Breaking News

Sosiolog yang bermukim di Banda Aceh

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

PTN Tanpa Refocusing?

PTN Tanpa Refocusing?
Foto: idntimes.com

UNTUK menghadapi situasi pandemi Covid-19, Menkeu Sri Mulyani menjalankan kebijakan nasional dengan melakukan refocusing APBN.

Ada pun prioritas utama adalah pada belanja penanganan Covid, yang berupa: untuk vaksinasi, testing, tracing, maupun perawatan pasien dan tenaga kesehatan. Prioritas kedua, adalah untuk menanggulangi dampak terhadap perekonomian. 

Hal yang terkena refocusing anggaran, antara lain, belanja-belanja untuk honorarium, perjalanan dinas, paket meeting, jasa, pembangunan gedung, pengadaan kenderaan, kegiatan yang belum dikontrakkan yang tidak mungkin selesai tahun ini (kemenkeu.go.id).

Sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah lembaga vertikal, yang dapat diasumsikan, akan menjalankan kebijakan nasional, yakni dengan melakukan refocusing penggunaan anggaran untuk melancarkan proses belajar mengajar dalam konteks pandemi.

Ini berarti akan terjadi penyesuaian suasana pembangunan di dalam lingkungan akademi, dan perilaku insan akademi ke dalam situasi pandemi.

Rektor Universitas Syiah Kuala, Samsul Rizal sendiri kerap mencermati penerapan kebijakan di Aceh.

Misalnya, ia menilai: “PPKM Level III yang terjadi di Banda Aceh saat ini seperti tidak ada artinya.

Hal ini terlihat masih banyak orang yang berkumpul atau beraktivitas secara bebas seolah pandemi sudah berakhir.” Dinamika kehidupan seakan berjalan sebagaimana biasa. 

Bahkan, lingkungan akademi itu sendiri tidak terbebas dari pandemi, sekalipun memiliki instrument untuk tes, berupa laboratorium; dan bekerja sama dengan Pemda di tingkat kabupaten/kota.

Pada Februari 2021 saja; Rektor, Wakil Rektor, Dekan, serta sejumlah akademisi terjangkit virus Corona. Perguruan tinggi itu hampir menjadi kantong Covid.

Tiba-tiba untuk lingkungan pergedungan tertentu dinyatakan lockdown. Rektor sendiri menyatakan, “jumlah total kasus positif covid-19 di USK adalah 141 orang sejak Maret 2020.”

Lalu, bagaimana dengan kebijakan pembangunan gedung yang secara nasional, menurut Menkeu, ditunda?

Nampaknya, kebijakan nasional itu diabaikan. Pembangunan gedung untuk sarana pendidikan terus berjalan hingga saat ini. Bahkan, tak usai dalam setahun. Tambah pula, pembangunan gedung itu, dengan terlebih dahulu melabrak Qanun Kota Banda Aceh Nomer 2/2018, yang telah menetapkan (Pasal 69 (2), d.) bahwa Kawasan Kopelma Darussalam sebagai situs cagar budaya yang harus dilestarikan.

Kemudian, bagaimana dengan proses belajar mengajar? Tentu saja terus berlangsung. Mahasiswa tetap membayar SPP, dengan tanpa penyesuaian tarif dengan suasana pandemic. Suasana kelas disiasati dengan cara setengah kelas terisi, untuk mahasiswa pada angkatan tahun tertentu, bahkan sekarang kelas kosong. Semua proses belajar mengajar via daring.

Apakah sarana untuk proses belajar mengajar disesuaikan dengan situasi pandemi?

Dosen, seperti saya sendiri, hanya berbekal handphone pribadi dan wifi atas biaya sendiri di rumah. Sama halnya dengan mahasiswa. Karena itu, sebagian kecil mahasiswa menggunakan sarana wifi pada warung kopi di kampong halamannya.

Selain biaya SPP dan pulsa handphone (untuk mengikuti kuliah, mengumpulkan tugas dari dosen, dan konsultasi pembimbingan praktek lapangan dan skripsi), maka para wali mahasiswa agak diringankan dari segi biaya kos dan makan sehari-hari karena mereka dapat tinggal serumah dengan keluarganya masing-masing. 

Satu contoh lain bahwa dosen pembimbing utama dan mahasiwanya diwajibkan untuk hadir di ruangan yang tersedia pada saat siding skripsi.

Namun, baik sang pembimbing dan mahasiswanya tidak menemukan fasilitas yang dibutuhkan untuk persidangan, selain meja, bangku dan wifi

Pertanyaannya, apakah penanggungjawab PTN ini, sebagai institusi vertikal, telah menjalankan kebijakan nasional untuk melakukan refocusing penggunaan anggaran sehingga pelayanan publik untuk kelancaran proses belajar mengajar di dalam konteks pandemi berjalan lancar dan, dapat mempertahankan standar kualitas hasil didiknya?***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...