Dibalik Permintaan Maaf Nova Kepada Presiden Joko Widodo

Pengamat Politik dan Ekonomi Aceh, Dr. Taufik Abdul Rahim: Terkesan "Cari Muka" dan Sangat Membela Jokowi

Pengamat Politik dan Ekonomi Aceh, Dr. Taufik Abdul Rahim: Terkesan "Cari Muka" dan Sangat Membela Jokowi
Dr. Taufik Abdul Rahim (Foto: acehimage.com)
Rubrik

Banda Aceh | Pengamat politik dan ekonomi dan juga akademisi Universitas Muhammadyah Aceh menilai. Kehadiran Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam Kenduri Kebangsaan di Bireun, merupakan tanggung jawab politik nasional dan memiliki arti penting secara politik bagi Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhususan dalam wilayah RI.

Katanya, meski pun secara pemilihan politik pada saat Pemilihan Presiden (Pilpres) yang lalu mengalami kekalahan mutlak di Aceh, bukan berarti Jokowi tidak boleh ke Aceh.

“Sikap bijaksana yang diperlihatkan sebagai pemimpin Indonesia. Artinya Aceh juga itu penting bagi Indonesia, sehingga Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan perubahan serta percepatan pembangunan dan peningkatan ekonomi serta kesejahteraan rakyat Aceh. Maka perhatiannya ke Aceh dan untuk rakyat Aceh meskipun beda pilihan politik, bukan untuk pejabat di Aceh yang hanya mengurus urusan seremonial dan protokoler politik," kritik Taufik Abdul Rahim.

Pendapat itu disampaikan, menjawab wawancara dengan MODUSACEH.CO, Sabtu petang. Katanya, selama ini Jokowi menyadari dan memperhatikan secara politik serta glontoran dana, juga anggaran belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).

Bahkan dalam triliunan rupiah, tetapi tingkat pembangunan, disparitas kehidupan, kesenjangan keadilan ekonomi wilayah serta sektoral masih tinggi, pertumbuhan ekonomi rendah, dan APBA lebih banyak alokasinya untuk belanja pegawai serta membeli fasilitas serta peruntukannya untuk perjalanan dinas dan memenuhi hasrat konsumsi serta belanja,  demi kepentingan proyek dan program pengelola pemerintahan.

Ini artinya,  ada sinyal dan alaram atau warning besar untuk Pemerintah Aceh yang secara politik menghargai sambutan protokoler tapi tidak bermakna berlebihan. Termasuk harus hati-hati dengan statement atau pernyataan politik yang terkesan kekanak-kanakan serta lebay, sehingga memiliki nilai rendahan, tidak bijaksana dan mudah terbaca publik sebagai "menjilat". Ujar Dr. Taufik.

Kata dia, rakyat Aceh khususnya secara politik tahu dan paham terhadap apa yang menjadi keinginan dan bahasa perhatian Jokowi pada periode kedua ini. Bahkan lawan politiknya (Prabowo) saat ini juga sudah merupakan bahagian dari teman/tim kerja politik secara nasional.

Karena itu, kesan kedangkalan trik dan praktik politik dalam memberikan sambutan serta pernyataan yang mudah terbaca publik juga hadirin yang hadir pada Kenduri Kebangsaan Aceh, menunjukkan ada sesuatu yang tersembunyi terhadap pengelolaan Pemerintah Aceh yang memiliki masalah besar dengan rakyat.

“Jadi ingin terkesan atau cenderung "cari muka", seolah-olah paling perduli dan sangat membela Jokowi,” kritik Dr. Taufik.

Masih kata Dr. Taufik. “Jangan-jangan semakin memberikan isyarat bahwa Jokowi juga akan nengambil tindakan politik yang sulit ditebak terhadap Pemda Aceh dan pemimpin atau pejabatnya. Yang paling penting adalah, secara politik Jokowi hanya perhatian serta fokus untuk perubahan serta peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh, bukan pejabat Aceh, yang berdampak politik dan ekonomi nasional," ulas dia.

"Ini lebih berharga dari pada sekedar mendapat sambutan "kamuflase" dan tahu persis siapa orang atau individu yang pantas mendapatkan perhatian serta kehormatan dari jokowi di Aceh. Secara politik mempunyai pengaruh terhadap berbagai kebijakan politik dan menjadi penilaian penting terhadap perpolitikan nasional bukan skala lokal dan berdampak partial,"  kata akademisi kritis ini.***

Komentar

Loading...