Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Rapat Pemotongan BLT Ricuh, Sebelum Polisi Tiba Kadus Paloh Pineung Kembalikan Uang

Rapat Pemotongan BLT Ricuh, Sebelum Polisi Tiba Kadus Paloh Pineung Kembalikan Uang

Lhokseumawe | Rapat antara aparat desa (gampong) dengan warga setempat, terkait pemotongan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Meunasah Alue, Dusun Paloh Pineung, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe berlangsung ricuh.

Pemicunya, warga tak sepakat dengan kebijakan yang diduga sepihak tadi. Begitupun, sebelum polisi datang dan mengamankan keadaan, Kadus Paloh Pineung Muzammil, akhirnya terpaksa mengembalikan uang warga miskin yang tidak ikhlas dipangkas.

Diduga, rapat yang digelar Muzammil tanpa ada koordinasi dengan aparat keamanan TNI/Polri sehingga menuai protes warga yang menjadi korban pemotongan dana BLT.

Rapat dadakan itu berlangsung pukul 22.22 WIB, Kamis (26/2) malam. Kadus Paloh Pineung Muzammil mengaku, dirinya sengaja menggelar rapat tersebut karena merasa sakit hati dan tidak terima dengan adanya tudingan bahwa dirinya melakukan korupsi uang pemotongan BLT warga.

Tak hanya itu, dia juga mengakui bahwa pemotongan dana BLT Rp100 ribu per orang merupakan inisiatifnya dan sudah sepengetahuan Geusyik Meunasah Alue, Mukhtar.

Itu dilakukan dengan tujuan, hasil pemotongan BLT akan dibagikan kepada warga lain yang tidak mendapatkan jatah BLT dan PKH. Dengan suara lantang, dia  juga menantang warga untuk membawa wartawan dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam rapat, karena dirinya tidak merasa takut.

“Panggil wartawan kemari, tidak masalah bagi saya. Saya sakit hati karena dituduh memakan uang BLT warga dan ini pencemaran nama baik. Saya potong uang BLT untuk bantu orang yang tidak dapat bantuan BLT dan PKH serta sudah diberitahukan pada Geusyik Meunasah Alue. Saya punya buku catatannya, dan kalau perlu saya kembalikan dengan uang pribadi saya,” tegas dia dengan nada tinggi.

Selanjutnya, anggota Tuha Peut Saiful Bahri angkat bicara dan memprotes tindakan pemotongan dana BLT masyarakat dilakukan tanpa adanya musyawarah dan hanya berdasarkan inisiatif dari Kadus.

Meski tujuan pemotongan uang itu dilakukan untuk kebaikan dan agar bisa membagi bantuan kepada warga lain, namun cara itu tetap saja salah dan melanggar hukum.

Terlebih lagi bila warga memprotes karena merasa tidak ikhlas uang BLT senilai Rp300 ribu dipotong Rp100 ribu oleh kadus. Apalagi diduga disertai nada mengancam. Bila tidak memberikan maka tak akan lagi mendapatkan bantuan.

“Persoalannya sekarang warga memprotes pemotongan uang dan terpaksa memberikan karena takut diancam tak lagi dapat bantuan. Coba sekarang tanyakan langsung pada warga, apa mereka bersedia uangnya dipotong, “ ujar Saiful.

Lalu secara tiba-tiba, Kadus dan pengikutnya memotong pembicaraan Bahri hingga terjadi perdebatan, adu mulut dan argumentasi. Sehingga memancing suasana menjadi ricuh dan warga pun mulai riuh serta bersorak-sorak dalam rapat tersebut.

Akibatnya, rapat menjadi kacau dan tidak terkendali karena Saiful Bahri dan Kadus masih saling bersitegang dengan pendapatnya masing-masing. Suasana malah makin panas ketika satu persatu warga menyatakan tidak rela uangnya dipotong.

Nah, begitu mendapat kabar tak elok ini, Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto langsung memerintahkan anggotanya untuk terjun mengamankan lokasi acara.

Ironisnya, sebelum polisi tiba, Kadus yang berada dalam posisi terpojok akhirnya mengembalikan uang warga yang dipotong, diantaranya adalah Makauwiyah, Lindawati dan Zakiah.

Selain itu, rapat langsung dibubarkan, dan polisi pun tiba untuk mengamankan situasi, meminta keterangan perangkat desa dan warga, dan menghimpun data kejadian selama rapat berlangsung

Usai rapat tersebut, Geusyik Meunasah Alue Mukhtar mengatakan. Rapat itu digelar Kadus Paloh Pineung Jamil dan kurang koordinasi dengan aparat keamanan.

Geusyik juga menjelaskan kalau dirinya tidak terlibat dalam tindakan pemotongan dana BLT dan kadus melakukan itu tanpa koordinasi dengan semua pihak.

Geusyik mengaku walau tujuannya untuk kebaikan dapat membantu orang lain, namun dirinya tetap tidak setuju atas tindakan pemotongan dana BLT.

Karena itu perbuatan salah dan melanggar hukum, makanya setiap kantor pemerintah, bank dan Kantor Pos ada ditempel peringatan keras agar tidak melakukan pemotongan uang bantuan dan warga diminta melaporkan bila uang BLT dipotong dengan berbagai alasan.

“Saya tidak setuju uang BLT dipotong dan jangan percaya kalau Kadus bilang saya ikut memberi dukungan. Tidak boleh ada pemotongan dana bantuan. Tapi, sudahlah, uang BLT yang dipotong sekarang sudah dikembalikan dan masalah pun selesai,” tuturnya.***

Komentar

Loading...