Seleksi Manajemen BPKS dan "Inferiority Complex" Nova Iriansyah?

Seleksi Manajemen BPKS dan "Inferiority Complex" Nova Iriansyah?
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah (Foto: Dok.MODUSACEH.CO)
Penulis
Rubrik

Seleksi calon Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) kembali menyedot perhatian publik di Aceh. Simaklah, belum lagi hasil seleksi melalui fit and proper test beberapa waktu lalu tuntas. Eeh, Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah justeru mengusulkan nama lain untuk mendapat pertimbangan Ketua DPR Aceh. Benarkah karena pengaruh orang di sekitarnya atau memang di sudah mengidap; "superiority complex?" Wartawan MODUSACEH.CO, Muhammad Saleh dan Yusrizal menulisnya.

Desas desus,  gosip, gunjingan dan obrolan tentang usulan nama baru untuk posisi manajemen BPKS, memang sudah lebih dulu berselewiran dan berselancar di media sosial seperti facebook. Disusul kemudian pada beberapa media daring.

Akibatnya, lagi-lagi mampu menyita perhatian publik.

Bisa jadi, munculnya kebijakan ini sebagai pengalihan isu dari tim penasihat khusus (Pensus) Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, setelah gagal “meraih“ simpati dari DPR Aceh, terkait sidang paripurna pembentukan Pansus Proyek Oncolgy di RSUDZA, penyaluran Kredit PT. Bank Aceh Syariah (BAS) Rp83 miliar kepada sohibnya Makmur Budiman serta pembatalan proyek multi years 2020-2022.

Kerja kurang cerdas ini, berjalan seiring dengan semakin meningkatnya warga Aceh yang terpapar virus corona (Covid-19), sementara pengelolaannya berjalan tidak transparan, terutama soal pengunaan dana.

Maka, muncullah taglen baru; Virus Corona Itu Ada dan Nyata!

Tapi, lupakan sejenak dua persoalan tadi dan kembali pada masalah manajemen BPKS.

Baca: Putusan Konyol di Tengah Tuntutan Akal Sehat

Nah, sesuai suratnya kepada Ketua DPR Aceh, Nomor: 515/9970, sifat segera, perihal mohon pertimbangan, tanggal 16 Juli 2020. Nova Iriansyah mengaku telah membentu tim assesor dengan keputusan Gubernur Aceh, Nomor: 515/1265/2020.

“Tim ini melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon kepala manajemen BPKS dan dinyatakan layak serta memenuhi kreteria, sesuai lampiran,” begitu tulis Nova dalam suratnya tadi.

Menariknya, dalam lampiran surat tersebut, Nova Iriansyah mengusulkan nama Iskandar Zulkarnen sebagai Kepala BPKS, mengantikan Razuardi (Plt Kepala BPKS). Disusul Teuku Zanuarsyah (Wakil Kepala), mengantikan kursi yang selama ini diduduki Islamuddin.

Di jajaran deputi, tiga nama dibuang yaitu, Muslem Daud (Deputi Umum), Agus Salim (Deputi Komersial dan Investasi) serta Fauzi Umar (Deputi Teknik, Pengembangan dan Tata Ruang).

Tiga posisi tersebut kemudian digantikan Abdul Manan, yang sebelumnya Deputi Pengawasan, diusulkan menjadi Deputi Umum. Erwanto (wajah baru) menjadi Deputi Komersial dan Investasi, Azwar Husein (Deputi Teknik, Pengembangan dan Tata Ruang) serta Zamzami (Deputi Pengawasan).

“Berdasarkan Pasal 75 ayat (1), Paraturan Gubernur Aceh Nomor 17 Tahun 2014, kami mohon pertimbangan terhadap calon Kepala BPKS,” tulis Nova berikutnya kepada Ketua DPR Aceh.

Sebatas ini tentu tidak ada yang salah. Sebab, sesuai Paraturan Gubernur Aceh Nomor 17 Tahun 2014, Nova diberi kewenangan untuk itu.

Baca: Gawat! Semua tak Penuhi Syarat Batas Nilai Maksimal

Hanya saja, jika dalam suratnya Nova meminta pertimbangan Ketua DPR Aceh. Yang jadi soal adalah, bagaimana dengan nama Usman Arifin yang telah direkomundasikan sebagai Kepala BPKS.

Selain itu, ada pula surat serupa dari anggota Dewan Kawasan Sabang (DKS) yaitu, Walikota Sabang dan Bupati Aceh Besar. Bahkan, Usman Arifin telah mengikuti fit and propertest sebagai calon Kepala BPKS beberapa waktu lalu.

Untuk kerja yang disebut-sebut profesional ini, Pemerintah Aceh telah mengeluarkan anggaran Rp300 juta lebih yang bersumber dari APBA. Bahkan, sejak tahun 2018, Pemerintah Aceh telah dua kali menyeleksi melalui fit dan proper test calon kepala dan manajemen BPKS.

Tapi, alih-alih menetapkan calon sesuai hasil test. Yang terjadi justeru hingga kini belum ada nama calon kepala BPKS yang ditetapkan dan dilantik Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Itu sebabnya, karena mengunakan dana APBA, tentu sudah sepantasnya DPR Aceh memanggil dan meminta pertanggungjawaban dari Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Di sudut lain, muncul pertanyaan. Apakah semua keputusan “ambigu” Nova Iriansyah tadi karena dipengaruhi para “pembisik” (tim pensus) di sekitarnya atau memang berasal dari dalam diri Nova Iriansyah sendiri?

Atau, jangan-jangan Nova Iriansyah memang sudah mengidap; "superiority complex" yaitu, satu masalah yang dilatarbelakangi keinginan untuk mencapai kesempurnaan dalam setiap aspek kehidupan (kepemimpinanya). Maklum, seseorang orang yang mengidap sifat tersebut, tidak ingin dipandang rendah oleh banyak orang, padahal belum tentu orang lain merendahkannya.

Seseorang yang mengidap sifat "superiority complex", memang memiliki harga diri atau self-worth yang terlalu tinggi. Karena itu jangan heran sering mengeluarkan klaim arogansi, namun tidak didukung kenyataan yang sebenarnya.

Termasuk memberikan perhatian penuh pada penampilan dirinya sehingga memiliki opini yang terlalu tinggi terkait diri sendiri. Entahlah!

Sebab, para ahli pun belum bisa memastikan penyebab dari "superiority complex" ini. Namun, diperkirakan, kondisi psikologis itu dapat terjadi karena kejadian atau momen di masa lalu pada orang yang bersangkutan.

Misalnya, sering mengalami kegagalan di masa lalu bisa jadi memicu munculnya "superiority complex". Stres karena kegagalan akan cenderung ia sembunyikan, serta berpura-pura bahwa ia tak memiliki masalah.

Apabila pelarian dan sikap pura-pura tersebut terus ia lakukan, tentu ada kemungkinan munculnya perasaan bahwa dia lebih baik dari orang lain. Tentunya, bagi beberapa orang ini dianggap sebagai sifat arogansi alias kesombongan.

Perilaku tersebut bisa muncul saat orang bersangkutan masih kanak-kanak. Namun, individu pada fase remaja dan dewasa juga berisiko mengembangkan sifat "superiority complex" tersebut.

Termasuk ya itu tadi, memiliki citra diri yang suka menguasai tapi enggan untuk mendengarkan orang lain dan mood swing atau umumnya memiliki sifat rendah diri yang tersembunyi.

Nah, hanya Nova Iriansyah yang tahu dan merasakan. (selanjutnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...