Breaking News

Laporan Kinerja 2020 dan Rencana Tahun 2021

PT. PIM tak Bahas Soal Pencemaran Limbah

PT. PIM tak Bahas Soal Pencemaran Limbah
Dirut PT. PIM Yanuar Budima n berkomunikasi jarak jauh dalam konfrensi pers di Gedung Pertemuan PT. PIM, Krueng Geukuh (Foto: Din Pasee)

Lhokseumawe | Berbagai program dan laporan kinerja tahun 2020 serta rencana tahun 2021 dibahas dalam Laporan Kerja PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM), Kreung Geukug, Kabupaten Aceh Utara, Rabu, 24 Februari 2021.

Begitupun, rapat tersebut tidak membahas sama sekali persoalan dampak buruk dari pembuangan dan pencemaran limbah ke laut di Pelabuhan Umum Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

Hal itu terungkap dalam temu pers yang digelar di ruang rapat Teuku Umar Gedung PT. PIM di Krueng Geukuh, Rabu.

Sayangnya, Dirut PT. PIM Yanuar Budiman tidak hadir dan hanya menjalin komunikasi jarak jauh via video call serta sekedar untuk membacakan laporan kinerja PT. PIM tahun 2020 dan rencana kinerja untuk tahun 2021 mendatang.

Manager Humas PT. PIM Nasrun menjelaskan. Kegiatan tersebut diselenggarakan bertepatan dengan peringatan HUT PT. PIM ke 36 hari ini. Sehingga mengundang awak media pers untuk mempublikasikan laporan kinerja tahun 2020 dan rencana kinerja PT. PIM untuk tahun 2021 mendatang.

Ironisnya, dalam pertemuan itu sama sekali tidak menyinggung persoalan dampak buruk pembuangan limbah ke laut. Akibatnya, kalangan masyarakat terutama warga lingkungan sama sekali tidak mengetahui tentang penanganan limbah PT. PIM.

Bahkan, wartawan hanya diberi kesempatan singkat untuk mengajukan sesi pertanyaan dengan waktu terbatas hanya untuk tiga orang saja.

Setelah itu, Dirut. PT. PIM hanya menjawab satu pertanyaan terkait kerjasama PT. PIM dengan sejumlah perusahaan besar lain. Sedangkan pertanyaan lain yang dilontarkan dua orang wartawan juga tidak dapat dijawab Yanuar Budiman.

Alasannya, karena berkomunikasi jarak jauh, Yanuar mengaku kurang jelas mendengar pertanyaan faktor gangguan jaringan yang terputus-putus.

Sehingga Yanuar meminta pejabat PT. PIM setempat membantunya untuk menjawab pertanyaan wartawan tadi.

Foto: Din Pasee

Karena acara hanya berlangsung 30 menit, maka media ini melayangkan pertanyaan langsung ke WhatsApp (WA) Yanuar Budiman tentang sejauh mana dirinya mengetahui persoalan pembuangan limbah PT. PIM, yang diduga telah dampak buruk penanganannya.

Namun, Yanuar Budiman sama sekali tidak merespon dan menjawabnya.

Pada kesempatan itu, Dirut. PT. PIM Yanuar Budiman membacakan rilis laporan langkah sistematis PT. PIM menjaga kedaulatan pangan dan memberikan manfaat bagi stakerholder.

Yanuar menjelaskan, penyaluran pupuk urea bersubsidi 2020 terjadi peningkatan jumlah alokasi yang dimandatkan pemerintah dibanding tahun 2019.

“Tahun 2020 lalu kita diberi tanggung jawab menyalurkan pupuk urea subsidi 344.024 ton. Sedangkan tahun 2019, kita peroleh alokasi sebesar 270,139 Ton. Setelah dua kali kita pengajuan realokasi oleh Dinas Pertanian bertambah menjadi 271,331 ton, “ katanya.

Sehingga presentasenya terdapat penambahan alokasi sebanyak 72,693 ton. Rinciannya, Aceh 68.960 ton, Sumut 148.426 ton, Sumbar 62.001 ton, Riau 35. 277 ton, Kepri 117 ton, dan Jambi 29.243 ton.

Yanuar menyebut, untuk tahun 2021 PT. PIM menyiapkan pupuk urea bersubsidi sebanyak 460.418 ton. Rincinya, untuk kebutuhan pupuk di Aceh 76.006 ton, Sumatera Utara (154.916 ton), Sumatera Barat (68.754 ton), Riau (37.572 ton), Kepri (110 ton), Jambi (30.057 ton), Kalimantan Barat (35.475 ton), Kalimantan Tengah (16.912 ton), dan Kalimantan Selatan (40.616 ton).

Khusus untuk Aceh adalah, Kabupaten Aceh Selatan (3000 ton), Aceh Tenggara (6.073 ton), Aceh Timur (6.500 ton), Aceh Tengah (2.100 ton), Aceh Barat (2000 ton), Aceh Besar (8.042 ton), Pidie (8000 ton), Aceh Utara (12.000 ton), Simelue (857 ton), Aceh Singkil (1.550 ton), Bireuen (3.100 ton), Aceh Barat Daya (5.600 ton), Gayo Lues (1.500 ton), Aceh Jaya (2.100 ton), Nagan Raya (3.260 ton), Aceh Tamiang (2.305 ton), Bener Meriah (3.500 ton), Pidie Jaya (2.999 ton), Kota Banda Aceh (10 ton), Kota Lhokseumawe (160 ton), Kota Langsa (550 ton) dan Kota Subussalam (1.800 ton).***

Komentar

Loading...