Pencari Gading Boat Ditangkap Polisi, Benarkah Dugaan Sabu?

Pencari Gading Boat Ditangkap Polisi, Benarkah Dugaan Sabu?
Boat yang dipasang Police Line terkait kasus penangkapan UH. (Foto: MODUSACEH.CO/Ist)

Meulaboh | Melalui sambungan telpon seluler, suara tangis Halimah terdengar jelas, saat media ini memperkenalkan diri untuk konfirmasi, terkait penangkapan UH (suaminya), Jumat (16/4/2021) malam.

Sehari kemudian atau Sabtu, Halimah bercerita tentang kisah penangkapan suaminya tadi.

Ketika itu, Halimah bersama anaknya sedang istirahat di rumah, Desa Pulo Teungoh, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Tiba-tiba datang rombongan polisi berpakaian lengkap dengan senjata masuk ke rumahnya.

Tutur Halimah, saat itu anak laki-lakinya berinisial F yang masih duduk di bangku kelas satu Sekolah Menegah Atas (SMA), sempat tiarap.

Dalam situasi kaget dan takut, Halimah menjerit. Kepada polisi yang disebut-sebut dari Mabes Polri Jakarta itu, dengan suara tinggi Halimah mengatakan, anaknya tidak tahu apa-apa.

“Saya bilang, anak saya ngak tahu apa-apa, anak saya masih kecil,” kata Halimah pada media ini melalui telepon, Sabtu sore kemarin.

Tak berapa lama kemudian, Halimah baru melihat suaminya di luar rumah bersama satu orang laki-laki lain yang  tidak ia dikenal dengan tangan diborgol. Karena cuaca hujan, baru suaminya dibawa masuk ke dalam rumah oleh polisi.  

“Waktu itu hujan, di luar sebentar, baru dikasih masuk dalam rumah. Sudah lama di rumah baru dibawa kembali. Berdua dia, tapi yang satu lagi saya tidak tahu siapa dengan kondisi tangan diborgol,” ujar Halimah sambil menangis.

Halimah juga menegaskan, seorang lagi laki-laki dengan tangan diborgol bukan teman suaminya. Karena Halimah mengaku tidak pernah melihat laki-laki itu. “Bukan kawan suami saya, ngak tahu siapa?,” katanya.

Saat suaminya dibawa masuk rumah, cerita Halimah ia bersama tiga anaknya duduk di luar karena dilarang mendekat.

Lama suaminya bersama rombongan polisi dalam rumah, diperkirakan sekitar dua jam. Namun Halimah dan anaknya tidak bisa berkomunikasi dengan suaminya itu.

Dari luar rumah, Halimah sempat melihat polisi mengambil foto. Meurut Halimah mungkin sebagai bukti dalam rumahnya yang berdiding papan.

Selain itu, Halimah juga melihat polisi mengamankan karung goni dan plastik yang diambildari depan rumahnya. 

Goni dan plastik tadi sebut Halimah, disimpan dalam fiber yang baru sampai pada  siang hari, Jumat (16/4/2021). Barang tersebut, diakui Halimah dari Banda Aceh. “Saya tidak tahu benda apa dan berapa jumlahnya,” kata Halimah.

Goni yang disimpan dalam fiber tadi, sebut Halimah diletakkan tiga pria yang tidak dikenalnya sebelum suaminya ditangkap pada Jumat malam. Barang tersebut sampai ke rumahnya, diangkut menggukanakan boat pada siang hari Jumat (16/4/2021).

Saat barang itu dibawa ke halaman rumahnya, Halimah sempat bertanya pada suaminya itu benda apa? Kata Halimah, suaminya UH menjawab bahwa itu getah damar.

“Orang yang bawa barang tadi tidak jawab, suami saya yang jawab itu damar,” kisah Halimah.   

Barang-barang yang disebut getah damar tadi, dibawa menggunakan boat warna biru. Boat itu sebut Halimah datang dari Banda Aceh. Memang lanjut ibu tiga anak itu, sebelum suaminya ditangkap, UH pernah menyampaikan, ada boat yang mau direhab. 

“Boat warnah Hijau dibawa dari Banda Aceh, sopirnya saya tidak tahu, tapi saya lihat orangnya. Tidak tahu siapa itu. Memang suami saya pernah cerita, katanya ada boat rehab dari Banda Aceh, nanti ditarok barang-barang di sini, seperti damar,” ujar Halimah.

Halimah pun tak lagi mendalami setelah ada pengakuan dari suaminya. Karena memang pernah alat-alat untuk perbaiki boat disimpan di rumahnya, seperti hidro karbon (aspal) dan jenis alat buat boat lainnya.

Setelah sekitar dua jam dan diamankannya barang dalam fiber tadi, barulah suaminya UH dibawa keluar dengan mata tertutup. Namun setibanya depan rumah dekat pintu, UH minta pada polisi untuk dibuka penutup matanya untuk melihat anak-anak dan istrinya.

UH bersama anak-anak dan istrinya pun sempat berpeluk. Waktu singkat itulah, pada suaminya Halimah minta menjawab apa adanya saat menjalani pemeriksaan.

Halimah mengatakan pada suaminya “Ayah tidak salah, ayah dijebak”. UH pun membalas penjelas istrinya. “Itulah saya tidak tahu apa-apa, saya kira itu damar,” kata Halimah, meniru pengakuan suaminya sebelum dibawa polisi.

Menurut Halimah, suaminya ditangkap pada Jumat malam bukan di rumah. Namun Halimah tidak tahu di lokasi mana. Sebab, saat suaminya diamankan, dia juga tidak dibawa handphone (HP). 

Sebab, Halimah bersama suaminya hanya miliki satu HP. Halimah juga telah mencoba periksa HP tadi, tidak ada pesan yang mencurigakan.

Selain itu, selama ini suaminya juga tidak pernah pergi luar daerah Aceh Barat. “Kalau pun ke Meuloboh ikut saya, suami saya tidak pernah keluar Meulaboh,” sebut Halimah, Sabtu sore.

Sehari-hari, UH jelas Halimah bekerja sebagai buruh kasar. Sekitar delapan bulan lalu pernah memperbaiki boat. Tapi sehari-hari, suaminya itu mengangkut kayu (gading) boat dan angkut sawit milik orang menggunakan becak miliknya.

Halimah mengaku, keluarganya itu kurang mampu.

“Dulu bawa becak, sekarang masih juga bawa becak naik ke hutan. Kalau ngak ada  kayu boat, jika ada orang panen sawit bawa sawit dengan becak,” kata Halimah, menceritakan pekerjaan suaminya sehari-hari.

Fiber dipasang Police Line di depan rumah Halimah, Desa Pulo Teungoh, Kecamatan Meureubo. (Foto: MODUSACEH.CO/Ist)

Tak hanya itu, jika suaminya ditangkap karena dugaan terlibat sabu-sabu, Halimah yakin suaminya dijebak. Sebab, setelah tiga anak ia bersama suaminya, Halimah mengenal suaminya tidak pernah suka barang haram tersebut.

“Ngak pernah itu, mungkin suami saya dijebak. Jangankan jual makek pun tidak pernah, paling marah dia dengan barang itu,” ucap Halimah.

Hingga Sabtu sore, Halimah bersama anak-anaknya tidak tahu suaminya dibawa kemana. Kecuali itu, pada Sabtu kemarin ada polisi yang pergi ambil foto fiber dekat rumahnya dan menyebut suaminya dibawa ke Banda Aceh lalu ke Jakarta.  

"Tadi Sabtu (17/4) ada dari polisi foto-foto boks (fiber), saya nangis dan bilang kasih tahu suami saya dimana? Orang itu jawab, belum dikasih tahu sama Polsek, belum saya jawab. Kata mereka suami saya di Banda Aceh mau dibawa ke Jakarta,” kata Halimah, Sabtu.

Kepala Desa Pulo Tengoh, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Sulaiman melalui telepon, Sabtu (17/4) kemarin mengaku sekira pukul 22.00 WIB, Jumat (16/4) malam datang beberapa unit mobil mewah ke rumah UH.

Saat itu, ia bersama masyarakat dan beberapa apatur desa setempat sedang duduk di teras masjid. Kemudian Sulaiman meminta apatur Desa Pulo Teungoh untuk menghampirinya.

Namun, ketika aparatur desa tadi memperkenalkan diri, mereka dilarang mendekat. Polisi yang berpakaian rombi anti peluru itu menyampaikan bahwa ini urusan mereka.

Sehingga pihak aparatur desa akui Sulaiman tidak tahu UH ditangkap terkait kasus apa. Sehari-hari, UH akui Sulaiman berpergaulan seperti masyarakat lainnya. Namun dari sisi ekonomi, UH kata Sulaiman tergolong kurang mampu.

Maka tidak heran, apa saja yang disuruh orang dikerjakan dengan becak miliknya.

“Kalau satu hari saja tidak kerja, rasanya besok tidak tahu apa yang dia makan, begitulah kira-kira," ujar Sulaiman.

UH kata Kepala Desa Pulo Teungoh tadi, sehari-hari pengangkut kayu (gading) boat. Bila tidak ada, apa yang disuruh orang ia kerjakan tanpa mematok upah angkutan becak yang dia terima.

Kapolres Aceh Barat AKBP Andrianto Argamuda SIK melalui Kapolsek Meureubo, Kabupaten Aceh Barat IPDA Vitra Ramadani, melalui sambungan telepon, Sabtu malam (17/4) mengaku tidak tahu.

“Tidak tahu saya karena infonya dari Mabes turun langsung. Yang kita tahu ada terjadi penangkapan,” ujarnya.*** 

 

Komentar

Loading...