Kontroversi Pergub 'Cuti Bersalin'

Prof Hamid Sarong: Kebijakan Kaget-an dan Mubazir

Prof Hamid Sarong: Kebijakan Kaget-an dan Mubazir
Banda Aceh | Pakar Hukum Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. H. A. Hamid Sarong, SH.,MH menilai, cuti bersalin hingga enam bulan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh Nomor 49 Tahun 2016 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif atau yang dipopulerkan denga Pergub ‘Cuti Bersalin,’ tidak hanya bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi, tapi juga dinilai sebagai sebuah kebijakan yang keliru dan mubazir.
 
Keliru lantaran kebijakan ini tidak dilakukan dengan penelitian yang mendalam yang kemudian hasilnya disampaikan kepada masyarakat. Sementara mubazir karena dapat menurunkan produktivitas pegawai dalam bekerja. “Saya kira, tak perlu diberikan cuti hingga sampai enam bulan, ini kebijakan yang keliru” ujar Prof Hamid pada MODUSACEH.CO Selasa, (23/8/2016).
 
Menurut Prof Hamid, dalam Alqur`an perempuan memang diperintahkan untuk menyusui anaknya hingga dua tahun. Tapi, banyak cara lain yang dapat dilakukan untuk dapat menyusui tersebut, tak mesti harus dengan memberikan cuti hingga enam bulan.

Karena, untuk seorang pegawai yang baru melahirkan jika hendak menyusui bisa saja pulang ke rumah, diberikan waktu yang longgar, atau menyediakan tempat menyusui di tempat kerja, tapi jangan sampai dia meninggalkan pekerjaannya hingga enam bulan.

“Saya kira, ini sebuah kekeliruan meninggalkan pekerjaan enam bulan, ini akan bisa saja berdampak pada dugaan pegawai terima gaji saja sementara kerja tidak, karena cuti yang lama hingga enam bulan,” kata Prof Hamid yang juga Ketua Prodi Jurusan Hukum Islam, Program Doktoral UIN Ar-Raniry itu.

Prof Hamid mengaku tidak tahu, apa filosofis dibalik peraturan cuti selama enam bulan tersebut, apakah hal itu memang dibutuhkan oleh perempuan atau tidak? Apakah kebijakan ini ditetapkan diawali dengan sebuah penelitian mendalam?
 
Karena, untuk mengetahui dibutuh atau tidaknya pergub ini adalah dengan melakukan penelitian terlebih dahulu, dengan indikator adakah perempuan-perempuan yang usai melahirkan kemudian menyusui di rumah hingga enam bulan?

Adakah keluhan-keluhan bagi perempuan yang selama ini hanya diberikan cuti tiga bulan? Dan adakah perempuan yang bekerja di bulan ke empat setelah habis masa cuti tiga bulan kemudian ada keluhan dan terjadi pingsan, ada yang menangis, sehingga dibutuhkan cuti hingga enam bulan? “Apakah penelitian ini ada dilakukan saya tidak tahu,” kata Prof Hamid.

Jika ada, lanjutnya, seharusnya hasil dari penelitian tersebut harus sampaikan pada masyarakat, biar masyarakat yang menilai apakah memang dibutuhkan, atau tidak. "Baru kemudian gubernur mengambil kesimpulan, jangan begitu saja melahirkan sebuah kebijakan seperti ini tanpa ada kajian-kajian dan relevansinya, serta apa untung dan ruginya. Janganlah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bersifat kaget-an, tiba-tiba sudah ada kebijakan tanpa ada pengkajian yang mendalam,” harap Prof Hamid.

Prof Hamid mengatakan, dalam mengambil kebijakan jangan hanya mempertimbangkan periode kepemimpinannya saja, sementara nanti periode orang lain dianggap urusan orang lain. "Jangan seperti itu membangun negeri. Melainkan, harus ada grand design-nya, agar melahirkan kebijakan yang baik untuk pembangunan."

Prof Hamid juga mengatakan, untuk pergub cuti bersalin tersebut harus dihitung dulu seberapa banyak pegawai perempuan di Aceh sebelum diberlakukan kebijakan ini, kemudian kalikan berapa banyak pekerjaan yang ditinggalkan oleh perempuan nantinya jika cuti hingga enam bulan. Karena, walaupun itu tidak bersamaan tapi berapa banyak waktu yang dihabiskan hanya untuk cuti? Sehingga kebijakan ini dinilai tidak efektif untuk produktivitas pegawai.
 
Apalagi di Indonesia saat ini, sedang ketat-ketatnya untuk meningkatkan kualitas kinerja pegawai. Sementara di Aceh justru membuat kebijakan cuti selama enam bulan. “Dalam hukum Islam, cuti yang tidak dibutuhkan oleh kondisi tubuhnya adalah mubazir, begitupun gajinya tidak pantas dia terima,” ungkap Prof Hamid.
 

Komentar

Loading...