Breaking News

Populasi Sapi di Simeulue Meningkat, Sistim Ternak Lepas Jadi Masalah

Populasi Sapi di Simeulue Meningkat, Sistim Ternak Lepas Jadi Masalah

Simeulue | Populasi ternak sapi di Simeulue meningkat setiap tahunnya. Namun, banyaknya sapi tadi tidak dibarengi dengan sistim berternak menggunakan kandang.

Akibatnya ternak yang dilepas liar di alam itu menjadi masalah bagi orang lain atau warga masyarakat setempat.

Data dari Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Simeulue menyebutkan. Jumlah sapi di kabupaten kepulauan itu tahun 2018 lalu mencapai 4.081 ekor. Jumlah ini  tersebar di 10 kecamatan yang ada di Simeulue.

Jenisnya, ada sapi Bali dan juga lokal, sapi yang memang sudah ada maupun yang didatangkan dari luar, berupa bantuan dari pemerintah ataupun didatangkan secara pribadi.

"Ternak sapi yang dimiliki masyarakat Simeulue saat ini sudah lumayan banyak. Tiap tahun terus mengalami peningkatan, baik hasil yang sudah ada maupun ternak bantuan dari pemerintah," kata Ali Rahman, Sekretaris Dinas Peternakan dan Perkebunan Simeulue, pada MODUSACEH.CO, Selasa, 17/09/2019.

Ali Rahman mengatakan, semakin meningkatnya populasi sapi di Simeulue itu, disebabkan pemeliharaan sapi lebih muda sehingga perkembangan lebih cepat dari ternak lain.

Sapi juga lebih tahan terhadap penyakit, sehingga menambah minat masyarakat untuk berternak.

Lanjut Ali, namun peningkatan populasi sapi di Simeulue ini tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk menggunakan kandang ternak. Sehingga ternak yang dilepas secara liar itu mengganggu masyarakat lain.

Selain itu kata Ali, dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas di jalan, terutama pada saat malam hari. Maklum, ternak itu sering menggunakan jalan umum untuk tempat istirahat.

Terkait hal itu, dinas terkait terus berupaya memberikan sosialisasi pada masyarakat agar menggunakan sistim kandang. Tujuannya, ternak lebih terjaga serta tidak mengganggu orang lain.

Namun yang menjadi permasalahan, sistim ternak lepas itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Simeulue sejak dulu. Sehingga untuk merubahnya sedikit butuh waktu serta sosialisasi secara berkelanjutan.

"Permasalahan saat ini, ternak yang dipelihara masyarakat kita menggunakan sistim lepas, sehingga sering mengganggu masyarakat lainnya. Kami telah berupaya memberikan sosialisasi agar menggunakan sistim kandang, namun kebiasaan masyarkat kita dalam berternak agak sulit dirubah," jelas Ali Rahman.

Mustakim (37), salah seorang peternak sapi mengatakan. Kalau dibandingkan dengan berternak kerbau. Sapi ini lebih cepat perkembangannya, dalam pemeliharaan lebih mudah, juga harga jualnya lumayan tinggi.

"Beternak sapi ini mudah, perkembangannya lebih cepat. Satu tahun, sapi betina sudah memiliki anak lebih banyak, sementara kalau kerbau belum tentu," jelas Mustakim.***

Komentar

Loading...