Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Buntut Lapak Pasar Dirampas Kemudian Dijual

Ratusan Pedagang Sepakat Demo Walikota dan Kadisperindagkop Lhokseumawe

Ratusan Pedagang Sepakat Demo Walikota dan Kadisperindagkop Lhokseumawe
Karena tempat usahanya dirampas dan dijual oleh Disperindagkop Kota Lhokseumawe, Minggu (28/2), ratusan pedagang menggelar rapat di meunasah Pasar Inpres Jalan Listrik Kec. Banda Sakti dan sepakat lancarkan aksi demo.

Lhokseumawe | Diduga, karena lapak usaha dirampas dan dijual secara paksa untuk kepentingan bisnis Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya dan Kadisperindag Ramli, para pedagang Pasar Inpres Jalan Listrik, Kecamatan Banda Sakti berencana lancarkan aksi demontrasi. Mereka menuntut dikembalikan tempat usahanya.

Rencana itu terungkap dalam rapat yang dihadiri ratusan pedagang dan Persatuan Pedagang Pasar Inpres (P3I) di meunasah setempat, Minggu (28/2/2021). Mereka juga membahas rasa kecewa pedagang yang merasa ditipu oknum pejabat Disperindagkop Kota Lhokseumawe.

Rapat berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker dan jaga jarak itu, bertujuan untuk melahirkan kesepakatan bangkit bersama dan meminta keadilan.

Salah seorang pengurus Koperasi Syuhada sekaligus koordinator aksi Hamdani menegaskan. Selama ini tindakan semena-mena Kepala Disperindagkop Ramli kian merajalela hingga merampas tempat usaha pedagang.

Selain itu, menjualnya dengan harga fantastis kepada pihak ketiga tanpa adanya koordinasi atau pemberitahuan pada pemilik dasar.

Kondisi ini seperti dialami para pedagang pemilik 14 unit ruko yang dibongkar dan telah dibangun kembali.

Sebelumnya, pada 9 September 2020, Disperindagkop mengundang 14 pemilik ruko yang akan dibongkar untuk dibangun baru serta pemerintah berjanji akan mengembalikan pada pemilik dasar.

Ironisnya, setelah selesai dibangun baru ternyata tempat usaha tersebut justru sudah ditempati orang lain dan telah dijual kepada pihak ketiga tanpa pemberitahuan.

Sehingga 14 pemilik dasar telah kehilangan tempat usahanya karena diduga kesempatan itu dijadikan objek bisnis yang nilai jualnya mencapai ratusan juta rupiah.

Persoalan yang sama juga dialami 400 para pedagang kecil lainnya yang terancam kehilangan tempat usaha bila tidak mampu memenuhi permintaan setoran haria atau petugas pengutip dari dinas terkait.

Pedagang khawatir, pasca kebakaran pasar, bila sudah dibangun pemilik lapak usaha lama akan disingkirkan karena akan dijual kepada pihak lain.

“Maka hari ini, para pedagang kompak menggelar rapat untuk melakukan aksi mendatangi Kantor Walikota Lhokseumawe dan DPRK Lhokseumawe untuk meminta keadilan. Agar dikembalikan tempat usaha yang telah dirampas secara sepihak,” ujarnya.

Kukuh, salah seorang pedagang mengatakan. Sudah lebih lima tahun dia mengais rezeki dengan mengelola ruko dan rutin membayar retribusi Rp1.6 juta per tahun.

Namun, setelah dibongkar dan dibangun baru, ternyata telah diperjual-belikan Disperindagkop Lhokseumawe pada orang lain hingga dirinya dan sejumlah pedagang lain telah kehilangan tempat usaha di pasar setempat.

“Saat saya tanya kenapa rukonya telah diambil orang. Pejabat Disperindagkop menjawab ruko itu sekarang milik orang yang ada surat keputusan (SK) dari Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya. Bahkan ada satu orang malah bisa miliki dua unit ruko,” paparnya.

Kokoh mengaku, dirinya dan para pedagang lain merasa kecewa dengan Walikota Suadi Yahya dan Kadisperindagkop yang menjadikan tempat usaha di pasar sebagai objek jual beli dengan harga tinggi yang tak mampu dijangkau pedagang kecil.

Sehingga bersama para pedagang akan ikut serentak "melabrak" Kantor Walikota dan DPRK Lhokseumawe untuk meminta keadilan atas kebijakan yang membuat para pedagang menjadi pengangguran.***

Komentar

Loading...