Akibat Pandemi Covid-19

Selain Indonesia, Delapan Negara Putuskan Pembatalan Pemberangkatan Haji

Selain Indonesia, Delapan Negara Putuskan Pembatalan Pemberangkatan Haji
Foto okezone.

Jakarta | Negara Malaysia dan Brunei Darussalam akhirnya membatalkan juga pemberangkatan calon jamaah haji tahun 2020.

Keputusan tersebut sama seperti yang telah diambil pemerintah Indonesia dan Singapura, yang lebih dulu membuat langkah serupa. Masalah keselamatan dan kesehatan akibat masih mewabahnya pandemi virus corona (Covid-19) menjadi alasan utama pembatalan itu.

Dilansir dari laman Reuters, pengumuman pembatalan keberangkatan jamaah haji 2020 tersebut disampaikan Menteri Agama Islam Malaysia, Zulkifli Mohammad Al-Bakri. Ia menyebut, keputusan ini diambil berdasarkan berbagai pertimbangan, salah satunya belum ditemukan vaksin untuk virus corona.

“Berdasarkan rapat dengan Kementerian Kesehatan Malaysia, Lembaga Tabung Haji, dan Rapat Komisi Khusus Muzakarah Dewan Nasional Agama Islam pada 9 Juni 2020, pelaksanaan haji musim 1441 H ditangguhkan,” kata Zulkifli.

Rencananya, sebanyak 31.600 jamaah haji asal Malaysia yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Menurut Zulkifli, keputusan tidak memberangkatkan jamaah haji tahun ini merupakan keputusan yang sulit. Selain itu, hingga saat ini juga belum adanya keputusan dari pemerintah Arab Saudi terkait prosedur pelaksanaan haji, padahal waktunya sudah sangat dekat.

“Sampai saat ini, Arab Saudi masih menutup pintu ke negaranya untuk ibadah umrah. Saya berharap jamaah tetap bersabar dan menerima keputusan ini,” ujarnya.

Selain Malaysia, Brunei Darussalam juga membuat keputusan serupa. Keputusan itu diumumkan langsung Menteri Agama Brunei, Awang Badaruddin Othman, berdasarkan persetujuan Sultan Hassanal Bolkiah.

“Yang Mulia Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah ibni almarhum Sultan Haji Omar Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien, Sultan dan Yang Dipertuan dari Brunei Darussalam memberikan persetujuannya atas rekomendasi Dewan Agama Islam Brunei, untuk membatalkan partisipasi jamaah haji Brunei tahun ini. Berarti Brunei tidak akan mengirimkan 1000 jamaah haji tahun ini,” jelas Awang Badaruddin.

Berdasarkan Hukum Syara’, sebagaimana dinyatakan dalam Fatwa Mufti Negara Nomor 14 Tahun 2020 tentang Partisipasi Jamaah Haji, dipastikan pandemi virus corona masih menjadi ancaman global dan penyebaran virus ini tidak mungkin berhenti dalam waktu dekat.

“Pemerintah Arab Saudi juga berusaha memutuskan rantai transmisi Covid-19, termasuk menerapkan jam malam, penangguhan umrah dan penutupan masjid di tanah suci, seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi,” sebutnya.

Dengan dikeluarkan keputusan Malaysia dan Brunei Darussalam itu, maka sudah delapan negara yang membatalkan pemberangkatan calon jamaah haji tahun 2020. Yaitu, Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, India, Mesir, Uzbekistan, dan Afrika Selatan.

Diketahui, Singapura merupakan negara pertama yang memutuskan tidak memberangkatkan jamaah haji tahun ini pada 15 Mei lalu. Selanjutnya, disusul Indonesia pada 2 Juni 2020. Barulah dalam pekan ini diikuti Malaysia, Brunei, dan Afrika Selatan.

Alasan pembatalan hampir serupa semua, yakni belum adanya kepastian dari Arab Saudi terkait pelaksanaan ibadah haji tahun 2020. Padahal, pelaksanaan haji sudah kurang dari dua bulan lagi.

Sebelumnya, menurut Konsulat Haji di KJRI Jeddah, Endang Jumali. Arab Saudi telah menyiratkan adanya pembatalan haji karena pandemi virus corona. Salah satunya adalah meminta negara-negara untuk tidak menyelesaikan dulu kontrak haji sampai jelas kondisi dunia secara global.

“Sesuai surat dari Kemenhaj tanggal 6 Maret 2020, tidak ada penandatanganan kontrak sampai ada edaran (pemberitahuan) selanjutnya,” kata Endang Jumali.

Sementara itu Konsul Jenderal RI untuk Jeddah (KJRI Jeddah) Eko Hartono mengatakan. Waktu yang mepet membuat persiapan haji hampir mustahil dilakukan. Pakistan, contohnya, adalah negara yang seharusnya paling awal mengirim jamaah haji ke Tanah Suci.

“Negara yang selalu paling awal datang pertama adalah Pakistan, yaitu tanggal 20 Juni. Sekarang sudah tanggal 12 Juni, dengan waktu yang tersisa 8 hari, hampir mustahil negara luar Saudi bisa mempersiapkan haji,” ungkap Eko.

Adapun untuk kloter pertama dari Indonesia biasanya tiba di Saudi pada 25 Juni. Sementara persiapan di Tanah Suci sama sekali belum dilakukan karena Arab Saudi meminta penangguhan teken kontrak. Menurutnya, keputusan Indonesia membatalkan pemberangkatan haji tahun 2020 sudah melalui berbagai pertimbangan. Terutama pertimbangan keselamatan dan kesehatan jamaah, serta waktu persiapan yang sudah sangat mepet.

Sebelumnya, pada 2 Juni 2020, Menteri Agama Fachrul Razi menyatakan. Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan tidak memberangkatkan calon jamaah haji (CJH) 2020. Keputusan itu berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia (WNI).

“Pemerintah memutuskan tidak memberangkatkan jamaah haji pada 2020 atau tahun 1441 Hijriah,” kata Menag dalam jumpa pers yang disiarkan langsung melalui YouTube, Selasa.

Fachrul Razi menyampaikan, keputusan ini diambil dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya, pemerintah Arab Saudi hingga saat ini masih belum membuka akses masuk bagi negara manapun terkait pandemi virus corona (Covid-19).

“Tidak mungkin lagi memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan, utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jamaah,” ujarnya.

Lanjutnya, pemerintah juga telah berupaya maksimal. Namun keputusan pemerintah tidak memberangkatkan CJH pada 2020 ini harus diambil meski pahit.

Dalam keputusan itu, Fachrul menegaskan bahwa pembatalan pemberangkatan ibadah haji tahun ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali.

Artinya, pembatalan itu tidak hanya berlaku untuk jamaah yang menggunakan kuota haji pemerintah baik regular maupun khusus, tapi juga jemaah yang akan menggunakan visa haji mujamalah atau undangan, atau furada yang menggunakan visa khusus yang diterbitkan pemerintah Arab Saudi.

Diketahui, tahun 2020 ini, Indonesia mendapat jatah haji sebanyak 221.000 orang, terdiri dari 203,320 orang CJH regular, dan 17,680 kouta haji khusus.

Sementara, sebanyak 4.187 CJH asal Provinsi Aceh yang telah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BIPIH), dipastkan gagal berangkat ke Tanah Suci tahun 2020. Sisanya 191 orang, terkonfirmasi dengan status tidak melunasi BIPIH, sebelum dikeluarkan keputusan Menteri Agama RI Fachrul Razi, terkait peniadaan ibadah haji untuk CJH Indonesia.***

Komentar

Loading...