Pewaris Kesultanan Aceh, Cucu Raja Tuanku Raja Yusuf Meninggal Dunia

Pewaris Kesultanan Aceh, Cucu Raja Tuanku Raja Yusuf Meninggal Dunia
Tuanku Raja Yusuf Bin Tuanku Raja Ibrahim Bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah (Cucu Sultan terakhir Aceh Alaidin Muhammad Daudsyah) meninggal dunia di Rumah Sakit Pertamedika Banda Aceh, Rabu (26/2/2020) sore pukul 17.40 WIB. Foto: serambinews.com
Penulis
Rubrik

Banda Aceh l Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Kabar menyelimuti masyarakat Aceh. Pewaris Kesultanan Aceh, cucu raja Aceh Tuwanku Raja Yusuf bin Tuwanku Raja Ibrahim Bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah, meninggal dunia di RS Pertamedika, Rabu (26/2/2020) sekira pukul 17.40 WIB.

Kabar meninggalnya Tuwanku Raja Yusuf beredar cepat, terutama di media sosial khususnya facebook. Banyak masyarakat Aceh pengguna media sosial yang mengucapkan turut berduka cita dan belasungkawa.

Salah satu akun facebook milik Ampun Devayan. Dia menulis status di akun pribandinya dan membagikan kepada teman Nab Bahany As serta tiga lainnya.

"Selamat jalan guru kami, cucu raja Aceh, cucu raja Aceh Tuwanku Raja Yusuf bin Tuwanku Raja Ibrahim Bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah. Saya ingat pesan tuwanku, sudahlah! Sudah cukup dg penderitaan yg begitu panjang. Ke depan bagaimana bansa Aceh bisa merajut masa depannya secara damai dan bermartabat," tulisnya.

Menurutnya, pesan itu disampaikan tuwanku Raja Yusuf ketika hadir pada peringatan haul ke-375 tahun Sri Sultan Iskandar Muda (27 Desember 2011) yang diprakarsai Komunitas Panteue.

"Kemarin siang kami terima miscall dari nomor Tuwanku, setelah diangkat hanya terdengar orang bicara, kemudian terputus. Malam ini, saya tersentak ketika membuka laman Facebook sahabat Bang Ady, atas kabar berpulangnya Tuanku Raja Yusuf tadi pukul 17.40 WIB. Kami ikut berduka, semoga beliau ditempatkan di tempat Mulia di atas permadani Allah, sang pemilik Abadi. Al fatihah," tutupnya.

Tuanku Raja Yusuf merupakan anak ke 13 dari Tuanku Raja Ibrahim. Tuanku Raja Yusuf memiliki 15 saudara lainnya. Kakak tertua, Sulthanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam yang juga telah tutup usia di Rumah sakit Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (6/6/2018) lalu.

Silsilah selanjutnya adalah Sulthanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam. Mereka ini mulai dari Teungku Putroe Kasmi Nur Alam, Tuanku Raja Zainal Abidin. Teungku Putroe Rangganis, Tuanku Raja Ramaluddin, Teungku Putroe Sariawan, Tuanku Raja Mansur, Tuanku Raja Djohan, Tuanku Raja Iskandar.

Kemudian, Teungku Putroe Sukmawati, Tuanku Raja Syamsuddin, Tuanku Raja Muhammad Daud, Tuanku Raja Sulaiman, Teungku Putroe Gambar Gading, dan Tuanku Raja Ishak Badruzzaman.

Sejarah mencatat keluarga Raja ini sangat berjasa untuk Aceh. Dimulai pada masa Sultan Alaidin Mahmud Syah, Belanda mengumumkan ultimatum perang terhadap Kerajaan Aceh.

Saat itu, ekspedisi pertama Belanda berakhir kegagalan hingga menyebabkan tewasnya panglima Perang Belanda yaitu Major Jenderal J.H.R Kohler tanggal 14 April 1873 di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

Kegagalan itu membuat Belanda marah, akhirnya penyerangan kedua pun dimulai dan berakhir dengan kesuksesan sehingga Banda Aceh Darussalam dikuasai oleh Belanda.

Dengan semangat yang masih membara dari pejuang Aceh Sulthan Alaidin Mahmud Syah memindahkan Ibukota Kerajaan untuk mematahkan pernyataan Belanda yang mengklaim sudah menguasai ibukota Kerajaan Aceh.

Dalam mematahkan perlawanan prajurit Kerajaan Aceh, Belanda pun menyebarkan wabah penyakit kolera. Sehingga Sultan Alaidin Mahmud Syah pun terkena wabahnya.

Lalu, pada tahun 1874 para Mufti Kerajaan dan pembesar kerajaan lainnya mengangkat Tuanku Muhammad Daud bin Tuanku Zainal Abidin sebagai Sulthan Aceh yang bergelar Sulthan Alaidin Muhammad Daud Syah. Karena masih kecil, para pembesar kerajaan menunjukkan Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai Pemangku Sulthan.

Perjuangan untuk tetap merdeka membuat para petinggi kerajaan dan prajurit kerajaan Aceh harus menyusun strategi baru dalam berperang mengusir penjajah Kerajaan Islam Aceh yaitu Belanda hingga akhirnya Sulthan Alaidin Muhammad Daud Syah memindahkan Ibukota Kerajaan ke Keumala Dalam.

Di Keumala inilah, Sulthan Muhammad Daud Syah mengatur pemerintahan dan mengangkat Tgk. Chiek Muhammad Saman di Tiro sebagai Wazir Sulthan Kerajaan Aceh Darussalam. Tgk. Chik Ditiro ini menjabat urusan Perang Sabil pada tahun 1883 setelah diputuskan dalam Musyawarah Besar para petinggi kerajaan di Keumala Dalam.

Hingga kemudian, Tgk. Chiek Muhammad Saman di Tiro meninggal tahun 1891 karena diracuni seorang janda yang telah diupah oleh pihak Belanda. Sepeninggalan Tgk. Chiek Muhammad Saman, pemimpin perang sabil dengan persetujuan Sultan dipegang oleh Tgk.

Chik Di Tiro Muhammad Amin. Setelah Tgk. Di Tiro Muhammad Amin syahid di Aneuk Galong pada tahun 1896, pucuk pimpinan perang sabil dipegang oleh Tgk. Chik Di Tiro Mahyiddin yang terus bergerilya di pegunungan Tangse.

Nah pada tahun 1902, permaisuri sultan yaitu Tengku Putroe Gamboe Gadeng dan Putera Mahkota yaitu Tuanku Raja Ibrahim disandera oleh prajurit Belanda. Sehingga akhirnya tahun 1903, Sultan Muhammad Daud Syah, terpaksa berunding dan akhirnya ditangkap dalam perundingan itu.

Sultan Muhammad Daud Syah menyerahkan diri, kemudian diasingkan ke Batavia dan sempat juga diasingkan ke Ambon hingga akhirnya kembali ke Batavia dan meninggal tahun 1939 di Jakarta.

Sultan Muhammad Daud Syah, mempunyai seorang anak dari istrinya yaitu Teungku Putroe Gamboe Gadeng yaitu Tuanku Raja Ibrahim. Kabarnya, Sultan terakhir Kesultanan Aceh ini juga memiliki beberapa anak dari istrinya berdarah Banten, Hajjah Neng Effi.

Tuanku Raja Ibrahim, merupakan putera tertua dari Sulthan Muhammad Daud Syah. Ia adalah pemegang Putera Mahkota terakhir. Ratu Belanda pernah ingin melihatnya langsung.

Tuanku Raja Ibrahim ini juga pernah diasingkan oleh Belanda bersama dengan ayahanda dan ibundanya ke Batavia, hingga akhirnya bisa pulang kembali ke Aceh tahun 1937.

Sampai tahun 1960 Tuanku Raja Ibrahim menjabat Mantri Tani di Sigli dan sempat diberikan rumah untuk tinggal sementara oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan syarat dikembalikan setelah dia meninggal.

Pada 1 Maret 1982, sang Putera Mahkota ini meninggal dunia dan dikebumikan di Baperis (Badan Pengurus Kompleks Makam Raja Aceh). Putra Mahkota terakhir inilah, Tuanku Raja Ibrahim mempunyai keturunan 16 orang putera-puteri dari beberapa istrinya.***

Komentar

Loading...