Terkait Road Show Setda Aceh dr.Taqwallah

Program "BEREH" Pemerintah Aceh Dinilai Hanya Lips Service

Program "BEREH" Pemerintah Aceh Dinilai Hanya Lips Service

Aceh Timur | Ojo kendor, mungkin kata ini tidak salah bila disematkan kepada sosok Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh dr. Taqwallah, M.Kes, yang aktif mengunjungi seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Maklum, pasca diangkat sebagai Sekda Aceh, Taqwallah memang rajin melakukan road show ke sejumlah wilayah. Tujuannya, mengawasi keberlangsungan roda pemerintahan di sejumlah kabupaten kota.

Nah, dalam berbagai  kunjungan tadi, dia sering mengambil tema terkait dengan program Gerakan Bersih, Rapi, Estetis dan Hijau (BEREH) yang sedang digalakkan Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. 

Hari ini, Jumat, 6 Desember 2019 misalnya, acara bertajuk;' Kunjungan Evaluasi Pengelolaan Dana Desa dan Gerakan Bereh', berlangsung di Gedung ISC Idi, Aceh Timur. 

Sebelumnya acara serupa juga telah berlangsung di Aula Cakradonya Kota Langsa dan Aceh Tamiang, Kamis (5/12/2019).

Di Aceh Timur, acara dipandu Dinas DPMG Aceh Timur, diawali dengan penyampaian laporan tentang program dana desa yang sedang bergulir di Aceh Timur oleh Kadis DPMG DR. Maimun.

Kata dia, pihaknya telah menyelesaiakan 16.169 unit rumah kepada yang berhak membutuhkan. Termasuk memberantasan angka kemiskinan yang dinilai mulai menurun. Selain itu juga turut dipaparkan perkembangan BUMDes di wilayah ini.

Acara juga diisi dengan penyampaian laporan beberapa Keuchik yang ada di wilayah ini, terkait kondisi BUMG dan pemanfaatan dana desa yang hampir memasuki tahun keenam sejak bergulirnya 2015 lalu. 

Menariknya, Taqwallah kembali menggemborkan program 'BEREH' yang diusung Pemerintah Aceh. Nah, jika bulan lalu program Bereh dimotori Dinas Kesehatan se-Provinsi Aceh, kali ini kegiatan perjalanan dinas Taqwallah dimotori Dinas DPMG kabupaten/kota, juga dengan branding 'BEREH'.

Dia mengutarakan dan menilai, pencairan dana sangat mudah bagi para aparatur desa. Sehingga dalam penggunaannya diharapkan juga harus tepat sasaran.

"Peng desa lagee ta buka kran, langsung na. (Dana desa seperti kita buka kran, langsun ada)," katanya. Beda dengan kabupaten/kota, provinsi dan pemerintah tidak semudah itu, untuk dapat mengelolanya, kadang payah pake ile (terkadang harus berpikir dulu),” kata Taqwallah di hadapan para utusan dari OPD, para Keuchik, serta Pendamping Desa (PPD) dan PLD yang ada di Kabupaten Aceh Timur.

Namun, pernyataan Taqwallah dinilai sebagian Keuchik hanya pernyataan,  jauh panggang dari api. Artinya, tidak semudah seperti apa yang telah disampaikan dalam pertemuan itu.

Alasannya, sampai bulan November 2019, ada salah satu desa di Kecamatan Peureulak, yakni Desa Buket Pala yang telah siap mengajukan pencairan namun sempat membawa pulang berkas, karena dananya belum masuk di kantor keuangan. Makanya, untuk tahap ketiga dananya baru dicairkan menjelang bulan Desember.

"Ada desa yang telah siap pengajuannya tetapi dana belum masuk di kantor keuangan," kata Ishak Zamzami salah seorang Keuchik di Kecamatan Peureulak kepada MODUSACEH.CO, usai acara yang dihadiri Sekda Aceh Taqwallah.

Lebih jauh ia menilai, penyaluran dana desa pertama kali dimulai pada pertengahan tahun, yakni sekitar bulan Juli sehingga akan menghambat proses pelaksanaan dan penyerapannya secara maksimal.

Mestinya,  dana tadi cair diawal tahun sehingga tidak kejar-kejaran dengan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). 

Ia menilai proses pencairan yang terlambat juga dapat menyebabkan tidak terserapnya semua anggaran dana desa. Harusnya, pada bulan Desember semua pelaksanaan program di lapangan telah selesai.

Kenyataan sampai menjelang akhir tahun masih ada desa-desa yang belum melakukan pencairan tahap ketiga. Itu disebabkan dari awal pencarian dana desa ditahap pertama, dilakukan pada pertengahan tahun, sehingga terus berputar-putar seperti itu setiap tahunnya.

"Kalau pencairannya selalu di pertengahan tahun pelaksanaan tidak mungkin bisa maksimal, karena kejar-kejaran dengan laporan. Seharusnya diawal tahun anggaran sudah cair sehingga pelaksanaan di lapangan bisa maksimal," ujar Keuchik Ishak Zamzami.

Itu sebabnya, sejumlah warga masyarakat menilai program 'BEREH' yang di usung Pemerintah Aceh hanya sekedar lips service. Buktinya, Pemerintah Aceh masih gagal dalam membangkitkan ekonomi dan taraf hidup masyarakat Aceh menjadi lebih layak dan baik. 

Lihat saja data BPS pada Maret 2019, kemiskinan Aceh mencapai 15,32 persen. Artinya, ada 819 ribu masyarakat Aceh terbelenggu dalam kubangan kemiskinan. 

"Program bereh Itu hanya sekedar lips service di bibir saja, yang digembor-gembor menjelang penyerapan anggaran akhir tahun. Padahal, kegiatannya serimonial saja. Realisasinya jauh panggang dari api, dan terbukti program bantuan rumah untuk rakyat miskin saja sempat tidak terlaksana tahun ini dari Pemerintah Aceh," sindir Said yang turut diamini oleh Bayu, seorang pegiat media di Aceh Timur.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Azhari menyampaikan, dana desa untuk Aceh tahun 2020 lebih banyak dari tahun sebelumnya, yaitu Rp 5 triliun.

“Untuk Provinsi Aceh total dana desa sudah Rp 19,8 triliun. Untuk tahun 2020 naik dari tahun sebelumnya, menjadi Rp 5,05 triliun," sebut Azhari di hadapan ratusan Keuchik dan Pendamping Desa yang mengikuti acara itu.***

Komentar

Loading...