Breaking News

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Respon Kaum Islamis Indonesia Terhadap Futuh Taliban

Respon Kaum Islamis Indonesia Terhadap Futuh Taliban
Taliban umumkan kemenangan dari istana presiden di Kabu pada Minggu malam 15 Agustus 2021. (Foto: Google/Net)

Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan mengapa kaum Islamis di Indonesia tidak menunjukkan respon eforia atas peristiwa jatuhnya Kabul. Jatuhnya kekuasaan Presiden Ashraf Ghani yang didukung oleh adidaya Amerika Serikat (AS) dan multinasional di Kabul ke Taliban pada 15 Agustus 2021 adalah peristiwa besar abad ini, yang menandai sebuah era baru kekuatan Islam Sunni di luar denominasi Syiah dan Wahabi. Peristiwa ini dinamakan futuh Afghan (kejatuhan Afghan) yang kedua. Futuh Afghan yang pertama terjadi ketika kekuasaan Uni Soviet dipaksa keluar tahun 1989.

Peristiwa futuh Afghan ini disebutkan juga sebagai futuh Taliban oleh sebagian kalangan Islamis di Indonesia. Meskipun secara semantik makna kurang tepat, namun publik Muslim memahaminya sebagai kemenangan bagi Taliban yang telah dua kali mampu mengusir dua kekuatan adidaya dunia: Uni Soviet dan AS yang didukung oleh militer negara-negara multinasional lainnya.

Seketika itu publik Muslim di Indonesia menyambutnya dengan keheranan suka cita walau tidak segempita futuh Afghan yang pertama (1989). Bahkan Habib Rizieq Shihab dan para pemuka Islamis lainnya tidak menyampaikan tahniah atas futuh Taliban ini.

Ada kesan suka cita ini sengaja disembunyikan dan tak muncul sebagai eforia, bukan karena situasi pandemi Covid-19, melainkan karena kaum Islamis sedang merasa tidak baik-baik saja di bawah rezim kekuasaan sekarang yang dianggap tidak cukup bersahabat dengan mereka.

Kaum Islamis di Indonesia merasa sedang tertekan, tidak terakomodasikan dalam sistem kekuasaan dan relasinya dengan negara sedang sangat bermasalah, sedang tak beruntung. Sebagian publik masih saling mencibir dan menaruh curiga bukan hanya karena efek pemilihan beberapa tahun lalu, namun memang karena referen budaya yang berbeda. Yang satu sangat sekuler, sementara yang lainnya sangat kaku dan fanatis. Setting sosial politik seperti ini masih menggambarkan bahwa situasi integrasi sosial, budaya dan politik di Indonesia yang belum selesai. 

Kaum Islamis Indonesia menyesali terputusnya tali silaturahmi politik antara Republik Indonesia dan Imarah Islam Afghanistan. Padahal sebelumnya Taliban sudah menjalin hubungan yang baik dengan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto tahun 1995, dan juga kunjungan delegasi Taliban ke Indonesia pada 28 Juli 2019 yang disambut oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Banyak harapan Indonesia yang dititipkan di pundak Taliban agar bersikap inklusif, menerapkan Islam yang wasathiyah (moderat) dan memberikan ruang bagi perempuan untuk bekerja dan bersekolah. Indonesia ketika itu sudah menyadari bahwa Taliban akan segera memegang kendali negara Afghanistan karena AS berencana hengkang dari wilayah jalur sutra tersebut.

Kaum Islamis Indonesia juga merasa sedih jika Taliban dianggap sebagai agen terorisme. Publik awam Indonesia masih belum bisa membedakan antara al Qaeda sebagai sponsor terorisme dengan Taliban sebagai pejuang pembebasan (freedom fighter).

Pada tahun 2001, setelah peristiwa serangan WTC 11 September, AS menekan pemimpin Taliban, Mullah Omar, untuk menyerahkan Osama bin Laden. Mullah Omar berencana akan mengadili Osama bin Laden di pengadilan Afghanistan yang berdaulat.

Namun sebelum rencana tersebut dijalankan, AS di bawah kepemimpinan George Bush menginvasi Afghanistan dan membutuhkan waktu 17 tahun untuk menemukan lokasi persembunyiannya di Abbottabad, Pakistan. Seandainya AS ketika itu bisa menghormati jurisdiksi hukum Afghanistan, maka hanya dalam beberapa hari saja Osama bin Laden bisa diekstradisi ke AS.   

Kaum Islamis Indonesia yang radikal, seperti para simpatisan pendukung NIIS (Negara Islam Irak dan Suriah) justru menunjukkan sikap yang sebaliknya. NIIS atau lebih dikenal dengan sebutan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) menganggap Taliban sebagai musuh bebuyutan dan mencapnya sebagai kafir meskipun berakidah sama.

ISIS berkali-kali memerangi Taliban di wilayah Khurosan, Paktiya, Helman, dan Nangarhar. Taliban adalah pemain paling signifikan di Afghanistan. Al-Qaeda adalah kelompok jihadis transnasional yang berusaha membangun kembali jaringannya. Begitu pula ISIS yang perjuangannya tidak akan mudah karena mereka adalah musuh bebuyutan al-Qaeda dan Taliban (Colin Clarke, 2020).  

Taliban ternyata sangat bersahaja kendati telah meraih kekuasaan di Kabul. Dunia internasional, termasuk Indonesia masih enggan mengakui secara de jure kekuasaan Islam yang unik ini. Dikatakan unik, karena Afghanistan di bawah Taliban yang telah berubah, ini adalah negara dengan sistem nomokrasi yang akan menjadi saingan bagi sistem demokrasi a la Barat, sistem kerajaan a la Arab Saudi, Malaysia dan Brunai serta sistem teo-demokrasi a la Iran.

Sistem nomokrasi yang dibangun dari bawah tanpa partai politik ini menjadi harapan Kaum Islamis di Indonesia yang merasa sudah lelah dan muak dengan demokrasi oligarkis.***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...