Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Terkait Permintaan Maaf Nova Kepada Presiden Jokowi

Politisi PNA, M. Reza Fahlevi Kirani: Menciderai Demokrasi Rakyat Aceh dan Itu Potret Karakter Pribadi Nova

Politisi PNA, M. Reza Fahlevi Kirani: Menciderai Demokrasi Rakyat Aceh dan Itu Potret Karakter Pribadi Nova
Politisi Partai Nanggroe Aceh (PNA) Reza Fahlevi Kirani (Foto: Ist)
Rubrik

Banda Aceh | Politisi Partai Nanggroe Aceh (PNA) M. Reza Fahlevi Kirani menilai. Pernyataan maaf Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah kepada Presiden RI Joko Widodo, merupakan potret dari karakter pribadi Nova Iriansyah sesungguhnya. Selain itu, juga telah mencidera nilai demokrasi rakyat Aceh pada Pilpres 2019 lalu.

Pendapat itu disampaikan Fahlevi begitu dia akrab disapa pada media ini, Sabtu petang, terkait pernyataan maaf Nova Iriansyah pada acara Kenduri Kebangsaan di Kabupaten Bireuen, pagi hingga siang tadi.

Ini terkait kekalahan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin versus Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Aceh pada Pilpres 2019.

“Menurut saya, sambutan Nova menunjukkan karakter pribadi aslinya sebagai sosok pemimpin yang pendendam. Dia telah memperlihatkan soso kepribadiannya yang sebenarnya, dengan memelihara dendam terhadap lawan politiknya,” kata Wakil Ketua DPP PNA yang juga anggota DPR Aceh ini.

Itu sebabnya kata Fahlevi, pernyataan mengisyaratkan pesan bahwa dia tetap tidak akan membantu orang-orang yang mempunyai dosa politik terhadap dirinya. Sebaliknya, Fahlevi sangat mengapreasiasi sikap kenegarawan Presiden RI Joko Widodo yang langsung merespon permintaan maaf Nova dengan sangat bijak.

20200222-bireun

Presiden RI Joko Widodo di Kenduri Kebangsaan, Kabupaten Bireuen (Foto: Biro Pers Kepresidenan)

“Bapak Presiden tidak membedakan daerah dan rakyat Indonesia yang mempunyai pilihan berbeda pada Pilpres yang lalu. Itu hak politik semua orang sebagai warga Negara,” ujar Fahlevi.

Karena itu dia berpendapat, pernyataan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah juga telah menciderai nilai dan semangat rakyat Aceh dalam berdemokrasi.

“Berbeda pilihan dalam Pileg dan Pilpres itu adalah hak demokrasi rakyat. Artinya, bukan suatu perbuatan dosa dan salah sehingga harus meminta maaf secara terbuka. Ini betul-betul lebay,” kritik Fahlevi yang sebelumnya juga pendukung pasangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah pada Pilkada Aceh 2017 lalu.

Andai pun pada Pilpres 2019 lalu, Nova Iriansyah bersama partai politiknya tidak mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, permintaan maaf tadi bisa disampaikan secara tertutup dan dalam kesempatan yang berbeda.

“Nah, begitu Pak Presiden menjawab permohonan maaf tersebut dengan bijak sebagai seorang negarawan, pernyataan Nova menjadi tawar dan tak bermakna. Ini sungguh memalukan,” ujar dia.

Fahlevi juga menyebut. Proses dukung mendukung dan kalau atau menang dalam kontestasi Pileg dan Pilpres adalah hal wajar dalam ritual politik lima tahun. Bahkan, begitu sudah dinyatakan siapa pemenang dan yang kalah, semua kembali dalam barisan bersama, membangun bangsa dan daerah.

“Apakah Pak SBY ada meminta maaf kepada Pak Jokowi usai Pilpres lalu? Yang ada hanya mengucapkan selamat. Kok, Nova justeru minta maaf, ada apa ini,” ucap Fahlevi bertanya.***

Komentar

Loading...