SBY, Perdamaian, Kesejahteraan dan Pilkada Aceh

Pemimpin Aceh Harus Jujur

Pemimpin Aceh Harus Jujur

Ketika saudara-saudara kita dari luar negeri datang membantu, banyak pihak menolak. Jangan nanti pro GAM! Saya katakan, itu biasa, kalau ada satu negara mengalami musibah, maka negara lain ikut membantu.

SBY mengatakan, Indonesia juga sering membantu negara yang mengalami musibah. "Jadi saya katakan, kita buka pintu dan persilahkan. Itukan misi kemanusiaan, yang mengatur juga kita. Mereka datang untuk membantu kita. Untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa saudara-saudara kita," cerita SBY.

Memang saat itu, ada yang mengkhawatirkan masuknya intelejen asing yang berpihak pada GAM, namun itu tidak terjadi. Bahkan mereka tahu, GAM yang saat itu keras, ternyata siang dan malam ikut membantu, mengevakuasi mayat-mayat. "Dunia Internasional tahu itu dan jalan Allah terbuka, maka lahirlah perdamaian," ungkap SBY.

Apakah ketika masih konflik, itu bisa kita lakukan? Tentu tidak, tapi SBY tetap percaya, dibalik musibah selalu ada berkah. Itulah yang terjadi di Aceh waktu itu.

"Itu cobaan dari Allah. Saya masih ingat hari-hari panjang, saya didampingi Bu Ani berkali-kali, paska musibah dahsyat itu datang ke Aceh. Bu Ani menangis dan saya terharu melihat penderitaan saudara-saudara kita saat itu. Karenanya saya bertekad dan mengajak, ayolah kita hentikan konflik."

SBY, saat itu tak berhenti mengingatkan bahwa banyak rakyat Aceh menderita. Itulah yang memotivasi dirinya untuk terus berikhtiar sekuat tenaga, mencari jalan perdamaian Aceh segera terwujud. "Memang saat itu ada yang pro dan kontra. Biasalah politik selalu gaduh."

Tapi, SBY mengakui hingga ini pembangunan Aceh paska konflik masih belum menggembirakan. Bahkan kemiskinan terus meningkat. Apakah kesalahan ini ada pada pemimpin daerah? "Yang paling tahu tentu rakyat Aceh sendiri, karena itu perlu lakukan evaluasi dengan jujur," ajaknya.

SBY menduga, lambatnya penurunan tingkat kemiskinan di Aceh bisa jadi lantaran kebijakan dan sasarannya yang keliru. "Atau anggaran tidak tepat sasaran?" katanya. "Ini negeri kita sendiri. Jakarta melakukan evaluasi dan Banda Aceh melakukan evaluasi. Kalau itu dilakukan, kita semakin berhasil. Saya sedih kalau tidak bergerak ke arah yang benar. Nasib saudara-saudara kita yang sudah menderita sekian puluh tahun tapi masih belum bisa memperbaiki taraf hidupnya."

Memang, dia akui SBY, di seluruh dunia, ada negara-negara tidak selalu sukses menurunkan angka kemiskinan. Namun, kata SBY, selama sepuluh tahun dirinya memimpin dan bekerja keras, mampu menurunkan enam sampai tujuh persen angka kemiskinan.

Dan di tingkat global, kata SBY, itu sudah dianggap sangat berhasil. Kalau angka kemiskinan di Aceh masih di atas nasional, ini menjadi cambuk bagi para pemimpin di Aceh. "Mulai dari gubernur, para bupati dan wali kota, harus terus berupaya untuk menurunkan angka kemiskinan ini," katanya.

SBY mengingatkan supaya proses pembangunan jangan hanya terfokus pada infrastruktur. Sebabnya, faktor manusianya jauh lebih penting. "Sebab, kalau hanya infrastruktur yang dipikirkan, kesenjangan terus melebar,  pengentasan kemiskinan jalan di tempat.Sementara pendidikan dan kesehatan anggarannya sedikit."
Karena itu, kata SBY, tolong harus ada program Pemerintah Aceh, kabupaten dan kota yang langsung menyentuh pada rakyat miskin. "Dan ada satu lagi jalur efektif: cetak lapangan pekerjaan."

Orang yang nganggur, lanjut SBY, tidak punya pekerjaan pasti miskin. Kalau ada lapangan pekerjaan, mereka punya penghasilan, maka jauh dari kemiskinan. Intinya, lakukan sesuatu untuk mengurangi kemiskinan dan penentunya sekali lagi, pimpinan di Aceh. Mulai dari gubernur serta para bupati dan wali kota.*

Komentar

Loading...