Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Habiskan Dana Rp11 Miliar

Diduga Asal Jadi, Proyek Pengendali Banjir Krueng Buloh Baru Rampung Sudah Runtuh

Diduga Asal Jadi, Proyek Pengendali Banjir Krueng Buloh Baru Rampung Sudah Runtuh
Foto: Din Pasee.

Aceh Utara | Diduga, proyek pembangunan tebing untuk pengendalian banjir sungai Buloh Blang Ara, Kecamatan Kuta Makmur,  Kabupaten Aceh Utara dikerjakan asal jadi.

Bayangkan, proyek Rp11 miliar lebih yang bersumber dari APBA tahun 2020 itu, lantaran baru tiga bulan rampung tapi kondisinya justru sudah runtuh dan hancur.

Lokasi yang rusak tadi berada di sebelah utara Desa Krueng Manyang, sebelah selatan ada di Desa Meunasah Blang Ara.

Menurut data yang bersumber dari https://lpse.acehprov.go.id/ proyek tersebut dimenangkan PT Amar Jaya Pratama Group, dengan nilai Pagu Rp 11.329.848.200,00 serta nilai HPS Rp 11.329.350.219,23.

Proyek itu berada pada Satuan Kerja (Satker) Dinas Pengairan Aceh, kategori pekerjaan konstruksi dengan nilai penawaran Rp 10.407.801.812,30, harga terkoreksi Rp 10.407.801.812,30 dan harga hasil negosiasi Rp 10.407.801.812,30.

Kondisi proyek asal jadi yang dikerjakan PT. Amar Jaya Pratama Group Kota Banda Aceh itu sungguh memprihatinkan, karena sudah hancur tanpa bisa dimanfaatkan sama sekali untuk pencegahan banjir.

Tampak di lokasi, beton tebing proyek pengendalian banjir mengalami kerusakan berat seperti retak, patah dan terjatuh dalam sungai.

Ironisnya, proyek itu rusak berat bukan karena diterjang derasnya arus sungai, tapi runtuh sendiri diduga karena dikerjakan asal jadi atau tidak berkualitas.

Bahkan beton tebing yang ambruk ke sungai, dikhawatirkan bisa menghambat aliran sungai setempat.

Salah seorang tokoh  masyarakat Kecamatan Kuta Makmur Jailani mengatakan. Proyek yang sebelumnya didambakan bisa memberi manfaat untuk mencegah banjir, kenyataannya justru menimbulkan kemudharatan bagi warga lingkungan.

Padahal proyek tersebut selesai dikerjakan dalam waktu yang sangat cepat. Tapi kualitas buruknya baru terlihat ketika hujan turun, membuat tanah timbun yang tidak padat ikut turun.

Begitu juga beton tebing yang tipis dan tidak kuat sehingga lekang dari tanah dsn membuat retak, patah dan sebagian lainnya ambruk ke dasar sungai.

Bahkan dalam kondisi sudah runtuh, dapat terlihat ukuran besi yang digunakan rekanan, diduga tak sesuai untuk kerangka betonnya.

Kata Jailani, fakta ini menandakan pelaksanaan proyek tersebut benar-benar tidak ada pengawasan sama sekali hingga dikerjakan sesuai keinginan rekanan atau tidak sesuai bestek.

“Proyek itu baru selesai dibangun, dan sebelum bisa dimanfaatkan justru kondisinya tiba-tiba mengalami kerusakan berat dan hancur dengan sendiri. Namun kerusakannya bukan karena diterjang derasnya air sungai. Tapi setelah hujan turun, mungkin mengikis tanah dan beton yang rapuh itu retak, patah dan ambruk sendiri ke dasar sungai,” ujarnya.

Jailani mengaku, meski dirinya tidak memahami secara detil soal teknis pembangunan itu, namun secara umum semua orang tahu kalau melihat kondisi proyek dan bisa menilai bahwa  proyek "abu nawas" itu asal jadi. Makanya rusak sebelum bisa dimanfaatkan.

Akibat kerusakan proyek yang diduga asal jadi tadi sebut Jailani, menyebabkan kondisi sungai Buloh tidak stabil dan membuat air sungai tersumbat serta meluap di permukaan serta air akan tumpah melalui tanggul yang sudah jebol.

Jailani berharap, Dinas Pengairan Aceh, bertanggungjawab untuk memperbaiki kembali.

Tidak hanya itu, agar tidak terulang kembali kejadian yang menghabiskan uang negara itu, maka aparat penegak hukum juga diminta untuk bertindak dan memproses kasus itu sesuai hukum yang berlaku.

“Jika memang itu diperuntukkan untuk pengendalian banjir, kenapa tebingnya bisa jatuh, jika tidak segera diperbaiki, maka imbas kepada masyarakat, beton yang ambruk akan menyumbat aliran sungai, dan bisa-bisa banjir,” tuturnya.

Kepala Dinas Pengairan Aceh Mawardi gagal dikonfirmasi. Dia tidak mengangkat telpon masuk dan tidak membalas pesan hingga terkesan buang badan atas hasil proyek asal jadi di Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara.

Padahal Mawardi juga merupakan mantan Kadis Pengairan Aceh Utara yang paling lama memegang jabatan itu hingga kini menjadi Kadis Pengairan  Aceh.***

Komentar

Loading...