Pemuda Berpedang Bubarkan Patroli Gabungan dan Tebas Polisi

Pemuda Berpedang Bubarkan Patroli Gabungan dan Tebas Polisi
Foto: Din Pasee

Lhokseumawe | Tanpa diketahui penyebabnya, seorang pemuda Fakhri (26) dengan menggunakan sebilah pedang mengamuk dan membubarkan tim patroli gabungan Gampong Geulumpang, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara. 

Selain itu, dia menebas satu anggota polisi. Aksi mengamuk secara membabi buta ini menggegerkan warga Kecamatan Samudera Geudong dan Kecamatan Meurah Mulia, lantaran pelaku masih berani menenteng pedang seperti seorang pendekar sakti.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto membenarkan kejadian tadi dan polisi sudah bergerak untuk memburu dan menangkap pelaku yang masih berkeliaran serta telah meresahkan warga di desa setempat.

Geusyik Geulumpang Tuddin mengatakan. Peristiwa itu terjadi Jumat (8/1/2021) sekira pukul 22.00 WIB. Saat itu, aparat gampong bekerjasama dengan Babinsa TNI dan Polsek Meurah Mulia hendak menggelar patroli keamanan gampong.

Tim gabungan bermaksud mengimplementasikan qanun gampong dengan melarang anak-anak di bawah umur lalai dalam bermain Wifi hingga larut malam atau dibatasi hingga pukul 21.30 WIB.

Ketika itu, tim gabungan yang baru saja turun dari mobil patroli, persis di depan sebuah warung Wifi, tiba-tiba Fakhri, datang dengan membawa pedang dan mencabut sarungnya.

Lalu dengan posisi menghunus pedang, langsung mengejar dan membubarkan tim gabungan hingga kocar-kacir menyelamatkan diri.

Beruntung, seorang anggota polisi berseragam preman yang sempat berada dekat tidak menjadi sasaran.

Namun, satu oknum polisi lainnya yang memakai seragam dinas polisi lengkap terjatuh saat berlari.

Saat posisi sudah di bawah, oknum polisi bernama Dedi itu menjadi sasaran serangan pelaku.

Akibatnya, korban mengalami patah tangan, terluka di bagian kaki, perut dan pinggang. Kemudian pelaku berhenti menyerang dan beralih posisi dengan menghancurkan dan merusak mobil patroli petugas dengan pedangnya.

Saat itu menjadi kesempatan bagi Dedi berusaha menyelamatkan diri ke dalam rumah warga setempat. Tapi, pelaku mencari dan menemukan Dedi terjebak dalam ruangan rumah.

Syukur, telpon seluler (HP) korban berdering karena telepon masuk hingga membuat pelaku tidak lagi menyerang, tapi hanya meminta HP korban dan berlalu pergi dengan santai.

“Bila melihat kondisi lukanya yang tidak merobek atau menembus dalam daging, kemungkinan pelaku menebas petugas dengan mata pedang terbalik. Bila tidak akan menjadi parah karena pedang yang digunakan pelaku matanya sangat tajam,” ujarnya.

Pasca kejadian itu, seluruh warga gampong setempat merasa resah dan ketakutan karena pelaku masih menenteng pedangnya sambil bersembunyi dari rumah ke rumah atau di balik semak-semak.

Tak lama kemudian, Tim Satreskrim Polres Lhokseumawe diterjunkan untuk menangkap pelaku. Dan, pukul 17.00 WIB, petugas melakukan pengejaran terhadap pelaku yang bersembunyi dalam sebuah gubuk, tapi gagal ditangkap karena berhasil kabur.

Namun polisi telah berhasil mengamankan barang bukti (BB) berupa sebuah pedang yang digunakan sebagai senjata menyerang polisi.

Geusyik menerangkan meski sadar sedang diburu polisi, anehnya pelaku sama sekali tidak melarikan diri keluar desa, justru pada pukul 02.15 WIB, dini hari, Minggu (10/1), pelaku pulang ke rumah untuk tidur.

Saat itu, polisi kembali mengepung rumah dan meminta pelaku segera menyerahkan diri sebelum polisi bertindak tegas.

Bahkan polisi juga beberapa kali menembak ke udara sebagai peringatan keras agar segera menyerah, namun pelaku justru nekat melarikan diri dari pintu belakang.

Sehingga suasana pengejaran pelaku pun diwarnai suara letusan tembakan dan banyak warga yang keluar rumah menyaksikan adegan tersebut.

Hingga kini pelaku masih belum berhasil ditangkap dan petugas masih terus berusaha dengan berbagai cara untuk dapat menangkapnya.

Geusyik menjelaskan, pelaku Fakhri berprofesi sebagai kuli bangunan dikenal sebagai sosok pendiam dan jarang bergaul. Kesehariannya, pelaku kerap mengamuk, merusak dan membakar rumah keluarga hanya karena tidak dipenuhi permintaan uang jajan dalam jumlah besar.

“Dia sering mengamuk, rumah kakaknya pernah diobrak-abrik karena tidak dipenuhi permintaan uang Rp600 ribu. Keluarga terkadang harus melarikan diri dari pada diserang. Anehnya kali ini dia menyerang petugas tanpa alasan,” tuturnya.

Geusyik mengaku pelaku juga merupakan seorang pasien pecandu narkoba yang masih menjalani pengobatan rehabilitasi berkelanjutan dan keluarganya memiliki surat berobatnya.

Hingga berita ini diturunkan, polisi masih terus memburu pelaku yang diduga masih berkeliaran di gampong setempat.***

Komentar

Loading...