Jembatan Teupin Mane

Saksi Bisu Eksekusi Anggota PKI (Habis)

Saksi Bisu Eksekusi Anggota PKI (Habis)
Jembatan lama sudah runtuh di terjang banjir, di jembatan lama inilah terjadi eksekusi terhadap anggota PKI tahun 1965.
Penulis
Rubrik

Jembatan Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen dikenal sebagai salah satu ladang pembantaian terhadap mereka yang dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Dieksekusi tanpa peradilan, sesuai perintah penguasa militer saat itu. Jembatan ini dibangun tahun 1905 dan  jembatan itu sudah tidak ada lagi karena terseret banjir. Jikapun ada, hanya sisa onggokan beton penyanga yang terendam di tengah sungai.

Begitupun, jembatan ini telah menjadi saksi bisu, betapa ganasnya aksi pembantaian orang-orang dituduh atau benar kader maupun anggota PKI di Bireuen. Jembatan ini berada di kilometer sepuluh yang menghubungkan Kabupaten Bireuen dengan Kabupaten Bener Meriah dan Takengon. Kini, jembatan itu sudah dibangun baru dengan kontruksi rangka baja. Letaknya tidak jauh dari jembatan lama.

Tgk Abdul Hamid, seorang tokoh di sana bercerita.  Dia sempat menyaksikan sejumlah orang dilempar dalam sungai dengan ceceran darah segar membasahi lantai jembatan yang kondisinya  memang sudah rusak. Menurut lelaki yang mengaku berusia 100 tahun ini, kader, anggota dan simpatisan PKI yang ditangkap tahun 1965, dibawa ke jembatan itu untuk kemudian dibantai, sebelum dilempar ke sungai Krueng Peusangan tersebut.

Begitupun, ia enggan menyebut pasti jika anggota PKI dieksekusi dengan cara menggorok leher. Sebab, saat itu, suasana gelap. Tapi, beberapa saat kemudian, ia mengaku sempat melihat darah segar membasahi lantai jembatan. Anggota PKI yang akan dibantai itu, ia yakini bukan dieksekusi di tempat lain. Tapi, sengaja dibawa dengan menggunakan mobil ke jambatan itu untuk dieksekusi.

Terkait tidak adanya proses pengadilan sebelum dieksekusi mati, menurut dia, saat itu suasana sangat mencekam. “Tentu yang namanya proses pengadilan sangat tidak mungkin,” katanya. Dia pun tidak bisa memastikan, apakah mereka itu benar-benar anggota PKI atau bukan, termasuk orang-orang yang membantai. Dan, siapa yang membantai. Tgk Abdul Hamid tidak mengenalnya.

Menurut lelaki yang sudah uzur, namun ingatannya masih kuat ini, PKI sudah masuk ke Aceh jauh sebelum tahun 1965. Tapi, dia tahu dari mana mereka berasal. ”Masyarakat juga sudah tahu, jika anggota PKI lagi dicari untuk dibunuh,” ucap Abdul Hamid, kelahiran Desa Seuleumbah, Kecamatan Jeumpa, Bireuen. Tgk Abdul Hamid membuka balai pengajian di belakang Mesjid Raya Nurul Huda, Desa  Bunyot, Kecamatan Juli.

Dari sejumlah keterangan yang diperoleh media ini, di Takengon, Aceh Tengah ada beberapa sebagai tempat pembantaian baru kader, anggota dan simpatisan PKI. Misal, di Timang Gajah. Sebaliknya, hingga kini, tak ada data maupun informasi di mana PKI mengeksekusi orang-orang yang dituduh tidak mendukung ajaran komunis tersebut. Kabarnya, ada lokasi kuburan massal di Wih Percos, Simpang Tiga Redelong, Kubangan Gajah di Pondok Gajah, Totor Besi dan di Bur Lintang di Aceh Tengah.***

Komentar

Loading...