Breaking News

Rusia Tuduh AS Latihan Serangan Nuklir Targetkan Moskow

Rusia Tuduh AS Latihan Serangan Nuklir Targetkan Moskow
Menhan Rusia, Sergei Shoigu, salah satu tangan kanan Presiden Vladimir Putin. (Foto: AFP/Mladen Antonov)
Penulis
Rubrik
Sumber
cnnindonesia.com

Jakarta | Rusia menuduh Amerika Serikat menggelar latihan serangan nuklir di dekat perbatasan negaranya pada awal November.

Menteri Pertahanan Sergei Shoigu menuding sejumlah pesawat pengebom nuklir AS sedang berlatih melancarkan serangan ke Rusia. Pesawat-pesawat AS itu terbang dari dua arah yang berbeda sekitar 20 kilometer dekat perbatasan Rusia.

Shoigu juga mengeluhkan pesawat bomber AS telah melakukan penerbangan sebanyak 30 kali selama November ini, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dalam periode yang sama pada 2020.

Ia menyimpulkan aktivitas pesawat bomber AS yang signifikan itu dilakukan sebagai simulasi serangan nuklir terhadap Rusia.

"Menteri Pertahanan menggarisbawahi bahwa selama latihan militer AS 'Global Thunder', 10 pesawat pengebon strategis AS berlatih meluncurkan senjata nuklir melawan Rusia dari arah barat dan timur," kata Shoigu melalui pernyataan Kemhan Rusia seperti dikutip Reuters.

"Jarak terdekat latihan pesawat pengebom AS itu hingga 20 kilometer (dari perbatasan Rusia)," paparnya menambahkan.

Global Thunder adalah salah satu latihan rutin militer AS yang dirancang untuk menguji dan menunjukkan kesiapan kemampuan nuklir Negeri Paman Sam.

Shoigu menegaskan militer Rusia telah memantau dan melacak pesawat-pesawat pengebom AS itu dan mengambil tindakan untuk menghindari insiden.

Shoigu bahkan menyeret China, dengan menganggap bahwa aktivitas pesawat pengebom nuklir AS yang terus meningkat di kawasan turut mengancam Negeri Tirai Bambu.

"Dengan alasan ini, koordinasi Rusia-China menjadi faktor untuk stabilitas dalam urusan dunia," papar Shoigu.

Sementara itu, AS menegaskan latihannya itu dilakukan dan diumumkan secara terbuka. Kemhan AS menuturkan latihan itu mematuhi protokol internasional.

"Misi-misi ini diumumkan secara terbuka pada saat itu, dan direncanakan dengan cermat dengan (Komando Strategis), (Komando Eropa), sekutu dan mitra untuk memastikan pelatihan dan peluang integrasi maksimum serta kepatuhan terhadap semua persyaratan dan protokol nasional dan internasional," kata Letnan Kolonel Anton Semelroth, juru bicara Pentagon.

Tuduhan Rusia kepada AS ini muncul ketika ketegangan kedua negara kembali meningkat, terutama setelah Ukraina mewanti-wanti bahwa Moskow kemungkinan berencana menginvasi negaranya dalam waktu dekat.

AS bahkan dilaporkan berencana mengerahkan senjata mulai dari tank hingga rudal ke Ukraina sebagai persiapan menghadapi segala kemungkinan tersebut.

Peringatan Ukraina itu muncul setelah Rusia terus mengerahkan pasukan militer ke perbatasan dalam beberapa waktu terakhir. Namun, Rusia membantah tudingan Ukraina itu.***

Komentar

Loading...