Kasus Dugaan Investasi Bodong Yalsa Butik

Praperadilan Ditolak, Sidang Lanjut

Praperadilan Ditolak, Sidang Lanjut
Sidang Praperadilan Pembacaan Putusan Hakim di Pengadilan Negeri Banda Aceh di Banda Aceh (Foto: antaranews.com)

Banda Aceh I Harapan Syafrizal dan istrinya Siti Hilmi Amirulloh terbebas dari jeratan hukum terkait dugaan praktik investasi bodong melalui perusahaan penjualan pakaian Yalsa Butik, gagal sudah.

Maklum, hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Senin, 11 Mei 2021 lalu, menolak permohonan praperadilan dua tersangka ini, karena ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polda Aceh.

Sebelumnya, mereka mampu menghimpun dana dari masyarakat mencapai Rp164 miliar.

Putusan penolakan tersebut dibacakan Dahlan (hakim tunggal) Pengadilan Negeri Banda Aceh di Banda Aceh. Hadir dalam sidang tersebut kuasa hukum pemohon dan penyidik Polda Aceh sebagai termohon

Hakim Dahlan mengatakan penetapan kedua pemohon sebagai tersangka oleh penyidik Polda Aceh sudah sesuai prosedur dan peraturan perundang-undangan.

"Berdasarkan keterangan penyidik, penetapan tersangka dilakukan dengan gelar perkara setelah didapat minimal dua alat bukti. Karena itu, kami menolak permohonan praperadilan serta meminta penyidik melanjutkan penanganan perkara" kata hakim Dahlan.

Sebelumnya penyidik Polda Aceh menetapkan dan menahan dua tersangka dugaan investasi bodong Rp164 miliar melalui perusahaan penjualan pakaian berinisial S (30) dan SHA (31).

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Pol Margiyanta didampingi Kasubdit 2 Perbankan AKBP Erwan mengatakan kedua tersangka merupakan pemilik Yalsa Boutique, perusahaan penjualan pakaian.

"Penahanan dilakukan berdasarkan hasil penyidikan penyidik. Dari hasil penyidikan, ditemukan lebih dua alat bukti dan saksi terhadap dugaan tindak pidana perbankan yang dilakukan oleh kedua tersangka," kata Kombes Pol Margiyanta.

Dia juga mengatakan selain alat bukti, penyidik mendapatkan keterangan saksi ahli dari Otoritas Jass Keuangan (OJK) serta pihak perbankan, sehingga memenuhi unsur berdasarkan Pasal 184 KUHAP.

Kepala Subdirektorat Perbankan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh AKBP Erwan mengatakan penyidik menyita uang Rp46 juta, laptop, emas berbagai bentuk, 87 lembar surat pembelian emas, kartu ATM, buku rekening, dan barang bukti lainnya.

"Selain itu, penyidik juga sudah menyita sejumlah mobil. Semua barang bukti tersebut diduga merupakan hasil dari investasi bodong yang dilakukan tersangka. Polda Aceh masih terus melacak A aset kedua tersangka untuk kasus tindak pencucian uangnya," kata AKBP Erwan.

AKBP Erwan mengatakan Yalsa Botique merupakan investasi yang diduga bodong dan sudah menghimpun danai masyarakat dalam bentuk simpanan atau investasi hingga mencapai Rp164 miliar. Investasi tersebut dikumpulkan melalui  202 pihak yang disebut reseller dengan anggota sekitar 17.800 orang.

Penghimpunan uang dari masyarakat dilakukan Yalsa Boutique tanpa memiliki izin usaha dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak Desember 2019 hingga Februari 2021.

AKBP Erwan mengatakan kedua tersangka dijerat Pasal 46 Ayat (1) Undang- Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

"Serta Pasal 2 Ayat (1) huruf g, Pasal 3, dan Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang atau TPPU," kata AKBP Erwan.***

Komentar

Loading...