Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan Dugaan Kembalinya Alumni Jalin

Prof. Yusni Sabi: Jika tak Mau Bobol, Ulama dan Umara Harus Peka!

Prof. Yusni Sabi: Jika tak Mau Bobol, Ulama dan Umara Harus Peka!
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Prof. Drs. Yusni Sabi PhD (Foto: Azhari Usman/MODUSACEH.CO)
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Prof. Drs. Yusni Sabi PhD menegaskan. Jika tak mau bobol dengan aksi dan reaksi terorisme kembali di Aceh, maka ulama dan umara harus peka.

“Terlebih, minimnya peran Pemerintah Aceh dan ulama untuk mencegah paham terorisme, sehingga semakin memantapkan paham dan idiologi itu di seluruh pelosok Aceh,” kata Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh ini kepada wartawan MODUS ACEH, Azhari Usman, Jumat pekan lalu di Banda Aceh.

Dia menyampaikan itu, terkait tertangkapnya dua pelaku terduga Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Aceh oleh tim gabungan Polda Aceh beberapa hari lalu di Kabupaten Aceh Timur. Selain itu, ada analisa dari Staf Ahli Pangdam Iskandar Muda, Kol. Caj. Ahmad Husein bahwa, alumni pelatihan teroris di Jalan, Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar akan kembali ke Aceh.

Dia menilai, kasus terorisme di Aceh tak lepas dari permasalahan klasik. Artinya, rakyat Aceh sering dicap sebagai orang yang mudah diadu domba dan suka berperang. Begitupun katanya, terorisme bukan hal baru di Aceh dan Indonesia. Bahkan dunia. Aceh hanya terkena dampaknya saja. Serpihan dari terorisme dunia yang berkembang hampir setiap negeri, termasuk Aceh.

Prof Yusni Sabi menginggatkan. Akar terorisme di dunia adalah Palestina, yang diakibatkan Laila Khaled, seorang perempuan asal Palestina, membajak pesawat terbang Amerika Serikat, Boing 737 milik maskapai Trans World Airlines,  29 Agustus 1969. Setelah itu barulah dunia heboh. “Sebenarnya, masalah terorisme akan bisa bertahan, apakah besar atau kecil, gawat atau tidak, sangat tergantung pada setrumnya penderitaan orang Palestina. Inilah inspirasi terorisme di dunia,” ulas dia.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? “Ingat, terorisme awalnya selalu dimulai dengan radikalisme, ekstrimisme baru berkembang pada terorisme. Tapi, tidak semua ekstrimis dan radikalis itu berkembang menjadi terorisme,” sebut dia.

Misal, tidak semua perokok itu penghisap ganja. Tapi, penghisap ganja itu dimulai dari orang yang suka merokok. “Sebagian memang cara pikir mereka yang radikal dan ekstrim. Cara dia menulis dan berkomentar. Tapi, selesai sampai di sini, tidak menjadi terorisme”.

Menurut Prof Yusni Sabi, asal kata radikal itu bagus. “Misalnya, saya akan mengobati penyakit sangat radikal. Artinya sampai ke akar-akarnya. Namun, ketika menjadi “isme” tidak lagi menjadi milik satu orang. Sudah menyebar, menjadi kelompok atau grup, dan kalau menjadi ideologi sudah tumbuh paham terorisme,” urai dia.

20190218-pelatihan-teroris-di-jalin-kota-jantho-kabupaten-aceh-besar-2010

Pelatihan teroris di Bukit Jalin, Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar 2010. (Foto: google).

Disinilah, apabila paham ini dipupuk dan tak tersalurkan atau tidak di hormati serta tidak ditangani dengan baik, maka begitu ada momentum ketidakadilan, kekejaman, prilaku aparat dan  birokrat yang tidak mengarah pada keadilan, persamaan serta penghormatan, maka dengan cepat mengarah pada sikap-sikap terorisme.

“Apa yang terjadi di Aceh sama saja. Ingat kasus di pengunungan Jalin, Jantho, Kabupaten Aceh Besar, 2010 lalu  serta beberapa kasus lain. Dan, belasan orang tersebut telah masuk penjara dan sekarang ada yang telah keluar atau bebas.  Mereka ada yang sadar, itu bagus. Sebagian mereka itu tidak paham, dan terperangkap tapi memang betul terlibat dalam terorisme, tapi bukan dalam bentuk ekstrim. Berada di tempat yang salah, di saat yang salah,” sebutnya menganalisa.

Karena itu menurut Prof Yusni Sabi, penanganannya perlu dilakukan bersama-sama. “Disinilah, perlu perhatian dan peran umara, ulama, terutama tokoh pendidik. Tidak boleh membiarkan dan harus mampu meminimalisir sikap dan ucapan radikalisme ini. Kita harus tetap peka dan waspada jika tak mau bobol,” ucap Prof Yusni menginggatkan. (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...