Kuras Anggaran Hingga Rp 70 Miliar

PKA Ke-7 Hanya Dibuka Menteri Pendidikan

PKA Ke-7 Hanya Dibuka Menteri Pendidikan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka PKA Ke-6 di Banda Aceh (foto: kompas.com)
Rubrik

Banda Aceh | Harapan dan keinginan rakyat Aceh, khususnya Kota Banda Aceh untuk kembali melihat secara dekat kehadiran Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), pada pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-7, pupus sudah.

Perhelatan akbar kebudayaan Aceh empat tahunan ini hanya dihadiri dan dibuka Menteri Pendidikan Prof. Dr. Muhadjir Effendi, menggantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh, Minggu malam, 5 Agustus 2018.

Itu sebabnya, banyak pihak menilai, ketidakhadiran Presiden Jokowi karena kurangnya komunikasi dan lobi dari Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. “Padahal, kehadiran orang nomor Indonesia ini sangat penting, terutama untuk mengobati “trauma” rakyat Aceh paska musibah terjeratnya Gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf oleh KPK,” ujar Azhari Basyah, seorang pedagang keliling di areal luar, Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh pada media ini, Minggu sore.

Katanya, paska reformasi, PKA setelah dibuka Presiden RI dan ditutup oleh Wakil Presiden RI. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dua kali membuka PKA. Sayangnya, PKA Ke-7, justeru turun kasta, karena di buka setingkat menteri. Padahal, PKA tahun ini kabarnya ikut disaksikan sejumlah utusan atau undangan dari luar negeri.

Sekedar mengulang, PKA I diselenggarakan pada tahun 1958. ketika itu ide penyelenggaraan acara PKA I ini diilhami oleh kesadaran tokoh-tokoh Aceh saat itu pentingnya penyelesaian sesuatu melalui pendekatan budaya. Ada tiga pejabat yang menjadi trio lahirnya islah kebudayaan ini. Mereka mencurahkan perhatiannya untuk pelestarian kebudayaan. Trio itu adalah Gubernur A. Hasjmy, ketua penguasa Perang/Panglima Komando Daerah Militer Aceh Letkol Syamaun Gaharu dan Mayor T. Hamzah Bendahara.

Ide PKA I ini dicetuskan berdasarkan beberapa motivasi saat itu. Di antaranya, keinginan memulihkan Aceh secara total setelah peristiwa DI/TII pada tahun 1950-an. Serentetan usaha kearah itu dilakukan (Pemda dan masyarakat) yang berada di luar Aceh dalam upaya memulihkan keamanan.

Misalnya, masyarakat dan mahasiswa Aceh di Bandung-yang tergabung dalam IPS (Ikatan Pemuda Seulawah) mengadakan Kongres Pelajar/Mahasiswa Aceh pada tahun 1956 di bawah pimpinan AK Yacoby di Jakarta.

Pada tahun yang sama (1956) dilakukan pula Kongres Kilat Masyarakat Aceh yang dipimpin oleh Nyak Husda. Dan, tahun 1957 diadakan Kongres Masyarakat Aceh di Medan di bawah pimpinan Nur Nekmat dan Said Ibrahim. Tahun itu juga para Pemuda Pejoang Aceh yang tergabung dalam Divisi Gadjah Putih mengadakan Reuni di Yogyakarta.

Semua pertemuan itu telah memberikan andil bagi memulihkan keamanan dan pembangunan kembali daerah Aceh. Di antara pikiran dan gagasan itu kemudian terwujud adalah rencana membangun kembali pendidikan melalui pembangunan Kopelma Darussalam.

Motivasi lain adalah kenyataan sejarah masa lampau bahwa daerrah Aceh kaya budaya. Karenanya, ide PKA disambut hangat oleh masyarakat. Masyarakat merindukan kebesaran budaya indatunya, menghidupkan dan melestarikannya, terutama adat dan kesenian, yang nyaris hilang setelah sekian lama terpendam dan hilang akibat sejarah Aceh yang suram dirundung oleh konflik. Kerinduan membangun kembali kebudayaan Aceh terangkum dalam piagam “Adat bak Poteumeurohom, Hukom bak Syiah Kuala”. Itulah tema PKA I, yang saat itu diketuai oleh Mayor T. Hamzah.

Acara pembukaan PKA I ini berlangsung di Gedung Balai Teuku Umar, 12 Agustus 1958 dihadiri Menteri Pendidikan dan kebudayaan Prof. Dr. Prijono, sekaligus menutup acara ini pada tanggal 23 Agustus 1958.

PKA I memberi bias positif bagi perkembangan Aceh. Sebab selain berhasil mengangkat kembali sejumlah adat dan kesenian tradisional Aceh, juga terwujudnya tujuan-tujuan lain yang selaras, yaitu terbentuknya Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

Ketika itu telah dapat digali dan dihidupkan kembali sekitar 20 buah tarian tradisional Aceh dan beberapa tari kreasi baru, termasuk tari Ranub Lampuan dan tari Punca Utama. Pagelaran adat ini menampilkan berbagai etnis lokal. (selengkap baca edisi cetak, beredar mulai, Senin, 6 Agustus 2018).***

Komentar

Loading...