum H. Usman Hasan.

Salah satu perintah Bang Usman saat itu adalah, saya wajib bertemu dan meminta pendapat Bang Syaf sebagai tokoh Aceh, terkait rekomundasi untuk diaktifkan kembali Kodam Iskandar Muda kepada Presiden Habibie. Termasuk usulan agar status Polda Aceh ditingkatkan dari tipe B menjadi A.

Ketika itu, Bang Syaf menyatakan kesepakatannya dan kerja panjang dari tahun 1998 tadi baru terwujud tahun 2002 saat negeri ini dipimpin Megawati Soekarno Putri.

Sebelumnya atau persis 1998, saat saya menjadi Ketua Badko HMI Aceh, satu-satunya peunetoh atau petuah (nasihat) yang saya minta juga pada Bang Syaf, terkait desakan agar Daerah Operasi Militer (DOM) dicabut.

Ini saya lakukan, setelah bertemu Jenderal TNI Fachrurrazi, Wakil Panglima TNI ketika itu di Pendopo Bupati Aceh Utara, saat dipegang Tarmizi A. Karim. Maklum, kondisi saat itu benar-benar genting.

Posisi saya ibarat buah simalakama. Maju kena, mundur kena, apalagi setelah Ketua DPR Aceh Mayjen TNI (Purn) HT Djohan, Rektor Unsyiah Prof. Dr Dayan Dawod serta Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr. Safwan Idris, syahid ditembak orang tak dikenal (OTK).

Di satu sisi, ada yang tak setuju DOM dicabut sehingga saya dinilai sebagai pihak yang anti operasi bahkan cenderung mendukung gerilyawan. Di sisi lain, saya dinilai sebagai ‘antek’ TNI, karena bisa berkomunikasi dengan Jakarta.

Termasuk, saat mendukung pengaktifan kembali Kodam Iskandar Muda dan peningkatan status Polda Aceh. Padahal, saya bisa kenal dengan beberapa jenderal dan sejumlah pimpinan tinggi TNI saat itu, karena jasa Bang Syaf.

Nah, itu sebabnya, saya  atau mungkin juga sejumlah rakyat Aceh lainnya, yang paham dan mengerti rekam jejak konflik Aceh, harus mengakui bahwa sosok Bang Syaf adalah; ‘The Man Behind The Gun’. Andai tak ada Bang Syaf ketika itu, bisa jadi saya hanya tinggal nama.

“Itu adik saya, jangan nganggu dan sentuh dia,” begitu tegas Bang Syaf, sekali waktu pada satuan operasi yang bertugas di Aceh Utara. Dikesempatan berbeda, Bang Syaf juga menyelamatkan nyawa saya.

“Nyan adoe lon, bek na yang peukaru (Dia itu adik saya, jangan nganggu),” kata Bang Syaf, saat saya dituding sebagai anggota TNI dalam sebuah operasi kombatan GAM di Wilayah Pasee.

Itu terjadi, karena rambut saya cepak. Mereka menduga, saya adalah oknum TNI  (intel) yang menyamar jadi wartawan.

Dari Doni Monardo Hingga Mualem

Kepergian Bang Syaf untuk selamanya juga menyimpan duka mendalam bagi Letjen TNI Doni Monardo. Mantan Danjen Kopassus ini pun mengaku berduka.

“Almarhum humanis dan kita kehilangan tokoh,” ucap Doni seperti diwartakan laman klikkabar.com, Kamis, 22 Oktober 2020.

Karena kedekatan itulah, Doni meminta jajaran Kodam Iskandar Muda saat itu untuk membantu dan menyelesaikan kepulangan jenazah Bang Syaf dari Banda Aceh ke Panton Labu hingga pemakaman di kota kelahirannya, Bireuen.

Ucapan duka saat itu juga datang dari Ketua KPA/PA H.Muzakir Manaf (Mualem). “Kita kehilangan tokoh dan kader terbaik Aceh. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah,” kata Mualem, Kamis, 22 Oktober 2020.

20201222-bang-syaf1

Almarhum Bang Syaf bersama Mualem (Foto: Klikkabar.com)

Menurut Mualem, almarhum semasa hidupnya merupakan sosok yang sangat berkontribusi terhadap perjuangan Aceh. Sebagai politisi dan pernah memimpin partai nasional. Almarhum salah satu tokoh terbaik Aceh yang konsisten mendukung perjuangan.

“Alamrhum sudah saya anggap abang sendiri. Kami selalu bertukar pikiran dalam berbagai masalah,” ucap Mualem.

Pendapat Doni Monardo dan Mualem tadi bukan tanpa sebab. Maklum, almarhum Bang Syaf merupakan tokoh politik Aceh yang dihormati elit Jakarta dan ditakzim sejumlah petinggi atau elit GAM.

Inilah salah satu tokoh perdamaian Aceh yang tak banyak di kenal publik secara umum.

Namun, cukup melekat bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan kondisi konflik Aceh sesungguhnya. Apalagi, dia sangat tidak suka untuk tampil secara terbuka, kecuali saat maju ke gelanggang politik.

Tanggal 22 Desember 2020, sudah 62 hari (22 Oktober 2020) kepergian sosok tokoh politik dan pengusaha humanis dan murah hati itu. Berbagai kenangan masih melekat dalam ingatan saya. Termasuk satu jam tangan yang dia berikan dan masih saya simpan.

“Engkau telah dulu pergi Bang. Kami pun akan menyusul entah kapan. Sebab, kematian itu pasti dan janji Allah SWT. Dalam tidur panjang mu, kami kirimkan doa, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT dan husnul khatimah. Aamiin”.***

Komentar

Loading...