Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Penggerebekan Tambang Emas Ilegal di Aceh Barat

Polisi Belum Berhasil Tangkap Pelaku

Polisi Belum Berhasil Tangkap Pelaku

Banda Aceh | Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Direkrimsus) Polisi Daerah (Polda) Aceh menyita sejumlah alat berat escavator atau beko, yang diduga penggunaannya untuk mengeruk tanah di kawasan Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat dalam aktivitas tambang emas ilegal.

Temuan polisi, ada dua lokasi yang dijadikan sebagai tempat penambangan tanpa izin, yakni Desa Tungkop dan Desa Geudong, Kecamatan Sungai Mas daerah setempat. Namun, hasil penggerebekan petugas, 4 Maret 2020 kemarin, hanya menemukan alat tanpa pelaku.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Ery Apriyono mengatakan. Keberadaan tambang emas ilegal tersebut diperkirakan sudah berjalan satu tahun, lokasi yang jauh dari permukiman dan medan yang sulit, membuat petugas sedikit mengalami kendala mencapai ke lokasi.

“Sekitar satu tahun lebih keberadaan tambang, tempat cukup jauh dan medannya juga sulit, saat ini untuk saksi masih berlangsung pemeriksaannya. Pemilik lokasi sementara dalam pengejaran, ada sekitar 5 orang pemilik lokasi tambang ilegal itu,” kata Ery kepada wartawan di Mapolda Aceh, Selasa (10/3/2020).

Ery menerangkan, ada tujuh unit escavator yang diamanakan, satu unit asbuh yang digunakan untuk memisahkan pasir dan bebatuan hasil kerukan, timbangan digital dan alat lainnya yang digunakan para penambang untuk menndapatkan emas secara ilegal.

Lebih Lanjut dikatakan Ery, pemilik lokasi tambang tanpa izin itu berjumlah 5 orang, yang beroperasi di Desa Tungkop yaitu AH, AN, DN dan di Desa Geudong AN dan KH. Tim yang dibentuk Polda Aceh kini masih melakukan pengejaran terhadap mereka yang diduga sebagai tersangka.

“Dari pemilik ini kita amankan escavator yang diduga sebagai tersangka pada saat di lokasi melarikan diri, tim sedang melakukan pengejaran, tersangka yang melarikan diri dan diminta untuk segera menyerahkan diri, upaya yang sudah dilakukan saat ini memeriksa saksi, kasusnya sudah masuk tahap penyelidikan, jika sudah lengkap akan segera dikirimkan ke JPU,” Lanjut Ery.

Para penambang ilegal tersebut dikenakan Undang-undang tentang Mineral dan Batubara (Minerba). Sejauh ini, sebut Ery, belum ditemukan adanya keterlibatan oknum aparat tertentu dalam aktivitas tambang ilegal ini.

Untuk penampung dari hasil tambang liar juga akan dipanggil, apabila mencukupi bukti akan diingkatkan statusnya menjadi tersangka.

Kabarnya, alat berat yang dipakai para penambang merupakan alat rental dari orang lain, pihak polisi yang mengacu pada UU Minerba tetap menyita escavator tersebut sebagai bukti hingga sudah ada keputusan hukum tetap dari pengadilan.

Bukan hanya itu, dalam memuluskan kegiatan Ilegal Minning tadi, kerab adanya pihak ketiga yang menjadi pemasok kebutuhan aktivitas tambang, seperti bahan bakar minyak untuk alat berat. Polisi akan melakukan pengembangan terhadap kasus tersebut hingga mengungkap sampai ke akarnya.

“Kita akan mendalami alat ini dirental atau tidak, jika pun dirental dalam UU minerba alat ini harus disita sampai proses selesai. Kalau ada penampungnya nanti akan kita panggil sesuai prosuder untuk diperiksa, jika ada mencukupi bukti akan ditingkatkan statusnya jadi tersangka,” ungkap Ery.***

 

Komentar

Loading...