Tak Patuh Pergub

Pemko Banda Aceh ‘Rotan’ Pelanggar Syariat di Masjid Ulee Lheue

Pemko Banda Aceh ‘Rotan’ Pelanggar Syariat di Masjid Ulee Lheue

Banda Aceh | Walau Pemerintah Aceh telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 5 Tahun 2018, tentang pelaksanaan uqubat cambuk di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau tempat tertutup, tak menyurutkan niat  Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh, melaksanakan uqubat cambuk ditempat terbuka.

Lihat saja, melalui Kejaksaan Negeri (Kejari), Pemko Banda Aceh melakukan eksekusi cambuk bagi 15 pelanggar syariat Islam di halaman Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (13/7/18).

Menggunakan pengeras suara, petugas meminta masyarakat dibawah umur 18 tahun untuk meninggalkan lokasi. Selanjutnya, algojo langsung mengambil posisi dan mangayukan rotan pada punggung terpidana pelanggar syariat satu persatu.

Para pelanggar syariat ini tercatat melanggar Qanun Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat. Dari 15 terpidana, tercatat 4 orang terlibat kasus khamar (minuman keras), 2 orang kasus liwath (homoseksual), dan 9 orang kasus ikhtilat (berduaan ditempat sepi yang bukan muhrim).

Dua pelanggar kasus liwath dicambuk masing-masing 87 kali setelah dipotong masa tahanan 3 kali. Kasus khamar ada yang dicambuk 15 kali, 25 kali dan 30 kali setelah dipotong masa tahanan. Sedangkan kasus ikhtilath dicambuk masing-masing 25 kali setelah dipotong masa tahanan 3 kali.

Mewakili Wali Kota, Sekdakota Banda Aceh, Ir Bahagia menyampaikan apresiasi kepada Kejaksaan Negeri, Mahkamah Syar’iyah dan Polresta Banda Aceh, serta semua pihak yang telah mendukung sehingga pelaksanaan uqubat cambuk bagi pelanggar Qanun Nomor 6 Tahun 2014 dapat terlaksana.

Sekda menegaskan. Pemerintah Kota Banda Aceh memiliki komitmen yang kuat dalam hal penegakkan syariat. Katanya, Pemko sendiri tidak menginginkan adanya pelanggaran hingga menyebabkan hukuman cambuk. Karena, ketika penegakan syariat Islam berjalan dengan baik, maka tidak akan ada lagi warga yang kena cambuk.  “Namun demi untuk penegakan hukum dan pelaksanaan syariat Islam di kota ini, maka eksekusi cambuk tetap harus dilaksanakan ketika terbukti melanggar,” tegasnya.

Menurut Sekda, penegakan Syari’at Islam sangatlah penting, karena dengan tegaknya Syari’at Islam maka ridha, hidayah dan inayah Allah akan turun dan ajaran Islam akan terus eksis, hidup dan semarak, sehingga dengan sendirinya dapat menciptakan suasana dan lingkungan Islami yang Gemilang.

Dalam kesempatan ini, Sekda juga menyampaikan, saat ini telah hadir di Banda Aceh para ulama dari berbagai Negara di dunia dalam rangka mengikuti Kegiatan Muzakarah Ulama Internasional. “Dan pelaksanaan uqubat cambuk ini dapat menjadi bukti kepada dunia Internasional bahwa Pemerintah Kota bersama-sama dengan warganya, tetap komit dalam menegakkan Syariat Islam di Banda Aceh. Para pelanggar Qanun syariat Islam yang ditangkap dan dicambuk hari ini pun merupakan hasil tindak lanjut dari laporan masyarakat,” ungkap Bahagia.

Selain itu, kata Sekda penegakan syari’at Islam merupakan cita-cita kita bersama demi Kota Banda Aceh bersih dari maksiat. Karenanya, Sekda berharap dukungan dari segenap elemen warga kota untuk tidak memberi ruang sedikitpun bagi pelanggar syariat di kota ini. Sekda juga berharap, hukuman cambuk tidak hanya sebatas hukuman fisik kepada para pelanggar qanun saja, tetapi  juga berefek jera kepada pelaku dan menjadi ‘iktibar bagi semua yang menyaksikan.

“Kami ingatkan kepada para hadirin, bahwa uqubat cambuk ini bukan untuk mengejek dan menertawakan pelaku, tapi sebagai bahan pelajaran bagi kita semua, bahwa apapun yang kita lakukan ada konsekuensinya,” katanya mengingatkan.***

Komentar

Loading...