Pemerkosaan di Istana Presiden Prancis Terjadi Usai Acara Dihadiri Macron

Pemerkosaan di Istana Presiden Prancis Terjadi Usai Acara Dihadiri Macron
Halaman Istana Kepresidenan Prancis (Foto: AP)
Penulis
Rubrik
Sumber
detik.com

Jakarta | Seorang tentara wanita Prancis telah melaporkan dugaan pemerkosaan yang dialaminya di Istana Kepresidenan Elysee di Paris. Pemerkosaan itu diduga dilakukan rekannya sesama tentara usai acara seremoni yang dihadiri Presiden Emmanuel Macron.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (13/11/2021), dugaan serangan seksual itu terjadi setelah resepsi perpisahan seorang jenderal dan dua orang lainnya di Istana Elysee, yang dihadiri Macron pada Juli lalu. Demikian menurut harian Prancis, Liberation, yang pertama kali melaporkan dugaan pemerkosaan itu.

Sumber peradilan mengkonfirmasi kepada AFP bahwa tentara yang dituduh dinyatakan sebagai saksi pembantu setelah diinterogasi oleh jaksa pada 12 Juli. Ini Artinya, tentara tersebut masih menjalani interogasi lebih lanjut tetapi belum didakwa secara resmi.

Menurut Liberation, kedua tentara itu adalah bagian dari kelompok yang terus minum-minum setelah Macron meninggalkan resepsi sekitar pukul 10 malam waktu setempat, meskipun ada kewajiban menahan diri bagi para pegawai negeri yang bekerja di Elysee.

Liberation melaporkan bahwa kedua tentara itu adalah rekan kerja yang ditempatkan di kantor staf umum dengan keamanan tinggi di Istana Elysee, yang bertanggung jawab atas masalah sensitif pemerintah, kebanyakan bersifat rahasia atau sangat rahasia.

Disebutkan bahwa tentara wanita itu melaporkan pemerkosaan tersebut di kantor polisi terdekat beberapa jam setelah acara resepsi.

Saat dimintai komentar, seorang pejabat kepresidenan Prancis mengatakan bahwa "segera setelah pihak berwenang mengetahui klaim ini, tindakan segera diambil" untuk mendukung tersangka korban dan "orang yang dituduh segera dipindahkan jauh dari Elysee".

Macron, yang kemungkinan akan mencalonkan diri kembali dalam pemilihan April mendatang, telah menjadikan penanganan kekerasan terhadap perempuan sebagai tema utama kepresidenannya.

Sebuah jajak pendapat Odoxa yang dirilis Kamis (11/11) menunjukkan dia tetap menjadi yang terdepan dengan 25 persen suara pada putaran pertama pemungutan suara. Disusul kemudian oleh kandidat sayap kanan, Marine Le Pen dengan 18 persen suara.***

Komentar

Loading...