Petani Merugi Akibat Harga Cabai Turun

Petani Merugi Akibat Harga Cabai Turun

Meulaboh | Memasuki musim panen raya, petani cabai di Kabupaten Aceh Barat mengalami penurunan omset 50 persen. Itu disebabkan harga jual cabai kapada agen lokal hanya ditampung Rp 10 ribu per kilogram (Kg).

Harga ini menurut petani di Aceh Barat, berada jauh di bawah harga produksi cabai yang dihasilkan para petani, sehingga modal yang dikeluarkan untuk biaya perawatan tidak sesuai dengan pemasukan dari hasil penjualan.

Salah seorang petani cabai di Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Riza Arifin mengaku. Omset menurun akibat harga jual ikut merosot dari harga panen sebelumnya yang mencapai Rp 30 ribu per kilogram.

Kerugiannya bahkan mencapai Rp 5 juta dengan jumlah panen 500 kilogram dalam sekali petik di seluruh kebun.

“Kalau kualitasnya masih sangat bagus, karena begitu dipanen langsung ditampung agen. Tapi harga jual yang tidak sesuai, 10 sampai 15 ribu yang bisa ditampung. Jika dihitung biaya produksi seharusnya harga tampung standar paling kurang Rp 22 ribu,” jelas Riza kepada MODUSACEH.CO, Rabu (23/10/2019).

Turunnya harga beli cabai di tingkat petani, kata Riza, sudah terjadi sejak dua pekan terakhir secara beransur hingga menyentuh harga Rp 10 ribu.

Meski harga beli ditingkat agen terlalu murah, namun ia terpaksa menjual hasil panennya lantaran tidak memiliki tempat penyimpanan, sehingga dikhawatirkan membusuk.

Ia berharap, pemerintah seharusnya bisa menstabilkan harga cabai dan bahan pokok lain, agar tidak naik turun secara drastis seperti saat ini. Sehingga petani lokal juga tidak terus merugi karena murahnya daya tampung oleh agen yang tidak sesuia dengan biaya produksi.

“Ya terpaksa kita jual karena tidak ada tempat penyimpanan yang bisa menjamin cabai tidak busuk, dari pada busuk, ya jual saja sama agen, kita mau pemerintah bisa menstabilkan, agar tidak terus terusan seperti ini,” ujar Riza.***

Komentar

Loading...